Milikku yang Paling Berharga adalah Kamu

Standard

20110927-070212.jpg

Aku sangat menyukai ucapan mama: “Milikku yang paling berharga adalah kamu!” Ucapan yang sangat menyejukkan hati dan sampai sekarang aku masih mengingatnya.

Papa dan mama menikah karena dijodohkan oleh orang tua, demikianlah yang dialami para muda-mudi di zaman itu, tetapi hal ini sudah umum. Kalau pun ada di zaman sekarang, peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Tetapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dengan papa yang tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang “badai”, dan badai itu nyaris memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja. Papa dan mama bekerja di instansi yang sama, oleh karena itu setiap hari mereka berangkat kerja dan pulang secara bersama-sama.

Pada suatu hari mereka bekerja lembur, mengadakan stock opname di gudang, hingga pukul 02.00 dini hari baru pulang ke rumah. Papa sangat letih dan lapar, sesampainya di rumah tidak ada makanan mau pun minuman yang tersaji. Papa yang lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini, emosi mama memang sedang tidak stabil, ditambah lagi dengan adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehingga dengan kondisi yang labil itu, mama spontan menjawab dengan nada keras, “Mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?”

Karena papa juga terlalu capek, dia langsung menjawab dengan acuh tak acuh, “Kamu ini istriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu!” Mama pun langsung merespon, “Tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya untuk makan malam, jadi laki-laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!” Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dengan emosi, “Kamu salah makan obat apa sih kemarin? Mau sengaja cari ribut ya? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak senang ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!”

Mama tidak menyangka akan mendapat reaksi yang begitu keras. Setelah terdiam sesaat mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, “Kamu ingin aku pergi? Baik, aku akan pergi sekarang!” Mama segera kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yang membelakanginya, “Bagus! Pergi sana! Ambil semua barang-barangmu dan jangan pernah kembali lagi!”

Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang muncul. Menit demi menit berlalu, tetapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul masuk ke dalam kamar dan melihat mama sedang duduk di atas ranjang penuh dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yang masih tergeletak di atas ranjang. Melihat papa datang, dengan terisak-isak mama berkata, “Duduklah di atas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa-masa perpisahan kita yang terakhir.”

Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, “Untuk apa?” Sambil menangis dengan terputus-putus mama berkata, “Emas dan perak aku tidak memilikinya, tapi milikku yang paling berharga adalah kamu! Hanya kamu dan anak-anakku, aku tidak memiliki apa pun lainnya..”

Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tetapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang. Sejak kejadian pada malam itu, papa telah diubah dan telah menjadi sangat hormat dan sayang kepada mama. Menggandeng tangan anak-anak, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan. Kelak aku juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yang baik seperti papa.

Kehidupan apapun yang kita jalani ini, itu tidaklah seberapa penting; tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup ini, terutama di saat-saat “badai kehidupan” itu muncul. – Unknown

Disadur dari email bp. Pdt. Bambang Susanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s