Nilai Kehidupan

Standard

20110929-113140.jpg

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidupnya sebatang kara. Dia memiliki pendidikan yang rendah dan hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walaupun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti untuk apa sebenarnya dia hidup di dunia ini. Setiap hari yang dia lewati hanyalah untuk bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Dia hidup hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan dia akan meninggal dunia. Pemuda itu merasa hampa, putus asa dan tidak memiliki arti hidup. “Daripada tidak tahu tujuan hidup untuk apa dan hanya menunggu kapan aku meninggal dunia, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya di dalam hati. Lalu, disiapkannya seutas tali dan dia berniat untuk menggantung dirinya di batang sebuah pohon yang lebat.

Pohon pertama yang dituju saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela dengan lembut dan bijaksana. “Wahai anak muda yang tampan dan baik hati, tolong janganlah menggantung dirimu di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain yang tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih dari si pohon, “Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika mau berniat untuk gantung diri, silakan pindah ke tempat yang lain saja. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras, tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”

Sekali lagi tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata-kata yang dia dengar pun tidak jauh berbeda, “Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan meninggal di sini.”

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohon pun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”. Segera timbul kesadaran baru dalam hati pemuda ini. “Aku manusia; usiaku masih muda, kuat dan masih sehat. Tidaklah pantas jika aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan bekerja dengan baik untuk dapat bermanfaat bagi makhluk lain”. Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita akan menjalani hidup ini (dengan) terasa beban yang berat. Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita setiap hari dengan penuh optimisme, penuh dengan harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan siapapun. Janganlah “melayani” perasaan yang negatif. Biasakan memelihara pikiran, sikap, dan tindakan yang positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan rasa syukur di hati, semangat, dan sukses luar biasa!

Sumber: andriewongso.com
Disadur dari tulisan di Facebook Regina Kim
Dengan editan seperlunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s