Tangkapan Paling Istimewa Seumur Hidup

Standard

Integritas adalah garis merah yang mempertahankan setiap prinsip lain dalam Kehebatan Sehari-Hari. Jika dianggap tidak jujur, misalnya, orang yang pemberani akan ditakuti dan dihindari. Jika dipandang sebagai tidak etis, orang yang menampilkan sikap dermawan akan dianggap dalang yang mementingkan diri sendiri. Jadi, tanpa landasan integritas, semua prinsip lain menjadi tidak ada artinya.

Orang yang penuh integritas adalah orang yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya, dan yang perilakunya mencerminkan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Kejujuran dan sikap mereka yang beretika dapat dipercaya tanpa ragu. Mereka menghormati komitmen. Mereka bisa diandalkan. Mereka dikenal sebagai orang yang melakukan hal-hal yang benar, dengan alasan yang benar, pada waktu yang tepat. Banyak contoh kisah tentang integritas yang menjadi buah bibir banyak orang, tetapi sering kali contoh yang paling nyata terjadi di balik layar secara diam-diam–di saat tidak ada orang lain yang melihat. Itulah yang terjadi pada kisah “Tangkapan Paling Istimewa Seumur Hidup.”

Tangkapan Paling Istimewa Seumur Hidup

Usianya baru sebelas tahun, dan setiap kali ada kesempatan, dia suka memancing dari dermaga di kabin keluarganya di sebuah pulau di tengah sebuah danau di New Hampshire.

Pada suatu hari, sebelum dimulainya secara resmi musim penangkapan ikan bass, dia dan ayahnya memancing di awal senja, menangkap sunfish dan perch (ikan air tawar) dengan umpan cacing. Kemudian, dia mengikat umpan perak kecil dan berlatih memancing. Umpan itu menerpa air dan menimbulkan riak keemasan di bawah sinar matahari yang sedang terbenam, kemudian berubah menjadi riak keperakan di saat bulan mulai terbit di atas danau. Ketika tangkai pancingnya melengkung berat, dia tahu bahwa ada sesuatu yang besar tersangkut di ujung pancingnya. Ayahnya mengamati dengan kagum ketika si anak lelaki itu dengan tangkas menangani ikan tangkapannya di sepanjang lantai dermaga.

Akhirnya, dengan hati-hati, dia berhasil mengangkat ikan yang kelelahan itu dari air. Ikan terbesar yang pernah dilihatnya, tetapi itu ikan bass. Si anak lelaki dan ayahnya mengamati ikan yang indah itu, insangnya bergerak-gerak di bawah sinar bulan. Si ayah menyalakan korek api dan melihat arlojinya. Sudah pukul 10.00 malam–dua jam sebelum musim penangkapan ikan bass dimulai. Dia melihat ke ikan itu, lalu ke anak lelakinya.

“Kau harus mengembalikannya, Nak,” katanya.
“Ayah!” teriak anak itu.
“Masih banyak ikan lain,” kata ayahnya.
“Tapi kan tidak sebesar yang ini,” teriak anak itu lagi.

Anak itu menengok ke seputar danau. Tidak ada pemancing atau perahu lain di sekitar mereka di bawah sinar bulan. Dia menoleh lagi kepada ayahnya. Meskipun tidak ada seorang pun melihat mereka, dan tak akan ada seorang pun yang tahu jam berapa dia menangkap ikan itu, si anak tahu dari suara tegas ayahnya bahwa keputusan itu tidak bisa diganggu-gugat. Perlahan-lahan dia melepaskan kailnya dari ikan raksasa itu, lalu menurunkannya ke dalam air yang hitam. Makhluk air itu mengayunkan tubuhnya dengan gesit dan langsung menghilang. Si anak yakin sekali bahwa dia tak akan pernah lagi bisa melihat ikan sebesar itu.

Kejadian itu terjadi tiga puluh empat tahun yang lampau. Sekarang si anak sudah menjadi seorang arsitek sukses di New York City. Kabin ayahnya masih ada di pulau itu di tengah danau. Si anak sering mengajak putra-putrinya memancing dari dermaga yang sama. Dan dia memang benar. Dia tak pernah lagi berhasil menangkap ikan sebesar yang pernah ditangkapnya pada malam itu, sekian tahun yang lampau. Tetapi, dia menyaksikan ikan yang sama—berkali-kali—setiap kali dia berhadapan dengan masalah etika.

Sebab, seperti yang telah diajarkan ayahnya, etika sebenarnya sederhana saja, membedakan antara yang benar dan yang salah. Mempraktikkan etika itulah yang sulit. Apakah kita bersedia berbuat benar jika tidak ada orang lain di sekitar kita? Apakah kita menolak melakukan pekerjaan dengan cepat, mudah, dan murah agar desain selesai tepat waktu? Atau menolak menjual saham berdasarkan informasi yang kita tahu tidak selayaknya kita punyai?

Kita akan melakukan semua hal etis itu jika kita diajari untuk mengembalikan ikan ke air ketika kita masih kecil. Sebab saat itulah kita belajar tentang sesuatu yang benar. Keputusan untuk berbuat benar meninggalkan kesan yang segar dan harum dalam benak kita. Kisah yang dengan bangga akan kita ceritakan kepada teman dan anak cucu kita. Bukan cerita tentang bagaimana kita berhasil mengelabui sistem dan memanfaatkannya, melainkan tentang bagaimana kita melakukan hal yang benar dan untuk selamanya menjadi kuat.

Tidak akan ada orang yang tahu tentang ikan itu jika duo ayah-dan-anak itu sepakat untuk menyimpan ikan tangkapannya atau mengubah jam di arlojinya. Bahkan, besar kemungkinannya hanya segelintir orang yang akan peduli tentang waktu penangkapan ikan itu seandainya hal ini diungkapkan ke publik. Jadi, satu-satunya tujuan nyata yang mengendalikan mereka malam itu bersifat internal. Yang berperan adalah tekanan dalam diri mereka untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang mereka anut, menghargai potensinya, dan menjaga kepercayaan di antara mereka. Mereka memilih tingkat integritas tertinggi, yang merupakan sumber sejati keamanan dan kepercayaan diri pribadi.

Disadur dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Artikel ditulis oleh James P. Lenfesty
Halaman 149-152

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s