Membangun Jembatan Kasih

Standard

20110925-102852.jpg

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).

Bapak A dan bapak B adalah dua orang bersaudara yang membangun rumah besar secara berdampingan di tanah yang sangat luas. Selama empat puluh tahun mereka hidup dalam kerukunan. Namun, pada suatu hari hubungan mereka terputus karena kesalahpahaman yang tidak dibereskan. Pada suatu pagi, ada seorang pria yang datang dan mengetuk pintu rumah bapak A, “Tuan, perkenalkan, saya adalah seorang tukang kayu yang sedang membutuhkan pekerjaan. Jika Tuan berkenan memberi saya pekerjaan maka saya akan bekerja dengan baik,” kata pria itu.

“Hm.. Ya, saya mempunyai pekerjaan untukmu,” jawab bapak A, sambil mengajak sang tukang kayu tersebut ke halaman rumahnya dan menunjukkan hamparan halamannya yang luas. “Kau lihat rumah yang di sana? Itu adalah rumah tetanggaku yang sebenarnya adalah adik kandungku. Beberapa waktu yang lalu dia membuat danau yang memisahkan tanahku dengan tanahnya. Aku tidak mengerti untuk apa dia dia membangunnya, mungkin untuk mengejekku, namun aku akan membalasnya dengan menggunakan keahlianmu.”

“Di sana ada banyak kayu milikku. Aku ingin engkau membangun pagar yang sangat tinggi sehingga aku tidak lagi melihat rumahnya itu. Aku ingin melupakannya.” “Saya mengerti maksud Tuan. Tolong belikan saya paku dan beberapa material, saya akan membuat hati Tuan senang,” jawab sang tukang kayu itu.

Setelah itu sang tukang kayu mulai bekerja keras sepanjang hari. Dan, ketika sore harinya saat bapak A memeriksa pekerjaan sang tukang kayu, emosinya segera naik melihatnya bukannya membangun pagar yang sangat tinggi, tetapi malah mendirikan jembatan yang sangat indah untuk menghubungkan kembali tanah miliknya dengan adiknya. “Mengapa engkau malah membangun jembatan di atas danau yang memisahkanku dengan adikku?” katanya dengan geram.

Sementara itu dari seberang, tampak terlihat bapak B berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri bapak A. Melihat hal itu, bapak A pun berjalan melalui jembatan tersebut, sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah pertengkaran. Setelah mendekat, bapak B berkata, “Kakakku, engkau sungguh baik sekali mau membangun jembatan ini, padahal sikap dan ucapanku selama ini pasti telah menyakiti hatimu. Maafkan aku, ya kak..”

Mendengar perkataan bapak B, luluhlah sudah “rasa panas” yang berada di hati bapak A, yang sebenarnya sangat merindukan kehadiran bapak B. Dengan segera dia menyambut kerendahan hati adiknya dengan sebuah pelukan hangat sebagai tanda mau untuk mengampuni dan berdamai. Melihat pemulihan yang terjadi itu, sang tukang kayu bergegas memohon diri untuk pergi, dan ketika dia diminta untuk tinggal selama beberapa hari bersama mereka, dia menjawab, “Sesungguhnya saya ingin tinggal di sini lebih lama, tetapi masih banyak jembatan di tempat lain yang harus saya bangun.”

Adakah “jembatan kasih” dengan orang tua, anak, kakak, adik, mertua, menantu, teman, sahabat atau tetangga kita sedang terputus? Sebagai orang yang lebih dewasa karakternya dan telah mengenal firman Tuhan, baiklah kita yang terlebih dahulu “membangun jembatan” itu. Tanggalkan harga diri yang semu dan kesombongan yang membatasi hidup kita untuk berbuat kebaikan. Segeralah berdamai, karena berkat Tuhan dapat terhambat jika kita tidak hidup dalam kerukunan dan perdamaian dengan sesama kita (Mazmur 133).

Disadur dari berbagai sumber..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s