Rumah Kesukaan Tuhan, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Tuhan tidak pernah menyukai selubung itu. Ia harus mengenakannya, namun Ia tidak menyukainya. Ketika Yesus mati di kayu salib di Kalvari, Tuhan merobek selubung tersebut mulai dari atas hingga ke bawah, di kabah Herodes di Yerusalem. Ia membenci tirai selubung itu sebagaimana seorang narapidana membenci pintu sel penjaranya! Tirai selubung tersebut mewakili dinding, batas yang memisahkan-Nya dari umat manusia. Sampai pada hari itu di Kalvari, Tuhan harus “bersembunyi” di balik tirai untuk mempertahankan hidup manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, yang datang untuk menyembah-Nya dalam kekudusan-Nya.

Tabernakel Daud adalah satu-satunya tabernakel yang tidak memiliki tirai selubung. Tuhan benar-benar tidak ingin dipisahkan dari kita. Ia akan melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk menghancurkan berbagai hal yang memisahkan dan menyembunyikan diri-Nya dari kita. Ia membenci dosa karena dosa memisahkan. Ketika tangan-tangan yang tidak kelihatan merobek selubung, seolah-olah Ia berkata, “Aku tidak akan pernah menginginkan selubung ini dijahit kembali! Aku lelah dipisahkan dari anak-anak-Ku.” Allah tidak hanya menginginkan jam-jam kunjungan bersama anak-anak-Nya. Ia ingin berada bersama anak-anak-Nya selamanya!

Tidak ada selubung dan dinding-dinding di tabernakel sementara Daud. Satu-satunya yang mengelilingi hadirat Tuhan di tabernakel Daud adalah para penyembah yang melayani-Nya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun selama kira-kira 36 tahun. Siang dan malam para penyembah berdiri, menari, dan menyembah dalam hadirat Tuhan. Seakan-akan mereka membuat Surga tetap terbuka dengan tangan-tangan mereka yang terangkat tinggi. Dalam tabernakel Daud, kemuliaan Tuhan bisa dilihat oleh semua orang—apakah para penyembah, orang-orang yang lewat, maupun penyembah berhala. Penyembahan yang tidak terselubung memberikan pandangan yang tak terintangi!

Dalam proses membawa tabut dan memuja Tuhan, Daud mulai menghargai hal-hal yang dihargai oleh Tuhan. Namun sebaliknya, istrinya Mikhal lebih mementingkan gengsi. Kutukan kemandulan menimpanya, walaupun fakta bahwa ia tidak memiliki anak dapat dihubungkan dengan kerenggangan hubungannya dengan Daud. Secara manusia, terkadang perjumpaan yang intim dengan Tuhan terkesan “memalukan”. Kekristenan Amerika dikotori oleh gereja-gereja mandul yang telah memalingkan diri mereka dari keintiman penyembahan. Mereka adalah Mikhal-Mikhal modern yang juga telah memilih untuk lebih mementingkan gengsi ketimbang keintiman dengan Tuhan.

Daud tidak tertarik dengan: emas, mengejar peti tabut, barang-barang yang terdapat dalam peti tabut. Tapi Daud tertarik mengejar nyala “api biru” kemuliaan Tuhan. Dengan tindakan-tindakannya, Daud berkata, “Aku harus belajar bagaimana cara membawa nyala “api biru” itu.” Kita bisa membangun gedung-gedung yang lebih indah, memiliki kelompok paduan suara besar, menggubah musik lebih merdu, mengkhotbahkan khotbah lebih hebat—kita bisa melakukan segala sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, jika kita tidak membawa nyala “api biru”, maka Tuhan tidak akan merasa senang. Tidak ada “nyala” menunjukkan tidak ada api, yang pada akhirnya akan menghasilkan bangunan-bangunan yang tandus dan hati-hati yang kosong.

Kita ingin menarik perhatian Tuhan, namun setelah Ia datang mengunjungi kita, atau setelah kita merasakan hadirat-Nya ada di tengah-tengah kita, kita berkata, “Hai, senang Engkau datang—aku harus pergi,” dan kita pergi dalam jalan kita sendiri. Terlalu sering kita menginginkan kehadiran Tuhan di tempat penyembahan kita hanya untuk memberikan sensasi pada perasaan kita. Kita berkata, “Oh, Ia hadir di sini.” Pertanyaannya adalah, “Apakah Ia akan tinggal?” Ini bukan tentang kita; ini tentang Dia.

Saya merindukan hari di mana umat Tuhan akan memberikan “24/7” penyembahan kepada Tuhan, untuk menyembah dan memujanya 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Kita harus mengembangkan gaya hidup “24/7” sebelum kita mengadakan struktur yang teroganisir, kalau tidak itu akan menjadi seperti segala sesuatu yang telah kita lakukan—mekanis! Tuhan hanya ingin bersama anak-anak-Nya. Di mana pun bisa asal bisa berdekatan. Jika Daud melihat tabernakelnya yang sederhana dan berkata, “Suatu hari nanti aku akan mendirikan yang lebih baik,” kemudian Tuhan menjawab, “Sebuah kemah pun jadi, Daud. Hanya jagalah kobaran hatimu!”

Kita telah mendirikan mezbah-mezbah yang indah dengan nyaris tidak ada seorang pun di dalamnya, jika tidak ada “nyala api”, tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada kemuliaan shekinah (hadirat Tuhan yang kelihatan) di gereja-gereja kita karena kita telah kehilangan kemampuan kita untuk menjadi tuan rumah bagi Roh Kudus. Mengapa Tuhan berkata bahwa Ia akan membangun kembali rumah Daud? Saya yakin ini karena tabernakel Daud tidak memiliki selubung atau tembok pemisah. Ia merindukan keintiman antara diri-Nya dan umat-Nya; Ia ingin menyatakan kemuliaan-Nya pada dunia yang terhilang dan mati. Ia harus membangunnya kembali karena tangan-tangan manusia yang lemah telah lelah menyanggah pintu Surga agar tetap terbuka dengan penyembahan dan doa syafaat mereka.

Saya merenungkan apa artinya bagi Tuhan untuk diam di tabernakel Daud yang sederhana dalam seluruh kemuliaan-Nya, untuk duduk tepat di tengah-tengah umat-Nya tanpa selubung atau dinding apa pun yang memisahkan-Nya dari ciptaan-Nya untuk pertama kalinya semenjak peristiwa di Taman Eden. Berpalinglah kepada-Nya sekarang dan bertanyalah kepada-Nya apa yang sesungguhnya diinginkan-Nya. Jawabannya akan mengubah Anda selamanya.

Selesai.

Disadur dari buku Rumah Kesukaan Tuhan
Ditulis oleh: Tommy Tenney
Halaman 09-15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s