Dua Kata untuk Dihindari, Dua Kata untuk Diingat, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Si Orang Tua melonjorkan kakinya. “Yang menjadi masalah dengan ‘kalau saja,'” katanya, “adalah bahwa hal itu tidak akan bisa mengubah apa-apa. Kata-kata itu membuat orang tetap menghadapi cara yang salah—melihat ke belakang, bukan ke depan. Kata-kata itu hanya membuang-buang waktu saja. Akhirnya, kalau kau menjadikannya sebagai kebiasaan, kata-kata itu bisa benar-benar menjadi hambatan, manjadi dalih karena tidak berusaha melakukan apa-apa.” “Coba kita bicarakan kasusmu: rencanamu tidak berhasil. Kenapa? Sebab kau melakukan beberapa kesalahan. Sebetulnya tidak apa-apa: setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dari kesalahanlah kita memetik pelajaran. Tapi, ketika kau menceritakannya kepadaku, mengeluhkan ini, menyesali itu, kau tidak memetik pelajaran apa pun.”

“Dari mana kau tahu?” tanyaku dengan nada membela diri. “Sebab,” kata si Orang Tua, “kau selalu membicarakan masa lalu. Tidak sekali pun kau menyinggung masa depan. Dan—jujur saja!—kau menikmatinya. Ada unsur tertentu dalam diri kita yang membuat kita senang menyebut-nyebut kesalahan lama. Bukankah, dengan menceritakan hal-hal yang dialami si tokoh utama, kita tetap berada di tengah pentas?” Kugelengkan kepala dengan murung, “Jadi, bagaimana memperbaikinya?” “Geser fokusnya,” tukas si Orang Tua dengan cepat. “Ganti kata kuncinya dan ganti dengan frase yang membangkitkan semangat, bukan yang menjerumuskan.”

“Kata-kata apa yang bisa kausarankan?” “Singkirkan kata-kata ‘kalau saja’; dan ganti dengan ‘lain kali.'” “Lain kali?” “Ya, benar. Aku sudah sering menyaksikan kata-kata itu membuahkan keajaiban, langsung di ruangan ini. Selama pasien terus saja mengatakan ‘kalau saja,’ dia terus tenggelam dalam kesulitan. Tapi, di saat dia menatap mataku dan berkata ‘lain kali,’ aku tahu bahwa dia sedang menuju jalan keluar dari permasalahannya. Ini berarti bahwa dia sudah memutuskan untuk menerapkan pelajaran yang dipetiknya dari pengalamannya, betapa pun suramnya atau menyakitkannya hal itu. Itu berarti dia akan menyingkirkan rintangan kekecewaan, maju ke depan, mengambil tindakan, memulihkan kehidupannya. Cobalah sendiri. Akan kausaksikan hasilnya.”

Temanku yang sudah lanjut usia itu berhenti bicara. Di luar, bisa kudengar bisikan hujan di jendela. Kucoba untuk menyingkirkan satu frase dari benakku dan menggantikannya dengan frase lain. Tentu hanya dalam bayanganku saja, tetapi bisa kudengar kata-kata baru itu terpasang dengan pas, mengeluarkan suara “klik.” “Satu hal lagi,” kata si Orang Tua itu. “Terapkan kiat kecil ini pada berbagai hal yang masih bisa diperbaiki.” Dari lemari buku di belakangnya ditariknya sebuah buku yang mirip sebuah buku harian. “Ini catatan harian yang disimpan satu generasi yang lalu oleh seorang wanita yang menjadi guru di kampung halamanku. Suaminya seorang lelaki yang ramah, tapi selalu gagal, menawan hati, tapi tidak becus sebagai pencari nafkah. Wanita ini harus membesarkan anak-anak, membayar tagihan, menyatukan keluarga. Buku hariannya sarat dengan kata-kata penuh amarah yang ditujukan kepada ketidakbecusan Jonathan.”

“Kemudian, Jonathan meninggal, dan tidak ada lagi catatan yang ditulis dalam buku itu, kecuali satu—beberapa tahun kemudian. Begini tulisannya: ‘Hari ini aku diangkat menjadi pengawas sekolah, dan seharusnya aku bangga. Tapi, seandainya aku tahu ada Jonathan di luar sana di balik bintang-bintang, dan seandainya aku tahu bagaimana caranya, aku akan menemuinya malam ini.'” Si Orang Tua menutup buku itu dengan santun. “Kaulihat kan? Yang dikatakannya adalah, ‘kalau saja; kalau saja, aku menerimanya, kesalahannya, dan sebagainya; kalau saja aku mencintainya ketika masih bisa melakukannya.'” Dikembalikannya buku itu ke tempatnya semula di rak. “Itulah saat ketika kata-kata menyedihkan itu paling memilukan: ketika sudah terlambat untuk memperbaikinya.”

Dia bangkit dengan gerakan agak kaku. “Nah, pelajaran sudah selesai. Sungguh menyenangkan bisa bertemu lagi denganmu, anak muda. Selalu menyenangkan. Nah, sekarang tolong carikan taksi, agar aku bisa pulang.” Kami keluar dari gedung itu, memasuki kegelapan malam yang disirami hujan. Kulihat sebuah taksi yang sedang melaju dan berlari menghampirinya, tapi seorang pejalan kaki lainnya lebih cepat dariku. “Ya ampun,” kata si Orang Tua dengan bercanda. “Kalau saja kita tadi turun sepuluh detik lebih awal, pasti taksi itu kita yang dapat, bukan?” Aku tertawa dan menangkap kata-kata candanya. “Lain kali aku akan lari lebih cepat.” “Itu dia!” seru si Orang Tua, sambil menarik turun topinya yang aneh itu, menutupi telinganya. “Begitu harusnya!”

Sebuah taksi lain mendekat dengan lambat. Kubukakan pintu taksi untuknya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan saat taksi bergerak maju. Aku tak pernah melihatnya lagi. Sebulan kemudian, dia meninggal karena serangan jantung. Waktu sudah lama berlalu sejak siang hari berhujan di Manhattan itu. Tetapi, sampai sekarang, setiap kali aku memikirkan kata-kata “kalau saja,” langsung kuganti menjadi “lain kali.” Kemudian, kutunggu saat terdengar “klik” dalam hatiku. Dan ketika sudah kudengar, aku pun teringat pada si Orang Tua. Secercah keabadian. Namun, itulah secercah keabadian yang diinginkannya.

Ranah “Kalau saja—-” adalah ranah yang terbuka lebar. Meskipun tidak memiliki apa-apa yang ada harganya, ranah ini sungguh penuh godaan untuk selalu dikunjungi pada saat kita menghadapi masa-masa sulit atau ketika keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Sebaliknya, jalan menuju “Lain kali—” membuka seluruh bentang peluang dan lebih besar kemungkinannya membimbing kita menuju ranah kegigihan. Jadi, sekali lagi, bagian penting dari kegigihan dan maju ke depan adalah meninggalkan bebas masa lalu.

Selesai.

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Arthur Gordon
Halaman 440-443

» Tambahan Penulis, arti kata “ranah” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online:

Ra.nah:
[n] (1) tanah rata; dataran rendah; lembah; (2) tanah yang berpaya-paya; (3) elemen atau unsur yang dibatasi; bidang disiplin; (4) Ling lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan, merupakan kombinasi antara partisipan, topik, dan tempat (misal keluarga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan, dsb); (5) Psi bagian (satuan) perilaku manusia: — afektif, berbagai perilaku yang berkaitan dengan perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s