Pelajaran dari Gajah yang Terikat hanya dengan Seutas Tali

Standard

20110924-104747.jpg

Gajah adalah hewan mamalia yang lembut tetapi juga sangat besar tenaganya. Seekor gajah jantan memiliki kekuatan yang mampu untuk menumbangkan sebuah pohon dan mengangkat batang kayu gelondongan hanya dengan menggunakan belalainya. Tetapi ada satu hal yang mengejutkan yaitu tidak adanya kandang untuk mengurung gajah. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang, dan harimau, tetapi tidak pernah kita menjumpai adanya kandang yang dibuat untuk mengurung gajah.

Bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatnya untuk melarikan diri? Yang para pawang gajah lakukan hanyalah mengikat seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah lalu mengikatnya ke sebuah batang yang telah ditancapkan ke tanah. Sekali kakinya sudah terikat maka ia tidak akan berani untuk mencoba melarikan diri. Menurut Anda, apakah gajah tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Oh, tentu saja dia sangat mampu, kekuatannya saja dapat menumbangkan sebuah pohon. Tetapi mengapa dia tidak dapat memutuskan tali tipis yang melingkar di kakinya?

Jawaban yang saya dapatkan dari para pawang gajah adalah dengan membiarkan gajah-gajah tersebut memiliki kepercayaan sejak awal bahwa mereka tidak akan pernah bisa untuk memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak mereka kecil, ketika seekor bayi gajah baru lahir dan tentunya masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri. Mereka (para pawang gajah) mengikat salah satu kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah dengan seutas tali. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba untuk berlari menuju induknya, ia tidak akan dapat memutuskan tali tersebut.

Ketika ingin melarikan diri, tali itu akan menggenggam erat kaki gajah yang masih kecil tersebut, dan dia akan jatuh di atas tanah. Tidak jera dengan hal tersebut, sang gajah akan berdiri dan mencoba kembali. Dia akan berusaha berlari menuju induknya, hanya untuk mendapatkan situasi kaki yang tetap terikat, dan badan yang terentak jatuh ke tanah. Setelah mengalami kesakitan akibat jatuh yang berulang-ulang, suatu ketika sang gajah tidak akan berusaha menarik rantai lagi untuk melepaskan diri. Pada saat itu terjadi, para pawang tahu bahwa gajah tersebut telah terkondisi untuk percaya bahwa dia terperangkap di sepanjang hidupnya.

Saya benar-benar tertarik sekali dengan cerita sang pawang gajah, dan ketika saya menyaksikan bagaimana mahluk yang kuat ini diamankan hanya dengan rantai tipis, yang seharusnya dapat dengan mudah diputuskan oleh sang gajah. Analogi cerita di atas adalah saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang saya temui setiap hari mengalami “keterperangkapan” yang sama dengan keterbatasan keyakinan mereka. Mereka memiliki kebiasaan kurang baik, yang sebenarnya dengan mudah mereka dapat merubahnya, namun mereka tidak pernah melakukannya.

Sebagai manusia, kita memiliki berbagai macam potensi untuk mendapat mimpi apapun yang kita inginkan: Dari menjadi seorang jutawan sampai menjadi orang yang dapat membuat “perbedaan” di dunia. Namun, cukup banyak dari mereka yang “sama seperti gajah tersebut”, tidak berani mengambil tindakan untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Banyak yang ragu-ragu, bahwa sebenarnya mereka dapat melakukannya. Mereka kuatir bahwa yang dilakukan akan mengalami kegagalan total.

Bisa jadi sewaktu muda, mereka memiliki pengalaman “gagal dan jatuh” berkali-kali sama seperti pengalaman dari bayi gajah tersebut. Mungkin sewaktu muda, orang tua mereka mengatakan malas, bodoh dan tidak akan pernah mendapatkan keberhasilan. Mungkin teman-teman mereka menjuluki si “kuper” yang tidak akan dapat mengikuti perkembangan jaman. Mungkin guru mereka pernah mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah dapat melakukan apa-apa di sepanjang hidupnya.

Sebagai hasil dari keadaan masa lalu, orang-orang ini akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun. Sama seperti gajah kecil, mereka berpikir, “Bila aku tidak dapat melakukannya di masa lalu, bagaimana mungkin aku dapat melakukannya di masa sekarang? Di masa lalu aku adalah seorang yang pemalas, jadi bagaimana bisa menjadi pekerja keras? Di masa lalu aku tidak percaya diri, bagaimana mungkin dapat menjadi percaya diri? Di masa lalu aku tidak dapat berbicara dengan baik, bagaimana dengan sekarang?”

Apa yang tidak dilihat oleh orang-orang ini adalah bahwa: Masa lalu tidaklah sama dengan masa depan. Mereka tidak menyadari sama seperti yang dialami oleh gajah tersebut, bahwa sebenarnya mereka bukanlah “orang yang sama” lagi. Sang gajah tidak menyadari, bahwa di masa lalu dia tidak memiliki kekuatan seperti yang dia miliki sekarang. Saya ingin Anda tahu bahwa setiap hari Anda akan bangun dari tidur Anda, menjadi “orang yang berbeda”, berjalan bersama dengan Tuhan dan hikmat-Nya, menjadi orang yang semakin bertambah dalam hal ilmu, pengalaman dan menjadi lebih bijaksana.

Bila Anda telah membiarkan keyakinan dan kebiasaan yang lama “merantai” diri Anda, bukankah sudah saatnya Anda menggunakan tenaga dan kemauan Anda sekarang untuk melepaskan diri dari “penjara ketidakmampuan” dan melangkah menuju kebebasan, sukses dan kemapanan yang memang berhak kita dapatkan? Jalani itu semuanya bersama dengan Tuhan yang memberikan kita hikmat, keberhasilan, dan keberuntungan di dalam hidup ini.

“Jika Anda membatasi pilihan hanya pada apa yang tampaknya mungkin atau masuk akal, Anda telah melepaskan diri dari apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan dan yang tertinggal hanyalah kompromi dan keterpaksaan” – Robert Fritz –

Disadur dari email bro Daniel, di milis SITYB..
Pernah dimuat di Buletin Phos edisi November 2012..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s