Nasihat Terbaik yang Pernah Kudapat, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Sebelum pergi tidur malam itu, aku bertekad bahwa apa pun yang mungkin akan terjadi, kata-kataku tak akan digunakan begitu saja di forum PBB. Sejak saat itu, kukembalikan perdebatan ke tempat yang semestinya, menolak untuk membalas serangan pribadi atau mencetak angka picisan. Lawan-lawan kami menghadapi kami yang tampil dengan sikap yang baru dan sejak saat itu kami memperjuangkan kasus kami dengan mengandalkan fakta di lapangan saja. Sebelum meninggalkan ruang komite pada hari terakhir, aku menemui dan berbicara dengan pemimpin delegasi lawan kami. “Aku datang untuk meminta maaf jika kata-kataku dan perbuatanku dalam perdebatan ini telah menyinggung perasaan Anda.” Dia menjabat tanganku dengan hangat dan berkata, “Tidak ada keluhan dari pihakku.” Sungguh nyaman rasanya berdamai dengannya, tetapi bahkan lebih nyaman lagi berdamai dengan diriku sendiri. Sekali lagi, nasihat Gandhi telah menyelamatkanku dari diriku sendiri. Kata-kata Gandhi telah menolongku mempertahankan sudut pandangku bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun.

Tampaknya banyak wanita yang sama denganku, mengalami mimpi buruk: seseorang yang penting bagi kita akan datang untuk makan malam; para tamu telah tiba, sudah tiba waktunya untuk makan–tetapi, hidangannya tidak ada. Kita terbangun, berkeringat, dan merasa lega karena itu hanya mimpi. Tetapi, baru-baru ini hal tersebut benar-benar kualami. Tamu kehormatanku adalah Perdana Menteri Inggris dan Lady Eden, orang-orang paling penting bagiku, komisioner tinggi untuk negaraku di Inggris. Segalanya sudah kuatur dengan rapi, sejak dari menu sampai ke warna bunga dan lilin. Ketika para tamu tiba dan minuman sudah diedarkan dua kali, kuberikan isyarat kepada kepala rumah tangga untuk mengumumkan bahwa jamuan makan malam akan dimulai. Tetapi, kami masih terus saja menunggu. Ketika minuman diedarkan untuk ketiga kalinya, aku mohon diri dan bergegas ke dapur.

Pemandangan di dapur membuatku kaget luar biasa. Di salah satu sudut berdiri seorang pembantu bertubuh kecil yang ketakutan, dan di sudut lainnya tampak pengurus rumah. Di meja duduk, kokiku mengayun-ayunkan centong sambil menyanyi, mengetuk-ngetukkan kakinya dengan berirama. Tatapan matanya menerawang dan dia seperti sedang berada di alam lain. Meja dipenuhi potongan ayam. Lututku terasa sangat lemas, dan aku nyaris jatuh terkulai, tapi aku bertanya dengan suara senormal mungkin, “Mengapa makanannya belum siap?” “Tapi kan sudah siap, Madame,” ujar kokiku dengan suara berirama. “Semua siap. Semua duduk, duduk..”

Amarahku meluap. Rasanya sudah di ujung lidahku untuk memekik, “Keluar! Kamu kupecat!” ketika aku teringat pada nasihat yang sudah berkali-kali membuatku tenang. Jika aku kehilangan kendali, aku hanya akan menyusahkan diriku sendiri. Kukuasai diriku kembali. “Mari kita sajikan hidangan di atas meja,” kataku. Semuanya membantu. Hidangan yang disajikan tidak sesuai dengan menu yang telah dijelaskan, tetapi ketika kuceritakan kepada para tamuku tentang apa yang terjadi, mereka semua tercengang. “Kalau ini masakan yang disajikan koki Anda ketika dia sedang mabuk,” begitu seru seorang tamu, “masakan lezat apa yang sanggup disajikannya ketika dia sedang tidak mabuk!”

Rasa lega dalam tawaku tentulah terdengar agak histeris. Setelah kesadaranku pulih kembali, baru kusadari bahwa jamuan makan itu, betapa pun pentingnya, bukanlah hal yang paling penting. Mempertahankan keseimbangan sama pentingnya dengan kemampuan membersihkan hati dari kebencian. Bagi kita semua, apa pun pekerjaan kita, nasihat yang diberikan Gandhi kepadaku sangatlah bermakna: “Tak seorang pun bisa mencelakakanmu, kecuali dirimu sendiri.”

Selesai.

Disadur dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Artikel ditulis oleh Vijaya Lakshmi Pandit (beliau adalah mantan Komisioner Tinggi untuk India di Inggris, keterangan Penulis)
Halaman 406-407

Pesan Moral: Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s