Kekudusan, Bagian Pertama

Standard

Pembahasan ini adalah mengenai sesuatu yang jarang kita perhatikan. Saya rasa itu bukan karena kita tidak menyadari pentingnya hal tersebut, atau ada alasan lainnya; tetapi memang tidak diragukan lagi bahwa subjek itu layak untuk diperhatikan.

Seorang ibu muda Kristen duduk sambil membaca Alkitabnya. Dia terus menggunakan sebagian besar waktunya untuk membaca, mencari tahu lebih dalam lagi tentang Roh Kudus. Dia sangat rindu untuk menerima babtisan-Nya dan melalui firman Allah dia berusaha menemukan kunci untuk menerima berkat itu dari Allah. Dia menghabiskan banyak waktu berjam-jam untuk mencari dan meneliti Alkitab, sehingga pekerjaan rumah tangganya menjadi sesuatu yang melelahkan dan menjemukan dan pekerjaan itu dilakukan dengan terburu-buru atau seringkali diabaikan. Kedamaian, kehangatan dan rasa nyaman yang dulunya menjadikan rumah itu sebagai suatu tempat istirahat yang tenang bagi seluruh anggota keluarga, sekarang telah lenyap.

Pada suatu hari, saat dia sedang mempelajari Alkitabnya dengan konsentrasi penuh, putrinya yang masih kecil berjalan menghampirinya sambil membawa bonekanya yang rusak. Dia berkata, “Ibu tolong perbaiki boneka saya.” Dengan gerakan yang tidak sabar ibu itu menepis gadis kecil itu dan berkata, “Ada hal yang lebih penting yang sedang ibu lakukan daripada memperbaiki bonekamu. Pergilah dan bermainlah, sayang. Tidakkah engkau lihat ibu sedang sibuk membaca Alkitab?”

Gadis kecil itu menjauh dengan sedih dan ibu itu kembali melanjutkan pencariannya akan kekudusan. Tetapi pencariannya tidak membuahkan hasil dan pada akhirnya ibu itu menutup Alkitabnya dengan helaan nafas, dan dia mencari putrinya. Dia menemukan putrinya itu sedang tertidur dengan bonekanya di pelukannya. Sisa air mata masih membekas di wajah kecilnya yang cantik.

Saat itu juga Allah berbicara kepada ibu itu. Seketika itu juga hati ibu tersebut dijalari perasaan bersalah, dan dengan lembut dia membungkuk dan mencium putrinya itu. Sambil menggendong putrinya dalam pelukannya, ibu itu berdoa kepada Allah memohon pengampunan. Pada anaknya itu dia berkata, “Maafkan ibu, ya sayangku. Ibu akan memperbaiki bonekamu itu.”

Pada saat itu Allah menyingkapkan kepada ibu tersebut kenyataan bahwa kekudusan tidak akan dihasilkan dengan mengabaikan kewajibannya. Pengabdiannya kepada Allah dilihat dari kepeduliannya terhadap keluarganya, suaminya, putrinya, pekerjaan rumah tangganya; dan sekali lagi rumah itu menjadi sebuah rumah yang nyaman dan setiap lembar Alkitab disingkapkan dengan kemuliaan yang baru.

Ada kekudusan dengan menjadi seorang ibu yang baik. Ada kekudusan dengan menjadi seorang istri yang baik. Kekudusan juga berarti menjadi seorang suami yang baik. Anda tidak bisa berkata bahwa Anda ini sangat rohaniah dan mengikuti Tuhan dalam kekudusan jika Anda melupakan atau mengabaikan anak-anak Anda, jika Anda melupakan atau mengabaikan anak lelaki atau perempuan, suami, istri Anda. Saat ini saya sedang mengatakan sesuatu yang sangat praktis seperti halnya firman Allah. Jangan abaikan keluarga Anda. Jangan abaikan anak-anak Anda.

Anda adalah contoh hidup bagi mereka. Anda mungkin saja menjadi satu-satunya Alkitab yang sedang mereka baca sekarang ini. Dengan mengabaikan mereka, mereka akan kehilangan keyakinan pada Anda yang merupakan sesosok rohaniah dan ibu yang ilahi. Bertahun-tahun kemudian, mereka bisa mengacungkan jari tuduhan kepada Anda dan berkata terus-terang, “Kau sangat sibuk membaca majalah dan buku-buku rohani sehingga kau tidak pernah memiliki waktu untuk menjadi teladan Kristus atau ibu yang dipimpin oleh Roh bagi keluargamu.”

Saya ingat akan seorang anak perempuan yang datang kepada saya dan bertanya, “Nona Kuhlman, apakah Anda harus mengajarkan mengenai puasa? Apakah puasa itu ada dalam Alkitab? Karena puasa adalah hal yang membuat keluarga kami menjadi berantakan dan saya membencinya.” Saya menjawab, “Ya, puasa diajarkan dalam Alkitab. Puasa adalah sesuatu yang sangat Allah hargai; tetapi mengapa kamu sangat membenci puasa?”

Saya tidak siap untuk melihat respon di wajah gadis muda itu. Dia sangat tertekan dan benar-benar merasa gusar mendengar jawaban saya. Terlihat dengan jelas kalau dia memiliki alasan yang kuat untuk membenci “puasa”. Ketika dia menjawabnya, dia menjawabnya dengan penuh dendam. Saya bertanya kepadanya lebih lanjut, “Mengapa kamu sangat membenci puasa?”

Bersambung ke “Kekudusan, Bagian Kedua”

Disadur dari buku “Menang karena Yesus”
Oleh Kathryn Kuhlman
Halaman 63-65

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s