Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua, Bagian Kedua

Standard

Pentingnya Ayah dan Ibu

Tidak peduli apa yang dikatakan oleh “pengasuhan bebas gender (jenis kelamin)”, ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda dalam mengasuh anak. Para ibu cenderung: Menggunakan bahasa verbal, menekankan keamanan dan kewaspadaan pribadi, menjadi figur yang lebih kuat dan mendatangkan rasa nyaman. Sementara para ayah: Menggunakan bahasa lebih ke arah fisik, lebih menantang dalam hal pencapaian prestasi, kemandirian, dan pengambilan resiko, serta lebih sering membuat dan memaksakan aturan-aturan untuk mengarahkan perilaku anak-anak mereka.

Fakta bahwa ayah dan ibu memiliki peran pengasuhan yang berbeda bukan berarti bahwa satu kelompok melakukannya “dengan benar” atau “lebih baik” daripada yang lain. Apa yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk mengembangkan karakternya yang baik adalah kombinasi dari seluruh keseimbangan pengasuhan yang dibawa oleh ayah dan ibu.

Riset selama berpuluh-puluh tahun telah menunjukkan bahwa “gaya mengasuh” yang membolehkan segala sesuatu tidak akan memberikan hasil yang baik. Anak-anak lelaki dan perempuan memerlukan pengasuhan (dengan menunjukkan kasih) yang tingkatnya tinggi yang diseimbangkan dengan pengendalian yang tingkatnya tinggi pula. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga-keluarga yang mempunyai gabungan keseimbangan ini lebih ramah, enerjik, dan berperilaku lebih baik.

Mereka yang dibesarkan oleh ibu tunggal, mempunyai sikap yang hangat dan penuh kasih sayang, tetapi mengalami kesulitan untuk belajar disiplin diri. Sebaliknya, mereka yang dibesarkan oleh ayah tunggal bersikap taat, tetapi seringkali diliputi oleh rasa kecemasan dan rasa tidak aman. Poinnya adalah bukan memaksakan suatu pilihan antara peran pengasuhan ayah atau ibu, tetapi menyarankan bahwa mereka akan membuahkan hasil yang terbaik apabila bekerja bersama-sama. Anak-anak tidak membutuhkan “pengasuh” yang tidak manusiawi. Mereka membutuhkan ayah dan ibu yang mengasihi mereka.

Para ayah juga penting bagi sosialisasi yang memadai dari anak-anak karena mereka mengajar dengan memberi contoh tentang bagaimana menahan dorongan-dorongan negatif. Melalui pengamatan tentang bagaimana ayah mereka mengatasi perasaan frustasi, kemarahan, dan kesedihanlah, anak-anak lelaki akan belajar tentang bagaimana seharusnya laki-laki menghadapi emosi-emosi semacam itu. Bagaimana para ayah memperlakukan ibu mereka, anak-anak lelaki akan belajar bagaimana seharusnya pria memperlakukan kaum wanita. Jika ayah memperlakukan ibu dengan rasa hormat dan respek, maka kemungkinan anak-anak lelaki mereka akan bertumbuh untuk memperlakukan kaum wanita dengan hal yang sama.

Para ayah juga penting dalam perkembangan kesehatan emosional anak-anak perempuan. Jika anak-anak perempuan mendapatkan kasih, perhatian, dan perlindungan dari para ayah, maka kemungkinan mereka akan menahan godaan untuk mencari hal-hal seperti itu di tempat lain–yang sering kali melalui hubungan seksual di usia yang masih sangat muda. Akhirnya, para ayah berperan penting dalam membantu anak-anak membuat transisi yang sulit menuju ke dunia orang dewasa. Anak-anak lelaki membutuhkan penguatan bahwa mereka “cukup jantan”. Sedangkan, anak-anak perempuan membutuhkan penguatan bahwa mereka “cukup berarti”.

Bersambung ke “Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua, Bagian Ketiga”

Disadur dari artikel “Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua”
Ditulis oleh Dr. Wade F. Horn, Ph.D.
Dari buku Kiat Orang-Orang Sukses
Halaman 196-199

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s