Jangan Terkecoh!, Bagian Pertama

Standard

Berikut adalah beberapa kalimat dan cerita bijak tentang pendekatan yang benar terhadap seks, cinta, dan kencan, yang diambil dari judul buku yang sama. Semoga hal ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita semua..

01. Allah tidak menyediakan cinta sejati hanya untuk pasangan yang sempurna; Ia menyediakan bagi siapa saja yang bersedia. Bulan madu yang mengesankan tidak membutuhkan orang-orang yang terlihat seperti santa; yang dibutuhkan hanyalah dua hati yang sudah diampuni dan keinginan-keinginan yang wajar.

02. Allah mempunyai rancangan bagi setiap pasangan pria dan wanita untuk menikmati indahnya cinta, kepuasan, kesenangan, dan ya, hubungan intim—dalam suatu pernikahan yang sah.

03. “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat..” (Amsal 29:18a). Tanpa memahami “apa yang bisa didambakan dari seks” (yaitu suatu pengertian untuk tetap mencintai sekalipun sudah hidup bersama selama 50 tahun lebih dengan “pengantin wanita yang diimpi-impikan” atau dengan “pengantin pria yang bak ksatria dengan pedang berkilat”) tidak terbilang banyaknya pemuda mau pun pemudi yang akan menjadi korban karena mereka senantiasa mengalah pada godaan seksual yang luar biasa besarnya yang dilancarkan oleh media yang gandrung seks.

04. Allah kita adalah Pribadi yang ingin melihat yang baik menjadi terbaik, dan Ia ingin agar yang terbaik dalam kehidupan seseorang—seperti cinta, seks, dan hubungan intim—akan dinikmati sepanjang hayat. Allah tidak berminat untuk mencarikan sarana pengganti yang murahan.

05. Mengapa lukisan suatu hubungan intim yang Allah ciptakan dengan sempurna, yang dibingkai dengan begitu hati-hati sesuai dengan karya-Nya yang halus, dirusakkan begitu saja namun kembali diperbaiki dengan demikian sempurna? Saya percaya jawabannya hanya ditemukan dalam hati Pelukis Agung sendiri. Anda lihat, Ia membuat lukisan yang asli, dan hanya Ia saja yang bisa kembali memberinya warna dan bingkai baru yang kuat. Untuk ini semua harus ada cincin emas lambang ikatan perkawinan.

06. Sewaktu Allah berada di dunia sebagai manusia selama 33 tahun, Ia memaparkan kepada Bapa-Nya melalui seluruh keberadaan Anak-Nya, Yesus Kristus. Bagaimana Ia memandang manusia telah gagal dalam bidang seks terlihat tegas dan jelas dalam Injil Yohanes pasal 8.

Di situ digambarkan suatu kekacauan tetapi hingga ke pokok intinya terlihat nyata, layaknya seperti kejadian sehari-hari. Yesus Pencipta dan Pengendali jalan kehidupan manusia diperhadapkan dengan sekelompok pemuka agama yang menyeret seorang wanita yang baru saja tertangkap basah sedang “tidur” dengan pria yang bukan suaminya. Hukum pada zaman itu mengharuskan wanita dengan perilaku semacam itu dirajam batu sampai mati (demikian juga pria yang terlibat). Tetapi Yesus menentukan hukum-Nya sendiri yang bisa dirangkum dalam satu kata: pengampunan.

Yesus mengatakan, “..Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7). Catatan para saksi mata mengatakan bahwa mereka masing-masing bubar. Yesus selanjutnya menatap wanita itu dengan sorot mata yang sama lembutnya seperti ketika Ia menatap mata Anda saat ini, dan berkata, “Hai wanita, di manakah mereka orang-orang yang mendakwamu?” Wanita tersebut tahu bahwa mereka semua sudah pergi menyelinap, maka ia menjawab, “Semuanya telah pergi, Tuan.”

Terhadap jawaban ini Tuhan Yesus menjawab, “Aku pun tidak menghukum engkau (engkau dikasihi, diterima, dan diampuni); pergilah. Mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi (Yohanes 8:11). Wanita ini taat. Ia mengenakan jubah kebenaran Kristus dan menjadi salah seorang pengikut-Nya yang setia. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).

07. Ken Poure adalah kenalan saya yang baik. Ia penyalur mobil bekas dan perangainya jenaka seperti gaya para penghibur di pertunjukan sirkus. Ia seorang suami yang tidak banyak menuntut dan sekaligus seorang ayah yang baik. Ketika putranya yang berusia 16 tahun ingin minta pendapat di suatu Sabtu malam, tanggapan Ken yang kebapaan membuat putranya menjadi arif, dan ini mendukung moral anak tersebut sepanjang kehidupan kencan dan pernikahannya. Percakapannya berlangsung kira-kira seperti ini:

“Wah, Yah, ini soal kencan nanti malam.. Aku agak gugup dan perlu nasihat.”
“O, ya? Apa yang membuat kamu bingung?”
“Yah, mmh, aku harus bagaimana, Yah—maksudku, bagaimana sikapku terhadap dia?”
“Begini, Nak, Ayah ingin tanya. Apakah kamu ingin menikahi dia malam ini?”
“Tidak. Pasti tidak. Nanti, kan cuma kencan.”

“Menurutmu apakah nantinya pacarmu akan menikah dengan orang yang ia cintai?”
“Oh, tentu, pasti begitu.”
“Nak, Ayah ingin bertanya lagi. Apakah kamu nantinya ingin menikahi seorang gadis yang sangat istimewa?”
“Sudah pasti. Suatu hari nanti aku ingin menikah.” Anak laki-laki itu menjadi lebih serius.
“Menurutmu apakah gadis yang ingin kamu nikahi tengah berkencan dengan pemuda lain saat ini?” Si ayah memojokkannya.
“Hmm,” anak itu menyikapi ucapan itu dengan sangat hati-hati. “Ya, bisa jadi. Siapa tahu calon istri saya sedang berkencan dengan orang lain malam ini.”

“Jadi, bagaimana kamu ingin pemuda itu memperlakukan teman kencanmu malam ini?”
“Kalau saja ia menyentuhnya, akan kutinju dia!”
“Nah, kalau kamu memperlakukan teman kencanmu seperti kamu ingin orang lain memperlakukan orang yang nantinya menjadi istrimu, kamu pasti tahu bagaimana kamu harus bertindak.”

08. Dalam 1 Korintus 6:19 dan 7:3-4, dengan penuh kasih, Allah berkata bahwa pertama-tama tubuh kita adalah milik Allah (yang menciptakannya dan membelinya dengan darah Anak-Nya sendiri) dan kedua, milik suami atau istri Anda. Mengapa Anda ingin memberi dua orang yang paling berarti dalam hidup Anda sesuatu yang mutunya setara dengan kelas dua? Apakah ada orang yang katanya mengasihi dan penuh perhatian sampai hati menodai sesuatu yang terbaik milik orang lain yang sebetulnya bisa ia berikan kepada suami atau istrinya suatu hari kelak?

Tujuan Allah menganugerahkan seks kepada manusia adalah untuk reproduksi, untuk mengungkapkan cinta yang tidak pernah dikenal siapa pun kecuali oleh suami istri yang berbahagia, dan juga untuk menyenangkan pasangan masing-masing. Dengan gamblang dan sederhana, Allah memberi perasaan yang menyenangkan ke dalam suatu hubungan seks—tidak ada rasa takut, tidak ada rasa bersalah, tidak ada amarah, tidak ada (maaf) kondom untuk mengurangi keintiman yang alamiah. Tidak ada penyesalan, yang ada hanya kebebasan. Penulis kitab Ibrani sungguh-sungguh menghimbau kita semua, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur..”—artinya “murni dengan sempurna” (Ibrani 13:4).

09. Penulis buku ini (Joe White) dan Debby-Jo (istrinya) membuat satu komitmen ketika mereka mulai berkencan. Pertama, akan saling mengasihi dan bersedia mendahulukan kebutuhan masing-masing. Kedua, saling mengampuni kalau perasaan terluka. Dan ketiga, menangguhkan hubungan seks sampai malam bulan madu. Apakah ini sulit untuk ditunggu? Ya. Apakah Debby-Jo menarik bagi Joe? Sukar dilukiskan. Apakah mereka berjuang mengalahkan nafsu? Ya.

Namun dalam masa menunggu: Timbul perasaan saling mempercayai, timbul dorongan untuk saling menghormati, dan menghindari perasaan bersalah. Dalam menantikan tibanya bulan madu, kami saling membuktikan bahwa selama-lamanya tidak akan pernah ada orang ketiga. Para pemuda dan pemudi, inilah yang disebut kebebasan. Kebebasan dalam pikiran, emosi, dan roh-lah yang membuat ranjang pengantin menjadi seperti yang seharusnya.

Bersambung ke “Jangan Terkecoh!, Bagian Kedua”

Disadur dari buku “Jangan Terkecoh! (Pure Excitement)”
Ditulis oleh: Joe White
Halaman 01-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s