Kekudusan, Bagian Kedua

Standard

Dia menatap mata saya dan berkata, “Saya akan mengatakan kepada Anda alasannya.. Jika Anda memiliki waktu untuk mendengarkan saya.”

Tentu saja saya memiliki waktu untuk mendengarkannya sehingga akhirnya dia melanjutkan ceritanya: “Setiap hari Jumat ibu saya menghadiri kebaktian mujizat Anda di Gereja First Presbitarian di Pittsburgh, dan setiap hari Jumat adalah hari dia berpuasa. Setiap hari Jumat pagi, dia selalu membuat seluruh anggota keluarga menderita sehingga kami benci untuk berkumpul bersama untuk makan pagi di ruang makan. Saya membenci hari Jumat! Ayah membenci hari Jumat! Adik perempuan dan adik lelaki saya juga benci ketika hari Jumat tiba karena kami tahu bahwa ketika kami duduk di meja makan untuk sarapan pagi, ibu akan bergabung dengan kami dengan raut muka yang muram.

Dia tetap akan menuangkan kopi untuk ayah. Dia akan membuatkan telur, roti bakar dan sereal untuk kami. Tetapi dia akan melakukannya dengan wajah muram dan dengan gerakan yang mengingatkan kami bahwa dia sedang berpuasa padahal dia ingin sarapan pagi juga. Tetapi pengabdiannya mengharuskan dia untuk berpuasa. “Lalu, dia akan menuangkan kopi kedua ayah dengan sedikit khotbah mengenai puasa. Nona Kuhlman, demi keluarga kami, bisakah Anda tidak mengajarkan mengenai puasa dalam khotbah Anda?”

Saya merangkul gadis muda itu dan berkata, “Sayangku, saya tidak bisa untuk tidak mengajarkan sesuatu yang memang ada dalam Alkitab. Tetapi ibu kalianlah yang harus menemukan sukacita dalam berpuasa. Ketika berpuasa menjadi sesuatu yang membosankan dan tidak lebih dari sekadar kewajiban dan sesuatu yang formal, maka puasa itu akan kehilangan tujuannya. Ibumu lebih baik duduk di meja makan pada Jumat pagi dan memakan dua butir telur daripada satu telur, karena baginya, puasa tidak lebih dari suatu kewajiban dan formalitas. Sukacita yang sejati telah hilang dari pengorbanannya itu dan dia hanya sedang membuatnya menjadi suatu beban bagi keluarganya dan menjadi sesuatu yang mereka benci di sepanjang hidup mereka.”

Anggaplah ini sebagai suatu peringatan yang diberikan dalam kasih: jika keluarga Anda tidak lagi menganggap rumah mereka menjadi sesuatu yang tenang, maka itulah saatnya bagi Anda untuk menyelidiki hati dan hidup Anda. Saya berbicara kepada anak-anak Allah yang mengakui hal-hal rohaniah. Ingatlah selalu: rumah seorang pria seharusnya menjadi istananya; dan setiap pria yang memiliki keluarga seharusnya bahagia dan rindu untuk selalu pulang ke rumah, untuk menghabiskan waktunya bersama dengan istri dan anak-anaknya.

Dan tugas istri adalah menciptakan suasana damai, kehangatan dan kasih, sehingga menjadi rumah yang tenang dan nyaman yang membuat suami serta anak-anak bergegas pulang ke rumah. Jika anak-anak Anda lebih suka berada di rumah tetangga daripada di rumah mereka sendiri, maka mungkin ada sesuatu yang tidak beres dengan suasana kehidupan rumah mereka dan Anda adalah bijak untuk membawa masalah itu dalam doa.

Ketika saya masih kecil, saya menyukai kue ibu saya dibandingkan dengan kue lain yang dibuat oleh tetangga saya, meskipun saya tidak begitu yakin kue buatan ibu saya sebegitu enaknya. Dan saya masih sering teringat dengan permintaan maaf ibu saya karena roti panggang yang terlalu gosong buat ayah saya saat sarapan pagi. Dan ayah saya akan berkata, “Yah, Emma, tetapi saya lebih suka makan roti panggang gosong kamu daripada makan di tempat lain.”

Saya masih ingat kunjungan kami ke rumah Tante Belle. Tante Belle adalah saudara perempuan ibu saya, dan saya memberitahu Anda bahwa Tante Belle adalah orang yang suka pamer. Ketika kami pergi makan di rumah Tante Belle, meja makannya dipenuhi dengan segala macam makanan yang enak-enak. Dia akan menyiapkan beberapa jenis masakan daging dan ketika tiba saatnya makanan penutup, maka akan lebih dari sekadar kue kering dan pie. Dia selalu membuat makanan penutup lainnya. Tetapi izinkan saya membagikan sesuatu kepada Anda. Sehari sesudah kami mengunjungi rumah Tante Belle, ayah akan berkata kepada ibu saat mereka duduk di meja makan untuk makan malam, “Emma, saya lebih suka makan di rumah daripada di rumah Belle.”

Bersambung ke “Kekudusan, Bagian Ketiga (Selesai)”

Disadur dari buku “Menang karena Yesus”
Oleh Kathryn Kuhlman
Halaman 66-68

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s