Kebesaran Hati Seorang Ibu, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Qiu Songshan, sukarelawan dari Prison Fellowship di Negara Bagian Yilan, menceritakan kunjungan pertamanya ke rumah Lin. Ia menggambarkan saat itu Lin tenggelam dalam kesedihan, merindukan anaknya, dan begitu diselimuti kebencian maupun amarah. Lin sangat pucat dan lemah, sampai-sampai tidak punya energi untuk mengusir ia. Malam itu, Qiu dan istrinya memutuskan untuk bermalam menemani Lin. Tetap saja mereka tidak saling bicara satu sama lain. Beberapa hari kemudian, Qiu kembali mengunjungi Lin. Cukup mengagetkan, pintu gerbang rumah Lin yang biasanya terkunci, kali itu terbuka lebar. Qiu masuk dan menemukan Lin terbaring tak sadarkan diri di lantai. Lin mengalami serangan epilepsi. Qiu langsung membawa ia ke rumah sakit dan merawat wanita itu hingga bisa kembali ke rumah. Setelah pengalaman yang mengancam nyawanya tersebut, Lin sadar bahwa ia harus berusaha keluar dari belenggu duka.

Titik Balik

Sulit bagi Lin untuk meredam hasrat balas dendamnya. Ia menginginkan Yang dan keluarganya hilang dari muka bumi. Ia bahkan mulai menguntit orang tua Yang. Saat itulah ia melihat ibu Yang berjualan bunga magnolia di tengah kepadatan jalan raya. Sementara ayah Yang, dengan salah satu tangan telah diamputasi akibat kecelakaan mobil, juga ikut membantu berjualan – menerima dan memberikan kembalian dengan salah satu tangannya yang normal. Saat itu, muncul empati dalam diri Lin. Orang tua Yang juga tak seberuntung dirinya. Ia teringat kerja kerasnya sendiri ketika suaminya jatuh sakit dan tidak mampu bangun dari tempat tidur untuk waktu yang lama. Saat itu, Lin terpaksa menjalani dua pekerjaan, mencuci piring dan mencuci mobil, untuk bertahan hidup. Ia juga sengaja menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.

Orang tua Yang adalah korban keadaan yang tidak menguntungkan, sama seperti dirinya. Mereka terpaksa berjualan bunga di pinggir jalan untuk membayar denda yang dijatuhkan oleh pengadilan. Melihat mereka dari seberang jalan, kemarahan Lin memudar. “Kalaupun saya membunuh Yang, itu tidak akan mengembalikan anak saya. Dan kebencian saya hanya akan membuat keluarga lain menderita,” katanya. Dalam benaknya, Lin berkata, “Kalau saja anak saya yang melakukan pembunuhan tersebut, bukankah saya juga mengharapkan pengampunan?”

Agustus 2002

Hampir dua tahun setelah kematian Teng De, orang tua Yang ditemani oleh Qiu Songshan, pergi ke rumah Lin untuk memohon maaf. Melihat orang tua Yang tersedu-sedu sambil berlutut meminta maaf, sisa-sisa kebencian dan amarah Lin pun meleleh. Kedua ibu tersebut berpelukan. Beban berat Lin selama ini telah terangkat. Ia akhirnya menerima kepergian Teng De.

Suatu malam, ia bermimpi tentang putranya. Dalam mimpinya, Teng De berkata, “Ibu, saya hidup dengan damai di sini. Tolong jangan marah lagi. Hidup dalam amarah tidak baik untuk kesehatan Ibu. Tolong jaga diri Ibu baik-baik, demi saya.” Ketika bangun, Lin memikirkan Yang, pembunuh anaknya, dan bertanya-tanya apakah anak itu hidup dengan baik. Pikiran itu mengganggu ia untuk beberapa saat. Tiga hari kemudian, Lin menelepon Qiu dan berkata bahwa ia ingin bertemu dengan Yang.

Jendela yang Terbuka

Dua hari setelah kunjungan Lin, Yang menulis surat pertama kepada Lin. Surat tersebut menandakan babak baru dari hubungan mereka. Yang terus menulis secara rutin kepada Lin, menceritakan kesehariannya. Pada perayaan tertentu, ia bahkan mengirim kartu ucapan yang ia buat sendiri. Surat-surat itu sering mengingatkan Lin untuk menjaga dirinya: “Ibu You (Lin), jaga kesehatan Ibu baik-baik. Keluarlah bersama teman-teman Ibu secara rutin, nikmati pemandangan indah. Itu baik untuk Ibu.”

Setelah enam tahun di lembaga pemasyarakatan, Yang mendapatkan kebebasan bersyarat. Ia berencana mencari pekerjaan untuk melunasi sejumlah denda yang ditetapkan pengadilan, namun Lin menyarankan ia kembali ke sekolah dan belajar saja. Katanya, denda tersebut bisa menunggu. Banyak teman dan kerabat Lin tidak mengerti alasannya memaafkan Yang. “Saya tidak menyesali keputusan itu. Saya sudah kehilangan putra. Saya tidak mau kemarahan saya menyebabkan hidup anak lain ‘terbuang’ sia-sia karena rasa bersalah.” Ia percaya, orang yang pernah berbuat salah masih bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat, jika diberikan kesempatan.

Yang mengikuti saran Lin dan kembali ke sekolah. Saat ini, ia sudah menjadi mahasiswa tingkat tiga jurusan Food and Beverage. Lin menunjukkan fotonya bersama ibu Yang saat wisuda kelulusan SMA anak itu; dan setumpuk tebal surat yang dikirimkan Yang. Ia berkata, “Ketika Tuhan menutup satu pintu dalam hidup saya, ia (Yang) membukakan jendela untuk saya.”

Selesai.

Disadur dari “Reader’s Digest Indonesia”
Ditulis oleh Leslie Lin
Halaman 84-85

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s