Mati di Usia 17

Standard

Sebuah kisah tentang bagaimana kita harus memanfaatkan hidup ini dengan maksimal, untuk berbuat hal yang baik dan positif. Bijaksana dalam menjalani hidup dan mengambil keputusan, karena hidup ini hanyalah sebuah perjalanan satu arah, yang di mana kita tidak akan pernah dapat kembali di tempat sebelumnya. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana masa depan kita. Semoga kisah anak muda di bawah ini dapat menginspirasi setiap kita..

Derita mencakar benakku. Aku adalah sebuah statistik. Waktu pertama kali tiba di sini, aku merasa sangat kesepian. Aku diliputi rasa sedih dan berharap mendapatkan simpati. Aku tak mendapatkannya. Aku hanya melihat ribuan orang lain yang tubuhnya sama rusaknya denganku. Aku diberi nomor dan dimasukkan ke dalam kelompok kategori. Kategori itu adalah “korban kecelakaan”.

Hari pada waktu aku mati hanyalah hari sekolah biasa. Ah, andai saja waktu itu aku naik bus! Tapi aku merasa terlalu keren untuk naik bus. Aku ingat bagaimana aku merengek minta kunci mobil pada Mama. “Permintaan khusus,” aku memohon. “Semua anak lain menyetir mobil sendiri.” Waktu bel pukul 2:50 berbunyi, aku melemparkan bukuku ke dalam loker. Bebas sampai besok pagi! Aku berlari ke lapangan parkir, gembira memikirkan menyetir mobil dan menjadi tuan atas diriku sendiri.

Tak jadi soal bagaimana kecelakaan itu terjadi, aku sedang bermain-main–ngebut, mengambil resiko gila. Tapi aku sedang menikmati kebebasanku dan bersenang-senang. Hal terakhir yang kuingat adalah menyusul mobil seorang nenek yang rasanya melaju sangat lambat. Aku mendengar suara keras dan merasakan hentakan kuat. Kaca dan baja beterbangan. Seluruh tubuhku terasa terjungkir balik. Aku menjerit. Mendadak aku bangun. Suasana sepi. Seorang polisi berdiri di dekatku. Aku melihat dokter. Tubuhku rusak. Aku bermandikan darah. Pecahan kaca tajam menusuk di mana-mana. Aneh, aku tak dapat merasakan apa-apa. Hei, jangan tutupi kepalaku dengan kain itu. Aku tak mungkin mati. Usiaku baru 17 tahun. Aku punya kencan malam ini. Mestinya hidupku masih panjang. Aku belum sempat hidup. Aku tak boleh mati!

Kemudian aku diletakkan di dalam laci. Orang tuaku datang untuk mengidentifikasi. Mengapa mereka harus melihatku seperti ini? Mengapa aku harus melihat mata Mama waktu ia menghadapi kejadian terburuk dalam hidupnya? Papa mendadak tampak sangat tua. Ia berkata pada petugas di situ, “Ya benar—ini anak kami.”

Pemakamannya pun aneh. Aku melihat semua saudara dan temanku berjalan ke peti mati. Mereka memandangku dengan pandangan mata paling sedih yang pernah kulihat. Sebagian sobatku menangis. Beberapa gadis menyentuh tanganku dan tersedu saat melewatiku. Tolong—siapa saja—bangunkan aku! Keluarkan aku dari sini. Aku tak tahan melihat Mama dan Papa begitu menderita. Kakek-nenekku begitu lemas akibat duka, mereka hampir tak dapat berjalan. Kakak-adikku seperti zombi. Mereka bergerak seperti robot. Dengan tatapan kosong. Semuanya. Tak ada yang dapat percaya. Aku juga sulit percaya.

Tolong, jangan kubur aku! Aku belum mati! Hidupku masih panjang! Aku ingin tertawa dan berlari lagi. Aku ingin menyanyi dan menari. Jangan masukkan aku ke dalam tanah! Aku janji, kalau Kau memberikan satu kesempatan lagi, Tuhan, aku akan menjadi pengemudi yang paling berhati-hati di seluruh dunia. Aku hanya ingin satu kesempatan lagi. Ya Tuhan, aku baru 17 tahun.

Disadur dari Chicken Soup for the Teenage Soul
Ditulis oleh John Berrio
Halaman 169-171

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s