Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Kedua

Standard

Enam rahasia persahabatan dengan Allah..

Pertama, melalui percakapan yang terus-menerus

Anda tidak akan pernah menumbuhkan hubungan yang dekat dengan Allah hanya menghadiri gereja sekali seminggu atau bahkan memiliki saat teduh harian. Persahabatan dengan Allah dibangun dengan berbagi semua pengalaman hidup Anda dengan-Nya. Penting untuk membangun kebiasaan bersaat teduh setiap hari dengan Allah, tetapi Allah menginginkan lebih dari sebuah janji bertemu di dalam jadwal Anda. Dia ingin terlibat di dalam setiap kegiatan, setiap percakapan, setiap masalah, dan bahkan setiap pemikiran. Anda bisa melakukan percakapan yang berkesinambungan, terbuka dengan-Nya sepanjang hari Anda, berbicara dengan-Nya tentang apapun yang sedang Anda lakukan atau pikirkan pada saat itu. “Tetaplah berdoa” (1 Tesalonika 5:17 AITB) berarti bercakap-cakap dengan Allah, sementara Anda melakukan tugas-tugas rutin lainnya.

Salah pengertian yang biasa timbul adalah bahwa “menggunakan waktu bersama Allah” berarti berada sendirian dengan Allah. Tentu, sebagaimana yang diteladankan Yesus, Anda membutuhkan waktu untuk sendirian bersama Allah, tetapi itu hanyalah sebagian dari jam-jam bangun Anda. Segala sesuatu yang Anda lakukan bisa merupakan tindakan “menggunakan waktu bersama Allah” jika Allah diajak untuk mengambil bagian di dalamnya dan Anda tetap sadar akan kehadiran-Nya.

Sebuah buku klasik tentang belajar bagaimana mengembangkan percakapan yang terus menerus dengan Allah adalah “Practicing the Presence of God”, yang ditulis pada abad ke-17 oleh Brother Lawrence, seorang juru masak sederhana dari sebuah biara Perancis. Brother Lawrence mampu mengubah tugas-tugas yang paling umum dan kasar sekalipun, menjadi tindakan pujian dan persekutuan dengan Allah. Kunci menuju persahabatan dengan Allah adalah tidak mengubah apa yang Anda kerjakan, tetapi mengubah sikap Anda terhadap apa yang Anda lakukan. Apa yang biasanya Anda kerjakan bagi diri Anda sendiri, mulailah melakukannya bagi Allah.

Di taman Eden, penyembahan bukanlah suatu acara untuk dihadiri, tetapi suatu sikap yang berkesinambungan; Adam dan Hawa ada dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Allah. Karena Allah bersama Anda sepanjang waktu, tidak ada tempat yang lebih dekat kepada Allah daripada tempat di mana Anda berada sekarang. Alkitab berkata, “Allah menguasai semua dan berada di mana-mana dan di dalam semua” (Efesus 4:6b AITB).

Mempraktikkan kehadiran Allah merupakan suatu ketrampilan, sebuah kebiasaan yang bisa Anda kembangkan. Sama seperti musisi berlatih alat musik setiap hari agar dapat memainkan alunan yang indah dengan mudah, Anda harus “memaksa” diri Anda untuk berpikir tentang Allah setiap saat dalam hari Anda. Anda harus melatih pikiran Anda untuk mengingat Allah. Kita tidak memuji Allah untuk merasa enak, tetapi untuk melakukan yang baik. Yang menjadi sasaran Anda bukanlah perasaan, melainkan suatu kesadaran yang terus-menerus akan kenyataan bahwa Allah selalu ada. Inilah gaya hidup penyembahan.

Kedua, melalui meditasi (merenungkan firman Allah) yang terus-menerus

Alkitab berulang-ulang mendorong kita untuk merenungkan firman-Nya sepanjang hari tentang siapa Allah, apa yang telah Dia kerjakan, dan apa yang Dia firmankan (Ayub 23:12 NIV). Mustahil menjadi sahabat Allah tanpa mengetahui apa yang Dia firmankan. Anda tidak bisa mengasihi Allah sebelum Anda mengenal-Nya, dan Anda tidak bisa mengenal-Nya tanpa mengenal firman-Nya. Alkitab berkata Allah “menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya” (Mazmur 119:97 AITB). Allah masih menggunakan metode tersebut saat ini.

Meskipun Anda tidak dapat menghabiskan sepanjang hari mempelajari Alkitab, Anda bisa merenungkannya sepanjang hari, mengingat ayat-ayat yang telah Anda baca atau hafal dan mempertimbangkannya di dalam pikiran Anda. Bila Anda memikirkan suatu masalah berulang-ulang di dalam pikiran Anda, itu namanya khawatir. Anda hanya perlu mengubah perhatian Anda dari masalah-masalah Anda kepada ayat-ayat Alkitab. Semakin banyak Anda merenungkan firman Allah, semakin berkurang kekhawatiran Anda.

Alasan Allah menganggap Ayub dan Daud sahabat-sahabat-Nya adalah karena mereka menghargai firman-Nya lebih dari segala sesuatu, dan mereka merenungkannya terus-menerus sepanjang hari. Ayub mengaku, “Aku menghargai kata-kata dari mulut-Nya lebih dari makananku sehari-hari” (Mazmur 77:12 NLT). Daud berkata, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (Kejadian 18:17; Daniel 2:19; 1 Korintus 2:7-10 AITB). “Perbuatan-perbuatan-Mu terus-menerus ada dalam pikiranku. Aku tidak dapat berhenti merenungkannya” (Mazmur 25:14 FAYH).

Sahabat saling berbagi rahasia, dan Allah akan berbagi rahasia-rahasia-Nya dengan Anda jika Anda mengembangkan kebiasaan merenungkan firman-Nya sepanjang hari. Allah memberi tahu Abraham rahasia-rahasia-Nya, dan Dia melakukan hal yang sama terhadap Daniel, Paulus, para murid, dan sahabat-sahabat lainnya. Ketika Anda membaca Alkitab Anda atau mendengar khotbah atau kaset/cd khotbah, jangan hanya melupakannya dan pergi. Kembangkan latihan meninjau ulang kebenarannya di dalam pikiran Anda, merenungkannya berulang-ulang. Semakin banyak waktu yang Anda pakai untuk meninjau ulang apa yang telah Allah firmankan, semakin Anda memahami “rahasia-rahasia” kehidupan ini yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.

Alkitab berkata, “Persahabatan dengan Allah disediakan bagi orang-orang yang menghormati Dia. Hanya kepada mereka Ia memberitahukan rahasia janji-janji-Nya”

Bersambung ke “Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Ketiga”

Disadur dari “The Purpose Driven Life–Hidup yang Digerakkan oleh Tujuan”
Oleh Rick Warren
Halaman 91-95

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s