Kisah Inspirasi untuk Para Suami dan Istri

Standard

Dapat artikel ini dari seorang rekan, agak panjang sih, tetapi semoga peristiwa yang terjadi di bawah ini dapat membuat kita belajar untuk selalu bersyukur untuk apa yang telah kita miliki..

“Aku membencinya!” Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku, di hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Aku menikah karena paksaan dari orangtua, dan hal ini membuat aku membenci suami sendiri. Walaupun karena terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap membenci. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami yang sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung kepadanya, karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya ia lakukan. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorang pun yang berani melawan. Aku tidak suka handuknya yang basah di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja (dan meninggalkan bekas lengket), aku benci ketika ia memakai komputerku, meski hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di lemari bajuku, kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali, ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak mau mempunyai anak terlebih dulu. Meski tidak bekerja, aku tidak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan aku pun ber-KB. Sampai suatu hari aku lupa meminum pil KB, dan meski tahu, ia membiarkannya. Aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokter pun menolak untuk menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahanku semakin bertambah setelah tahu aku mengandung anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit.

Waktu pun berlalu sehingga anak-anak kami merayakan hari ulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling terakhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Suamiku yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu ia mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan mengangguk, tanpa mempedulikan kata-kata yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, di mana pada saat itu aku lebih memilih ke mall dan tidak hadir di acara ibu. Yaa.. Karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku dan diikuti anak-anak. Tetapi entah mengapa pada hari itu, ia juga memelukku erat, sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya aku ikut tersenyum bersama dengan anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan dia terasa berat untuk pergi meninggalkan kami pada pagi itu.

Ketika mereka pergi, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu ke salon. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian, serta bertemu dengan salah satu teman sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar, betapa terkejutnya ketika menyadari bahwa dompetku tidak ada. Meski merogoh tas hingga bagian terdalam, aku tidak menemukannya. Akhirnya aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin adik minta uang jajan dan aku tak punya uang kecil. Maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruh kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone kembali berbunyi, dan meski masih kesal, aku menerima dengan setengah membentak. “Apalagi?” “Sayang, aku akan pulang sekarang. Aku ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku dengan cepat, kuatir aku menutup teleponnya. Aku menyebut nama sebuah salon, dan tanpa menunggu jawaban aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon sebenarnya sudah memperbolehkanku untuk pergi, tetapi karena rasa malu, membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun deras ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit demi menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tidak ada jawaban meski pun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing yang menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak A?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, dan ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan sehingga saat ini sedang dibawa ke rumah sakit. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab dengan terima kasih. Ketika telepon ditutup, tanganku menggenggam erat handphone, dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa sehingga wajahku menjadi pucat.

Entah bagaimana, akhirnya aku sampai juga di rumah sakit dan seluruh keluarga sudah hadir menyusul. Aku hanya terdiam menunggu suamiku di depan Ruang Gawat Darurat. Aku tidak tahu harus melakukan apa, karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, ada seorang dokter yang keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada, bukan karena kecelakaan, tetapi terkena serangan jantung. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan hati kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tidak ada air mata setetes pun keluar. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat, tetapi kesedihan mereka sama sekali tidak mampu untuk membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandang dengan seksama. Saat itulah dadaku merasa sesak, teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin, dan kusadari inilah pertama kalinya aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Air mata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku berusaha mengusapnya agar tidak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari Imam yang mengatur prosesi pemakaman, tidak mampu membuatku berhenti menangis. Dadaku terasa sesak, mengingat apa yang telah kuperbuat padanya di saat terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memerhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika hamil dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkan makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas untuk makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mi instan dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, ia mungkin terpaksa makan mi instan, karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Ia pulang larut malam setiap hari, karena perjalanan dari kantor cukup jauh. Aku tak pernah menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya, karena aku tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan dengan tanah yang tertimbun. Aku tak tahu apa pun sampai terbangun di tempat tidurku. Aku terbangun dengan rasa sesal yang memenuhi rongga dadaku. Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan, tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku untuk makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang kurang enak hati. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur, dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tetapi sekarang, aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa begitu kosong dan hampa. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, karena semua “kelihatan normal” meski ia sudah tiada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku berdoa meski pun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku berdoa karena aku ingin meminta maaf pada Tuhan karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Teman-teman yang selama ini kubela, hampir tidak pernah menunjukkan diri mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menunggu dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung memenuhiku. Selama ini aku tahu segala sesuatu beres. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai keperluan pribadi, dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam dan tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikit pun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.

Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan dari almarhum suamiku bahwa ia telah mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertakan ibunya dalam surat tersebut, tetapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku..

“Istriku tersayang,

Maaf karena aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu dan harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tidak dapat memberi cinta dan kasih sayang lagi. Ketahuilah bahwa mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian. Aku tak ingin engkau susah setelah aku pergi. Tidak banyak yang bisa kuberikan, tetapi aku berharap engkau bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang..

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk mengganti hidupmu yang kamu rasa terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan. Maafkan kalau aku sering menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Untuk putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu. Dan, anak lelaki ksatria pelindungku, jagalah ibu dan adikmu. Jangan menjadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di mana pun kalian berada, ayah akan berada di sana melihatnya. Oke!”

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note catatan.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut. Usaha tersebut cukup berhasil meski dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemput, ia tetap “membanjiri” kami dengan cinta dan perhatiannya.

Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang tuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selamanya, tak satu pun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi. Dan, tak terasa kini kedua putra-putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya aku kan tidak bisa masak, tidak bisa menyuci, bagaimana ya bu?”

Aku memeluknya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tidak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber: BlogDetik (http://de.tk/B89pJ)
Dengan editan seperlunya..

Pesan Moral: Janganlah sampai kata-kata ini terucap dari bibir dan dalam hidup kita, “Kita baru dapat mengerti dan merasakan begitu sayangnya seseorang pada kita, setelah mereka meninggalkan kehidupan kita untuk selama-lamanya.” Selama masih ada waktu dan kesempatan, sayangilah mereka dan jangan pernah menyakiti hati mereka..

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s