Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Pertama

Standard

Catatan Penerbit

NLT: New Living Translation (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1996)
AITB: Mengutip dari Alkitab Indonesia Terjemahan Baru
TEV: Today’s English Version (New York: American Bible Society, 1992)
Msg: The Message Colorado Springs (Navpress, 1993)
FAYH: Mengutip dari Firman Allah Yang Hidup
AMP: The Amplified Bible (Grand Rapids: Zondervan, 1965)

“Karena kita dipulihkan ke dalam persahabatan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya sementara kita masih menjadi musuh-musuh-Nya, kita pasti akan dibebaskan dari hukuman kekal melalui kehidupan-Nya” (Roma 5:10 NLT)

Allah ingin menjadi Sahabat yang baik bagi Anda. Hubungan Anda dengan Allah memiliki banyak aspek berbeda: Allah adalah Pencipta dan Pembuat Anda, Tuhan dan Pemimpin, Hakim, Penebus, Bapa, Juruselamat dan banyak lagi (Mazmur 95:6; 136:3; Yohanes 13:13; Yudas 1:4; 1 Yohanes 3:1; Yesaya 33:22; 47:4; Mazmur 89:26 AITB). Tetapi kebenaran yang paling mengejutkan adalah: Allah yang Mahakuasa ingin menjadi Sahabat Anda!

Di taman Eden kita melihat hubungan ideal antara Allah dengan kita: Adam dan Hawa menikmati persahabatan yang mesra dengan Allah. Tidak ada ritual, upacara, atau agama, hanya hubungan kasih yang sederhana antara Allah dan umat yang Dia ciptakan. Tanpa dihalangi oleh rasa bersalah, atau takut, Adam dan Hawa bersuka di dalam Allah, dan Dia bersuka di dalam mereka. Kita dijadikan untuk hidup di dalam hadirat Allah terus menerus, tetapi setelah kejatuhan manusia dalam dosa, maka hubungan yang ideal tersebut lenyap.

Hanya beberapa orang dalam zaman Perjanjian Lama yang mendapatkan hak istimewa untuk bersahabat dengan Allah. Musa dan Abraham disebut “sahabat-sahabat Allah,” Daud disebut “seorang yang berkenan di hati-Ku” dan Ayub, Henokh, serta Nuh memiliki persahabatan yang mesra dengan Allah (Keluaran 33:11, 17; 2 Tawarikh 20:7; Yesaya 41:8; Yakobus 2:23; Kisah 13:22; Kejadian 6:8; 5:22; Ayub 29:4 AITB). Tetapi takut akan Allah, bukan persahabatan, yang lebih umum terdapat di dalam Perjanjian Lama. Lalu Yesus mengubah situasi tersebut. Ketika Dia membayar dosa-dosa kita di atas kayu salib, tabir di bait suci yang melambangkan pemisahan dari Allah robek dari atas ke bawah, menunjukkan bahwa jalan masuk langsung kepada Allah sekali lagi tersedia (Matius 27:51 AITB).

Tidak seperti imam-imam Perjanjian Lama yang harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam persiapan untuk menemui-Nya, kita sekarang bisa mendekati Allah kapanpun. Alkitab berkata, “Sekarang kita bisa bersuka di dalam hubungan kita yang baru dan indah dengan Allah, semuanya dikarenakan apa yang telah dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus dalam menjadikan kita sahabat-sahabat Allah” (Roma 5:11 NLT).

Persahabatan dengan Allah dimungkinkan hanya karena kasih karunia Allah dan pengorbanan Yesus. “Semuanya ini dilakukan oleh Allah, yang melalui Kristus mengubah kita dari musuh menjadi sahabat-sahabat-Nya.” (2 Korintus 5:18a). Himne lama mengatakan, “Yesus ada Sobat kita,” tetapi sebenarnya, Allah mengajak kita untuk menikmati persahabatan dan persekutuan dengan tiga Oknum Tritunggal: Bapa kita (1 Yohanes 1:3 AITB), Anak (1Korintus 1:9 AITB), dan Roh Kudus (2 Korintus 13:14 AITB).

Yesus berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yohanes 15:15 AITB). Kata untuk sahabat dalam ayat ini bukan berarti hubungan yang biasa, melainkan hubungan yang dekat dan dipercayai. Kata yang sama dipakai untuk menunjuk pada sahabat mempelai pria pada suatu pernikahan (Yohanes 3:29 AITB) dan sahabat-sahabat dekat dan dipercayai dari kalangan khusus raja. Di istana raja, para hamba harus menjaga jarak dari raja, tetapi hubungan khusus yaitu teman-teman yang dipercayai menikmati hubungan yang dekat, jalan masuk langsung, dan informasi rahasia.

Sulit dipahami bahwa Allah menginginkan saya sebagai seorang sahabat, tetapi Alkitab berkata, “Dialah Allah yang sangat merindukan hubungan denganmu” (Keluaran 34:14 NLT). Allah sangat ingin agar kita mengenal-Nya secara akrab. Sesungguhnya, Dia merencanakan alam semesta dan mengatur sejarah, termasuk rincian kehidupan kita, supaya kita bisa menjadi sahabat-sahabat-Nya. Alkitab berkata, “Dia menjadikan semua bangsa dan membuat bumi bersifat ramah, dengan banyak waktu dan ruang untuk hidup supaya kita bisa mencari Allah dan tidak hanya meraba-raba di dalam gelap, tetapi benar-benar menemukan Dia” (Kisah 17:26-27 Msg).

Mengenal dan mengasihi Allah merupakan hak istimewa terbesar kita, dan dikenal serta dikasihi oleh Allah merupakan kesenangan terbesar Allah. Allah berfirman, “Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku..; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 9:24 AITB). Sulit membayangkan bagaimana suatu persahabatan yang mesra bisa terjadi antara Allah yang Mahakuasa, tak terlihat dan sempurna, dengan manusia yang terbatas dan berdosa. Lebih mudah memahami hubungan Tuan-hamba atau hubungan Pencipta-ciptaan atau bahkan Bapa-anak. Tetapi apa artinya bila Allah menginginkan saya sebagai seorang sahabat? Dengan melihat kehidupan sahabat-sahabat Allah dalam Alkitab, kita belajar enam rahasia persahabatan dengan Allah.

Bersambung ke “Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Kedua”

Disadur dari “The Purpose Driven Life–Hidup yang Digerakkan oleh Tujuan”
Oleh Rick Warren
Halaman 89-91

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s