Sayap yang Patah

Standard

Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup? -Rumi

Sebagian orang ditakdirkan gagal. Itulah cara sebagian orang dewasa memandang anak-anak bermasalah. Mungkin kau pernah mendengar peribahasa, “Burung yang sayapnya patah tak akan bisa terbang tinggi.” Saya yakin T.J. Ware dibuat merasa demikian hampir setiap hari di sekolah.

Saat masuk SMU, T.J. sudah menjadi anak nakal paling terkenal di kotanya. Para guru benar-benar surut kalau mereka melihat namanya dicantumkan dalam daftar kelas mereka untuk semester berikutnya. Ia tidak begitu banyak bicara, tidak pernah mau menjawab pertanyaan, dan sering berkelahi. Ia gagal dalam hampir setiap pelajaran pada saat ia masuk kelas 3 SMU, tapi selalu dinaikkan setiap tahun. Para guru tak ingin mengajarnya lagi di tahun ajaran berikutnya. T.J. meneruskan pelajaran, tapi yang pasti dia tidak naik kelas.

Aku bertemu T.J. pertama kali pada retret kepemimpinan akhir minggu. Semua murid di sekolah diundang untuk mendaftar mengikuti pelatihan ACE, suatu program yang dirancang agar para murid lebih terlibat dalam lingkungan mereka. T.J. adalah salah satu dari 405 murid yang mendaftar. Waktu aku muncul untuk memimpin retret pertama mereka, pemimpin lingkungan memberiku informasi sekilas tentang murid-murid yang hadir: “Seluruh sekolah terwakili hari ini, mulai dari Ketua OSIS sampai T.J. Ware, anak yang paling sering ditangkap polisi di kota ini.” Entah bagaimana, aku tahu aku bukan orang pertama yang mendengar tentang sisi gelap T.J. sebagai kata-kata perkenalan.

Pada awal retret, T.J. benar-benar berdiri di luar lingkaran murid, pada dinding belakang, dengan wajahnya yang seakan menantang “ayo, bikin aku terkesan”. Ia tidak langsung bergabung dengan kelompok diskusi, seperti tak ingin banyak bicara. Tapi perlahan-lahan, permainan interaktif menariknya untuk ikut serta. Keengganannya benar-benar meleleh saat kelompok-kelompok itu mulai menyusun daftar hal positif dan negatif yang terjadi di sekolah tahun itu. T.J. memiliki pendapat pasti tentang situasi itu. Murid lain dalam kelompok T.J. menerima komentarnya dengan baik. Mendadak T.J. merasa menjadi bagian kelompok, dan tak lama kemudian ia diperlakukan sebagai pemimpin. Banyak yang dikatakannya masuk akal, dan semua orang mendengarkan. T.J. adalah anak yang pandai dan memiliki banyak gagasan bagus.

Hari berikutnya, T.J. sangat aktif dalam semua acara. Pada akhir retret, ia telah bergabung dengan tim Proyek Tunawisma. Ia tahu sesuatu tentang kemiskinan, kelaparan, dan keputus-asaan. Murid lain dalam tim itu terkesan oleh perhatian hangatnya dan sejumlah gagasannya. Mereka memilih T.J. menjadi ketua-bersama dalam tim. Ketua OSIS akan menerima perintah dari T.J. Ware.

Ketika T.J. datang ke sekolah pada Senin pagi, ia disambut oleh badai kemarahan. Sekelompok guru mengajukan protes pada kepala sekolah tentang pemilihannya menjadi ketua-bersama. Proyek layanan lingkungan yang pertama akan diadakan adalah pengerahan makanan besar-besaran, diorganisasi oleh tim Proyek Tunawisma. Para guru ini tak percaya bahwa kepala sekolah akan membiarkan awal penting untuk rencana aksi tiga tahun yang bergengsi itu dipercayakan kepada T.J. Ware yang tidak cakap. Mereka mengingatkan kepala sekolah, “Catatan kriminalnya sepanjang tanganmu. Mungkin ia akan mencuri setengah dari jumlah makanan itu.” Pak Coggshall mengingatkan mereka bahwa tujuan program ACE adalah mengungkapkan keinginan positif yang dimiliki murid dan mendukung pelaksanaannya sampai berhasil. Para guru meninggalkan rapat, menggelengkan kepala dengan jijik, benar-benar yakin bahwa proyek ini pasti gagal.

Dua minggu kemudian T.J. dan teman-temannya memimpin 70 orang murid dalam pengerahan pengumpulan makanan. Mereka meraih rekor sekolah dengan berhasil mengumpulkan sebanyak 2.854 kaleng makanan hanya dalam waktu dua jam. Jumlah yang cukup banyak untuk mengisi rak-rak kosong dalam dua pusat lingkungan, dan makanan ini cukup untuk memberi makan keluarga miskin di daerah itu selama 75 hari. Koran lokal meliput kejadian ini dalam artikel sehalaman hari berikutnya. Cerita koran dipasang di papan pengumuman utama di sekolah, supaya semua orang dapat melihatnya. Foto T.J. terpampang di sana karena dipandang telah melakukan sesuatu yang hebat, memimpin pengerahan pengumpulan makanan yang memecahkan rekor. Setiap hari ia diingatkan tentang apa yang telah dilakukannya. Ia diakui sebagai orang yang cocok untuk memimpin.

T.J. mulai muncul di sekolah setiap hari dan untuk pertama kalinya mau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru di kelas. Ia memimpin proyek kedua, mengumpulkan 300 selimut dan 1.000 pasang sepatu untuk kaum tunawisma. Peristiwa yang dimulainya itu sekarang menghasilkan 9.000 kaleng makanan dalam sehari, mencukupi 70 persen kebutuhan makanan dalam setahun.

T.J. mengingatkan kita bahwa burung yang sayapnya patah hanya perlu disembuhkan. Tapi kala sudah pulih, burung itu dapat terbang lebih tinggi dari pada burung yang lain. T.J. mendapatkan pekerjaan. Ia menjadi produktif. Ia dapat terbang cukup baik sekarang.

Disadur dari Chicken Soup for the Teenage Soul
Ditulis oleh Jim Hullihan
Halaman 195-198

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s