Nasihat Terbaik yang Pernah Kudapat, Bagian Pertama

Standard

Nasihat terbaik yang pernah kudapatkan berasal dari salah satu sosok paling istimewa yang pernah dikenal dunia–Mahatma Gandhi–pada suatu siang yang bermandikan cahaya matahari.

Kebanyakan orang melalui masa yang memilukan di saat keyakinan mereka tentang kemanusiaan berada pada titik terendah. Saat itu aku sedang mengalami masa tersebut. Suamiku baru saja meninggal dunia. Kesedihanku yang mendalam karena telah kehilangan dirinya diikuti oleh kesadaran yang membuatku merasa terhina, yakni bahwa dalam hukum India, keberadaanku tidak diakui. Bersama dengan kaum wanita India lainnya, selama bertahun-tahun aku mendampingi kaum pria dalam perjuangan bangsa untuk meraih kemerdekaan, bekerja, dan menderita bersama-sama sampai kemerdekaan itu tercapai–namun, di mata hukum, kaum wanita tetap diakui hanya dalam kaitannya dengan pria. Sekarang, sebagai janda tanpa anak lelaki, aku tidak berhak mendapatkan sedikit pun harta keluarga, dan demikian pula kedua putriku. Aku sangat tidak menyukai posisi yang menyakitkan hati ini. Sikapku sangat getir terhadap anggota keluargaku yang mendukung hukum yang sudah ketinggalan zaman ini.

Pada saat itu aku menemui Gandhi dan mengucapkan selamat tinggal sebelum berangkat ke Amerika untuk menghadiri Konferensi Hubungan Pasifik. Setelah kami selesai membicarakan hal itu, dia bertanya, “Kamu sudah berbaikan dengan keluargamu?” Aku terpana karena ternyata dia berada di pihak yang bertentangan denganku. “Aku tidak bertengkar dengan siapa pun,” jawabku, “tapi, aku tidak ingin berurusan dengan siapa pun yang memanfaatkan hukum yang sudah basi untuk menciptakan keadaan yang sulit dan menghinaku.”

Gandhi menatap keluar jendela sejenak. Kemudian, dia menoleh kepadaku dan tersenyum sambil berkata, “Kamu harus menemui dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka karena itulah sikap yang sopan dan santun. Di India, kita masih menganggap penting hal-hal seperti ini.” “Tidak,” ujarku dengan tegas, “bahkan untuk menyenangkan hatimu pun aku tidak sudi menemui orang-orang yang ingin mencelakakanku.” “Tak seorang pun bisa mencelakakanmu, selain dirimu sendiri,” katanya, sambil masih tetap tersenyum. “Sudah cukup kulihat kegetiran dalam hatimu, yang membuatmu merana, kecuali kalau kau menghentikannya.”

Aku tetap membisu, dan dia melanjutkan, “Kamu akan berangkat ke sebuah negara baru karena kamu merasa tidak bahagia dan ingin melarikan diri. Dapatkah kamu melarikan diri dari dirimu sendiri? Akankah kamu berhasil menemukan kebahagiaan di luar, padahal hatimu diliputi kegetiran? Pikirkanlah sekali lagi. Tunjukkan sikap yang sedikit rendah hati. Kamu sudah kehilangan orang yang kaucintai–itu saja sudah cukup menyedihkan hatimu. Haruskah kautambah kesedihanmu lebih lanjut karena kau tidak punya keberanian untuk membersihkan hatimu?”

Kata-katanya terus terngiang-ngiang di telingaku. Kata-kata itu tidak berhasil menentramkan hatiku. Setelah beberapa hari perang batin, akhirnya aku menelepon ipar lelakiku. Aku ingin bertemu dengannya dan dengan keluarga, begitu kataku, sebelum berangkat. Belum ada lima menit pertemuan itu berlangsung, aku sudah bisa merasakan bahwa kunjunganku melegakan semua orang. Kuceritakan rencanaku dan kuminta restu mereka sebelum memulai tahapan baru dalam kehidupanku. Pengaruhnya pada diriku sungguh ajaib. Aku merasa seolah-olah beban berat telah dilepaskan dari pundakku dan aku merasa bebas menjadi diriku sendiri.

Isyarat kecil ini merupakan awal perubahan yang berarti dalam diriku. Satu setengah tahun kemudian, aku berada di New York, memimpin delegasi India untuk PBB. Hal yang penting bagi kami adalah keluhan India tentang perlakuan terhadap orang keturunan India di Uni Afrika Selatan. Kata-kata pedas dilontarkan oleh kedua belah pihak. Aku sangat tidak suka lawan bicaraku yang secara pribadi melakukan serangan berbahaya terhadap martabat India dan martabatku. Aku membalasnya dengan senjata yang sama tajamnya.

Kemudian, setelah perang kata-kata yang penuh tekanan, tiba-tiba aku teringat pada Gandhi. Apakah dia akan setuju dengan sikapku? Baginya, sarana yang digunakan sama pentingnya dengan hasil akhir–dalam jangka panjang mungkin bahkan lebih penting. Bagaimana kalau kami berhasil meloloskan resolusi dengan taktik yang diragukan, yang mengorbankan rasa hormat pada diri kami sendiri?

Bersambung ke “Nasihat Terbaik yang Pernah Kudapat, Bagian Kedua (Selesai)”

Disadur dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Artikel ditulis oleh Vijaya Lakshmi Pandit
Halaman 404-406

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s