Dendam Positif

Standard

20110927-105017.jpg

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, pada akhir tahun 1940-an, ada seorang remaja pegawai rendahan yang mengalami kehausan dan bergegas mencari air dingin untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan dengan ber-segera untuk mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia meminumnya, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan, “Hei, kamu tidak boleh meminum air ini. Kamu cuma seorang pekerja rendahan, dan air ini hanya khusus untuk diminum oleh seorang insinyur”.

Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam saja sambil menahan haus. Ia tahu bahwa ia hanyalah seorang anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalau pun ada pendidikan yang dapat dibanggakan, ia hanyalah berasal dari lulusan salah satu lembaga lokal, tetapi keahlian itu tidak ada manfaatnya di perusahaan minyak yang pada saat itu masih dikendalikan oleh manajemen dari pihak luar negeri.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya, “Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untukku? Apakah karena aku seorang pekerja rendahan, sedangkan mereka adalah insinyur? Apakah kalau aku menjadi seorang insinyur aku dapat meminumnya? Apakah aku dapat menjadi insinyur seperti mereka?” Pertanyaan ini selalu tengiang dalam dirinya.

Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan “Dendam Positif” di dalam dirinya. Remaja miskin itu bekerja keras selama siang hari dan melanjutkan sekolah pada malam hari. Hampir setiap hari ia kekurangan tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat pihak perusahaan memberi kesempatan kepadanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika, mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah berhasil “menaklukkan dendamnya”, kembali ke negaranya sebagai insinyur dan dapat meminum air yang dahulu dilarang baginya. Tetapi apakah berhenti sampai di situ saja? Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar setiap ketinggalan. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum, sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal pada saat itu.

Ada satu kejadian menarik ketika ia menjabat menjadi wakil direktur. Insinyur yang dulunya pernah mengusirnya, kini justru sudah menjadi bawahannya. Suatu hari insinyur ini datang menghadap karena hendak meminta ijin untuk berlibur dan berkata, “Saya ingin mengajukan ijin liburan. Saya berharap agar Anda tidak mengaitkan “kejadian air” di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Saya berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan saya di masa lalu”.

Lalu apa jawab sang wakil direktur, mantan dari pekerja rendahan ini? “Saya justru yang ingin berterimakasih kepada Anda dari lubuk hati yang terdalam, karena melarang saya untuk meminum air pada saat itu. Ya. Dulu saya memang sangat membenci Anda. Tetapi sekarang, atas ijin-Nya, Andalah penyebab kesuksesan saya, sehingga dapat meraih kesuksesan sampai seperti ini”.

Kini “Dendam Positif” lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya berhenti sampai disini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia berhasil menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukah Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan dari bangsa Arab Saudi semakin dominan.

Kini perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya tersebut, ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia. Tahukah Anda kisah siapa ini? Ini adalah kisah dari Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai pada saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral dari negara Arab Saudi.

Terbayangkah Anda, hanya dengan “mengembangkan hinaan” menjadi “Dendam Positif”, isu “air segelas di masa lalu” dapat membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Itulah kekuatan dari “Dendam Positif”. Kita tidak dapat mengatur bagaimana orang lain akan berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan yang akan menimpa kita. Tetapi kita sepenuhnya masih memiliki kendali bagaimana untuk menyikapinya. Apakah Anda ingin hancur karenanya? Ataukah Anda mau bangkit dengan semangat “Dendam Positif”?

Disadur dari buku: “Dendam Positif”
Karya: Isa Alamsyah dan Asma Nadia.
Dengan editan seperlunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s