Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Ketiga

Standard

Ketiga, memilih untuk jujur terhadap Allah

Landasan utama bagi persahabatan yang lebih dalam dengan Allah adalah kejujuran sepenuhnya, baik mengenai kesalahan-kesalahan maupun perasaan-perasaan Anda. Di dalam Alkitab, sahabat-sahabat Allah jujur mengenai perasaan mereka, dengan sering kali mengeluh, mengkritik, menuduh, dan beragumentasi dengan Pencipta mereka. Meski demikian, Allah tampaknya tidak terganggu oleh keterbukaan mereka.

Allah membiarkan Abraham mempertanyakan serta “menantang”-Nya perihal kehancuran kota Sodom. Abraham mendesak Allah perihal apa yang diperlukan untuk menyelamatkan kota itu, dengan berunding dengan Allah mulai dari lima puluh orang benar sampai hanya sepuluh orang benar. Allah juga mendengar dengan sabar banyak tuduhan Daud tentang ketidakadilan, pengkhianatan, dan hal ditinggalkan. Allah tidak membantai Yeremia ketika Yeremia menyatakan bahwa Allah telah memperdayanya. Ayub dibiarkan menyatakan kepahitannya selama penderitaannya, dan pada akhirnya, Allah menegur teman-teman Ayub karena memberi pernyataan yang salah. Allah memberi tahu mereka, “Kamu tidak jujur baik terhadap-Ku maupun tentang Aku, tidak seperti sahabat-Ku Ayub.. Sahabat-Ku Ayub akan berdoa untuk kamu dan Aku akan menerima doanya” (Ayub 42:7b Msg).

Bisakah Allah menghadapi jenis kejujuran yang terbuka dan hebat dari Anda? Tentu saja! Persahabatan sejati dibangun atas dasar keterbukaan. Apa yang mungkin tampak seperti “keberanian”, dipandang Allah sebagai “kebenaran”. Allah mendengar kata-kata yang sungguh-sunguh dari sahabat-sahabat-Nya; Dia bosan dengan kata-kata klise yang religius dan bisa diramalkan. Untuk menjadi sahabat Allah, Anda harus jujur kepada Allah dengan menyampaikan perasaan Anda yang sebenarnya, bukan apa yang Anda pikir seharusnya Anda rasakan atau katakan.

Mungkin Anda perlu mengakui kemarahan dan kepahitan yang tersembunyi terhadap Allah untuk beberapa hal dalam kehidupan Anda di mana Anda merasa diperdaya atau dikecewakan. Orang sering kali menyalahkan Allah karena luka-luka perasaan yang disebabkan oleh orang lain. Kepahitan merupakan penghalang terbesar terhadap persahabatan dengan Allah: Untuk apa menjadi sahabat Allah jika Dia mengizinkan hal ini terjadi? Tentu saja, jawabannya adalah menyadari bahwa Allah selalu bertindak demi kepentingan Anda, sekalipun tindakan tersebut menyakitkan dan tidak Anda pahami. Beri tahu Allah secara persis bagaimana perasaan Anda (Ayub 7:17-21; Mazmur 83:13; Yeremia 20:7; Rut 1:20).

Untuk mengajari kita tentang kejujuran yang tulus, Allah memberi kita Kitab Mazmur, yaitu buku panduan penyembahan, penuh dengan jeritan, kemarahan, kebimbangan, ketakutan, kepahitan, dan penderitaan yang dalam digabungkan dengan ucapan syukur, pujian, dan pernyataan-pernyataan iman. Ketika Anda membaca pengakuan yang emosional dari Daud dan orang lainnya, sadari bagaimana Allah ingin Anda menyembah Dia dengan tidak menahan apapun yang Anda rasakan. Anda bisa berdoa seperti Daud: “Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku..” (Mazmur 142:3 AITB). Menyatakan kebimbangan kadang merupakan langkah pertama menuju tingkat keakraban berikutnya dengan Allah.

Keempat, memilih untuk menaati Allah dengan iman

Setiap kali Anda mempercayai hikmat Allah dan melakukan apapun yang Dia firmankan, meskipun Anda tidak memahaminya, Anda memperdalam persahabatan Anda dengan Allah. Yesus menjelaskan bahwa ketaatan adalah syarat untuk akrab dengan Allah (Yohanes 15:14 AITB). Kita adalah sahabat-sahabat Allah, tetapi Dia adalah pemimpin kita yang penuh kasih, dan kita mengikuti-Nya. Kita menaati-Nya karena kita mengasihi-Nya dan percaya bahwa Dia mengetahui apa yang terbaik bagi kita (Yohanes 15:9-11 AITB). Kita ingin mengikut Kristus karena rasa syukur atas semua yang telah Dia kerjakan bagi kita, dan semakin dekat kita mengikut Dia, semakin dalam persahabatan kita.

Persahabatan sejati tidak pasif; persahabatan sejati bertindak. Ketika Yesus meminta kita untuk mengasihi sesama kita, menolong orang-orang yang membutuhkan, menjaga hidup kita tetap suci, memberikan pengampunan, dan membawa orang lain kepada-Nya, kasih memotivasi kita untuk menaati Dia dengan segera. Kesempatan-kesempatan besar mungkin datang sekali seumur hidup, tetapi kesempatan-kesempatan kecil mengelilingi kita setiap hari. Bahkan dengan tindakan-tindakan sederhana seperti berkata yang benar, berbuat kebaikan, dan membesarkan hati orang lain, kita mendatangkan senyuman pada wajah Allah. Allah menghargai tindakan-tindakan ketaatan sederhana yang kita lakukan.

Yesus mengawali pelayanan umum-Nya pada umur tiga puluh tahun dengan dibabtis oleh Yohanes. Pada peristiwa tersebut, Allah berbicara dari Surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dan Aku benar-benar senang dengan-Nya” (Matius 3:17 NLT). Apa yang telah Yesus lakukan selama tiga puluh tahun yang memberikan begitu banyak kesenangan kepada Allah? Alkitab tidak mengatakan apapun mengenai tahun-tahun yang tersembunyi ini kecuali satu frasa di dalam Lukas 2:51: “Dia kembali ke Nazaret bersama mereka, dan hidup dengan taat bersama mereka”. Tiga puluh tahun menyenangkan Allah diringkas dalam tiga kata: “hidup dengan taat”!

Bersambung ke “Menjadi Sahabat Allah yang Baik, Bagian Keempat (Selesai)”

Disadur dari “The Purpose Driven Life–Hidup yang Digerakkan oleh Tujuan”
Oleh Rick Warren
Halaman 96-101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s