Komunikasi dalam Hubungan Suami dan Istri

Standard

Selain Tuhan dan firman-Nya dalam Alkitab, komunikasi adalah salah satu hal yang harus kita perhatikan dan kita pelajari dalam menjalani kehidupan dunia pernikahan. Mempelajari komunikasi dalam hubungan suami dan istri, bukanlah suatu hal yang dapat kita pelajari dalam waktu semalam atau pun dalam waktu periode tertentu saja. Dibutuhkan sikap kerelaan hati secara berkontinuitas di antara suami dan istri untuk mau bersama-sama diproses, dibentuk, dan diubah karakter mereka berdua. Memiliki kesabaran, kerendah-hatian, serta sikap saling menghargai, dan menghormati.

Jika para suami dan istri mau untuk bersama-sama mulai belajar berkomunikasi dengan baik dan sehat, maka banyak rumah-tangga pasti akan mengalami perubahan dan pemulihan. Tidak ada yang namanya “mengalami kegagalan di dalam membina bahtera rumah-tangga karena alasan komunikasi yang kurang baik”, karena kita tahu bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:5-6). Untuk itulah kita perlu belajar jujur kepada diri kita sendiri, perihal sikap mana dalam kehidupan kita yang kurang baik dan yang perlu kita ubah.

Prinsip Berkomunikasi yang Baik dan Sehat

Pertama, jadilah pendengar yang baik. Banyak orang dapat menjadi pembicara yang baik, tetapi tidak semua dapat menjadi pendengar yang baik. Seringkali, bukanlah jawaban yang dibutuhkan oleh pasangan Anda, tetapi sikap untuk mau menjadi pendengar yang baik yang dibutuhkan mereka. Theodor Leschetizky, guru piano yang hebat, berkomentar, “Kita bisa belajar banyak dari kata-kata orang yang tidak sependapat dengan kita, karena kata-kata itu membuat kita berpikir; sementara kata-kata yang baik hanya membuat kita gembira.”

Kedua, berpikir panjang sebelum berbicara. Banyak orang yang hanya karena suasana hatinya saat itu kurang baik, tanpa berpikir panjang mereka langsung berbicara dan menjawab masalah lawan bicara mereka. Mereka kurang memerhatikan apakah itu adalah jawaban yang dibutuhkan, dan bagaimana perasaan lawan bicara mereka setelah mendengar jawaban tersebut. Ada pepatah dari negeri China yang mengatakan, “Di tengah kegembiraan yang amat sangat, jangan menjanjikan apa-apa kepada siapa pun. Di tengah kemarahan yang amat sangat, jangan menjawab surat siapa pun.”

Ketiga, berbicara dengan nada kasih. Bagaimana pun kondisi hati Anda saat itu akibat adanya suasana yang kurang baik di pekerjaan, taruh itu di depan pintu rumah Anda. Jangan pernah sekali-kali membawanya ke dalam rumah Anda, yang nantinya membuat nada berbicara Anda menjadi ketus dan hambar. Pendeta Billy Graham berkata, “Kepala panas dan hati yang dingin tidak akan pernah bisa memecahkan masalah apa pun.” Ada juga kata bijak yang berkata, “Siapa saja bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah kepada orang yang tepat, dengan derajat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat–nah, ini tidak mudah.”

Keempat, jauhi perdebatan dan kendalikan amarah sewaktu berbicara. Di mana dan bersama siapa pun, perbedaan pendapat pasti ada dan itu adalah hal yang manusiawi dan wajar. Dibutuhkan cukup kerendah-hatian untuk mengalah, selama pendapat itu tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Mengalah bukan berarti kalah. Tetapi dengan mengalah kita belajar untuk mengendalikan amarah kita, menjauhi perdebatan, dan meminta hikmat Tuhan untuk jawaban dari masalah yang kita hadapi saat itu. Bukankah ada ayat yang berbunyi, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1).

Kelima, berhenti mengkritik, mulailah untuk memberi pendapat yang membangun, dan hargailah pendapat orang lain. Terkadang bukan “jalan keluar” yang kita diskusikan, tetapi hanyalah kritikan yang tak berarti tanpa menghasilkan keputusan apa-apa.

Keenam, mintalah maaf bila bersalah. Bila tak bersalah? Cukuplah punya kerendah-hatian untuk meminta maaf terlebih dahulu dan cairkan suasana dengan pasangan Anda. Janganlah menghukum pasangan dengan “puasa bicara”. Tidak selalu “puasa bicara” menghasilkan “jalan keluar” yang positif. Kedua belah pihak dapat terjebak dalam sikap “saling menunggu” kapan salah satu dari antara mereka mengajak bicara terlebih dahulu. Ann Landers mengatakan, “Salah satu rahasia umur panjang dan bermakna adalah memaafkan setiap kesalahan setiap orang setiap malam sebelum kita berangkat tidur.”

Ada hal-hal tertentu yang juga perlu diperhatikan saat berbicara:

Pertama, mengenai volume suara kita jangan terlalu keras saat berbicara terhadap pasangan kita.
Kedua, pitch atau nada suara jangan tinggi/membentak. Beberapa budaya di Indonesia terbiasa dengan nada suara yang tinggi, tetapi kita juga belajar untuk menyesuaikan dengan pasangan kita.
Dan yang ketiga adalah mengenai moment atau mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah. Sembilan puluh persen gesekan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari disebabkan oleh nada bicara yang kurang baik.

Oleh karena itu mari kita benar-benar meminta hikmat Tuhan bagaimana membangun komunikasi secara baik dan sehat terhadap pasangan kita. “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (Amsal 15:23). Ketika kemarahan dalam hati kita terasa memuncak, pikirkanlah akibat yang dapat ditimbulkan dari kemarahan tersebut. Ingatlah juga akan masa-masa indah dan perjuangan bersama untuk dapat mewujudkan hari pernikahan Anda.

Sayangnya hal di atas hanya sekadar “teori yang indah” bila kita tidak mau mengambil keputusan “Ya” untuk mau berubah menjadi yang lebih baik. Keputusan harus diambil dan perubahan dimulai dari hidup kita terlebih dahulu, bukan orang lain. Biarlah melalui hidup kita boleh dipakai dan dimampukan Tuhan untuk dapat membawa perubahan yang baik dan positif, mulai dari hidup kita terlebih dahulu dan menjadi berkat bagi sekitar kita. Amin. Tuhan memberkati.

Disadur dari berbagai sumber..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s