Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua, Bagian Pertama

Standard

Pada tahun 1960, jumlah anak-anak yang hidup di tengah keluarga-keluarga tanpa ayah tidak lebih dari delapan juta anak. Sekarang ini, jumlah itu telah meningkat hingga mencapai 24 juta anak. Hampir empat dari sepuluh anak-anak di Amerika dibesarkan di rumah tanpa ayah mereka dan angka itu kemudian meningkat menjadi enam berbanding sepuluh. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa begitu banyak anak-anak bangsa kita bertumbuh tanpa ayah sepenuh waktu? Itu karena kebudayaan kita telah menerima ide bahwa ayah tak berguna–dengan kata lain, mereka tidak penting dalam keluarga “modern”.

Tentu saja, setiap ide ada konsekuensinya. Dan konsekuensi dari ide-ide ini sama parahnya dengan malapetaka yang ditimbulkannya. Hampir 75 persen anak-anak Amerika yang tinggal di rumah tangga tanpa ayah mengalami kemiskinan sebelum usia sebelas tahun, bandingkan dengan hanya 20 persen dari mereka yang dibesarkan oleh dua orang tua. Anak-anak yang tinggal di rumah yang tidak ada ayahnya, kemungkinannya lebih besar untuk dikeluarkan atau drop out dari sekolah, mempunyai masalah emosional dan perilaku, melakukan bunuh diri, dan merupakan korban kekerasan atau pengabaian anak. Para prianya juga kemungkinan besar menjadi pelaku kriminal. Fakta yang ada saat ini, para pria yang dibesarkan tanpa ayah pada saat ini mewakili 70% populasi penjara yang dijatuhi hukuman jangka panjang. Tak dapat disangkal, ayah penting bagi keberadaan anak-anak.

Proses Sosialisasi

Sosialisasi dapat didefinisikan sebagai proses yang olehnya individu-individu mendapatkan perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang tidak hanya dianggap sebagai hal yang diinginkan dan tepat oleh masyarakat, tetapi yang juga telah berhasil lolos dalam ujian waktu dan terbukti paling beradab. Anak-anak yang sosialisasinya baik: Telah belajar untuk tidak menyerang orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, telah belajar untuk menaati arahan-arahan dari otoritas resmi seperti orang tua dan guru-guru, serta telah belajar untuk bekerja sama dan berbagi dengan orang lain. Sementara, anak-anak yang sosialisasinya kurang baik, tidaklah demikian.

Banyak dari apa yang disebut sebagai “karakter yang baik” atau “kebajikan” mencerminkan kemampuan untuk menunda atau mencegah dorongan kepuasan. Ketika seorang anak mengutarakan kebenaran, walaupun ia tahu bahwa kejujurannya akan mendatangkan konsekuensi, ia sedang mencegah dorongan untuk berbohong untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Ketika ia menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, ia sedang mencegah dorongan untuk bersikap mementingkan diri sendiri.

Sebuah masyarakat sipil tergantung pada warga-warga yang berbudi luhur, dan yang dapat mengendalikan perilaku mereka dengan sukarela. Ketika keluarga gagal dalam tugas mereka untuk mensosialisasi anak-anak, maka tidak mungkin akan terbentuk sebuah masyarakat sipil. Di sinilah letaknya tanggung jawab yang mengagumkan dari pengasuhan oleh orang tua.

Orang tua mensosialisasi anak-anak melalui dua mekanisme. Yang pertama adalah mengajarkan melalui pengajaran langsung yang diperkuat dengan tindakan gabungan antara memberi upah dan hukuman atas perilaku yang dapat diterima dan yang tidak. Yang kedua adalah mengajar melalui teladan atau contoh. Anak-anak kemungkinan lebih besar akan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua mereka daripada sesuai dengan yang diucapkan oleh orang tua mereka. Inilah sebabnya mengapa orang tua yang suka berbohong dan menipu cenderung akan membesarkan anak-anak yang suka berbohong dan menipu, walaupun pengajaran langsungnya tidak mengajarkan hal tersebut. Benjamin Franklin pernah mengatakan, khotbah terbaik adalah teladan terbaik.

Orang tualah yang diperlukan, dan ini berarti ayah dan ibu. Tentu saja, ada ribuan ibu tunggal yang mengasuh dengan baik dan melawan hal-hal yang tidak wajar. Saya tidak bermaksud mengecilkan usaha-usaha mereka. Namun, ada banyak bukti yang mengungkapkan bahwa ketika ayah tidak ada, anak-anak lelaki cenderung mengembangkan perilaku yang buruk. Mereka “menunjukkan” dorongan-dorongan yang agresif–kadang kala dengan agak kasar–terhadap orang lain. Anak-anak perempuan juga cenderung bersikap berlebihan jika tidak memiliki ayah, tetapi dengan cara yang berbeda; mereka menjadi pemberontak dan bergaul tanpa batas.

Bersambung ke “Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua, Bagian Kedua”

Disadur dari artikel “Mengapa Tidak Ada Pengganti bagi Orang Tua”
Ditulis oleh Dr. Wade F. Horn, Ph.D.
Dari buku Kiat Orang-Orang Sukses
Halaman 193-196

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s