Pertolonganku Datang dari Atas

Standard

Seorang kepala suku Indian tiap hari selalu bersaksi betapa indah Yesus bagi hidupnya. Di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja, ia pasti menceritakan betapa besar kasih Yesus bagi dirinya. Teman-temannya merasa heran sekali melihat sikap kepala suku ini. Mereka bertanya: “Mengapa Engkau selalu berbicara tentang Yesus, seolah-olah tidak ada topik pembicaraan lain yang menarik?”

Kepala suku ini terdiam sejenak, lalu ia mengumpulkan rumput dan ranting-ranting pohon yang ada di sekitarnya dan ia membuat sebuah lingkaran kecil. Kemudian di tengah-tengah lingkaran itu ia meletakkan seekor ulat. Teman-teman kepala suku ini bertambah heran melihat perbuatannya, namun mereka menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Kepala suku itu lalu menyalakan api dan menyulut rumput dan ranting yang membentuk lingkaran itu. Dengan cepat api menyala dan ulat yang berada di tengah-tengahnya, menggeliat mencari jalan keluar dari panas yang membara itu. Namun, sia-sia saja perbuatannya itu, karena sebentar lagi ulat itu akan hangus dimangsa api yang nyalanya semakin berkobar-kobar.

Tetapi, apa yang terjadi ketika api semakin mendekati ulat, ulat tersebut mengangkat kepalanya setinggi-tingginya. Kalau ia bisa bicara mungkin ia akan berkata: “Pertolonganku datang dari atas.” Maka dengan tenangnya kepala suku Indian itu menunduk dan mengulurkan jari telunjuknya kepada si ulat yang sedang mengangkat kepalanya itu. Dengan cepat ulat itu merayap di jari tangan si kepala suku dan keluar dengan selamat dari api yang menghanguskan itu.

Kepala suku Indian itu kemudian berkata, “Hai teman-temanku, seperti itulah yang Tuhan Yesus telah lakukan buatku! Aku sebenarnya adalah orang berdosa yang terancam hukuman di api neraka yang kekal. Keadaanku benar-benar tidak berdaya, aku sudah terjebak jatuh ke dalam dosa, tetapi Tuhan Yesus datang dan Ia membungkuk serta mengulurkan tangan-Nya mengangkat aku dari lembah dosa masuk ke dalam terang keselamatan-Nya yang mulia! Itulah sebabnya aku sangat bersyukur dan berterima kasih dan tak henti-hentinya bersaksi dan berbicara tentang Yesus, satu-satunya Juruselamatku.”

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).

Disadur dari Lentera Surgawi
Oleh Pdt. Ishak Sugianto
Halaman 81-82

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s