Ketika Kita Menghadapi Kegagalan

Standard

Ketika sesuatu berjalan tidak seperti yang kita harapkan, saat semuanya menjadi serba salah atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami yang kita lakukan adalah mencari seseorang yang dapat kita persalahkan. Hal ini sudah terjadi sejak kejadian di Taman Eden. Ketika manusia pertama kali melakukan dosa, Adam menyalahkan Hawa, dan Hawa pun menyalahkan ular (Kejadian 3:8-13).

Apabila seorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi di luar kendali kekuasaannya.

Kita akan lebih cepat berkembang apabila kita tidak memiliki kebiasaan untuk melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Ketika kita gagal, kita harus belajar untuk memikirkan mengapa kita gagal dan bukannya siapa yang patut dipersalahkan akibat kegagalan kita. Memandang setiap situasi dengan objektif supaya di lain kesempatan, kita dapat membuat kehidupan yang jauh menjadi lebih baik. Bob Biehl memberikan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan yang kita alami:

1. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kegagalan tersebut?
2. Apakah kita masih dapat berterima kasih (mengucap syukur) atas pengalaman yang dialami? Sebab, segala sesuatu terjadi karena ada alasannya tersendiri (everything happens for a reason).
3. Siapa lagi selain kita yang telah mengalami kegagalan seperti ini sebelumnya? Dan, apa yang dilakukan oleh orang tersebut ketika menghadapi permasalahannya, sehingga dapat menolong dan memotivasi kita?
4. Apakah kita gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena sikap kita sendiri yang memiliki sikap yang kurang baik?
5. Apakah kita benar-benar gagal, atau jangan-jangan kita mengejar “standar” yang terlalu tinggi?

Orang yang pekerjaannya hanyalah menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka, tidak akan pernah dapat mengatasi permasalahannya. Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Allah, kita harus terus memperbaiki diri, selama kita masih hidup. Sebab hidup ini adalah kesempatan bagi kita untuk terus belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan, kita tidak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas setiap dari perbuatan kita, serta belajar dari kesalahan tersebut (mengambil hikmah yang terbaik).

Saat kita berbuat kesalahan dan gagal: Tanyakan mengapa, dan bukan siapa yang salah. Hal ini bertujuan supaya kita dapat mempelajari mengapa kita mengalami kegagalan, dan di kemudian hari kita dapat menghindari hal yang serupa agar tidak terjadi hal yang sama lagi di dalam kehidupan setiap kita. Tuhan memberkati.

Disadur dari Copy Paste BBM bro Gosal Yonny Tanjones..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s