Rumah Kesukaan Tuhan, Bagian Pertama

Standard

“Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,” (Kisah para rasul 15:16).

Mengapa Allah ingin membangun kembali “rumah” (tabernakel Daud)? Mengapa Ia tidak ingin membangun kembali tabernakel Musa dalam semua keasliannya? Bagaimanapun, itu adalah tempat tinggal surgawi pertama yang dibangun oleh tangan-tangan manusia. Bahkan yang lebih agung dari itu, mengapa Tuhan tidak ingin membangun kembali kabah Salomo dalam seluruh kemegahannya? Tabernakel Daud hanyalah sebuah kain terpal yang dibentangkan di atas beberapa tiang kemah untuk melindungi tabut Tuhan dari matahari, angin, hujan, dan elemen-elemen cuaca yang lainnya.

Pada saat itu, seolah-olah saya mendengar suara Tuhan berbisik, “Karena ini adalah rumah kesukaan-Ku.” Betapa luar biasa pernyataan tersebut! Saya yakin Tuhan memiliki beberapa kenangan yang mulia dari peristiwa-peristiwa di tabernakel itu, yang belum pernah terjadi di mana pun. Jika kobaran semangat hati Daud dapat dipulihkan, maka Tuhan sendiri akan membantu proses pembangunan kembali tabernakel (tempat kediaman) tersebut. Ia sendiri berkata demikian!

Ketika Allah berkata, “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,” Ia menyatakan dengan jelas bahwa Ia tidak meruntuhkannya, tabernakel itu runtuh dengan sendirinya. Hal itu juga mengindikasikan bahwa dalam beberapa cara tabernakel Daud dibangun dengan bersandar pada kekuatan manusia. Tampaknya Tuhan sedang berkata, “Aku tahu bahwa tabernakel Daud adalah sebuah tabernakel manusia, dan bahwa tangan-tangan manusia akan menjadi lemah dan lelah. Jadi, Aku akan memulai sebuah proses yang akan menguatkan manusia dan membawa mereka kembali ke rumah yang sama yang dimiliki Daud. Itulah rumah kesukaan-Ku.”

Untuk beberapa alasan, dunia Kekristenan telah melupakan bahwa Tuhan tidak pernah terkesan dengan bangunan-bangunan gedung. Ketika murid-murid Yesus berkata tentang keindahan yang luar biasa dari kabah Herodes di Yerusalem, Ia menubuatkan bahwa semuanya akan diruntuhkan (Lukas 21:6). Namun Tuhan tidak pernah berkata demikian tentang tabernakel Daud. Ia berkata, “Bolehkah Aku menolong menopang tiang-tiang kemahmu sekali lagi? Bolehkah Aku membantu memulihkan apa yang telah hilang seiring dengan berlalunya waktu dan apa yang telah runtuh karena kelemahan manusia? Aku ingin mempertahankan rumah ini—kenang-kenangan tentang ‘pertemuan-pertemuan dengan manusia’ di sini sangat berarti bagi-Ku.”

Kita menginginkan pertemuan-pertemuan dengan Tuhan, namun Tuhan menginginkan pertemuan-pertemuan dengan manusia, karena pertemuan dengan anak-anak-Nya memberikan pengaruh kepada-Nya. Ia akan ‘merobek selubung-selubung’ dan mengadakan waktu untuk bertemu dengan anak-anak-Nya.

Komponen yang paling kuat dalam tabernakel Daud dimulai jauh sebelum kemah yang sebenarnya didirikan. Hal tersebut dimulai dalam hati Daud ketika ia masih seorang anak penggembala yang belajar bagaimana cara menyembah dan bersekutu dengan Tuhan di ladang. Ketika Daud berbicara tentang hal membawa Tabut Perjanjian kembali ke Yerusalem, ia tidak tertarik pada kotak penutup emas dengan barang-barang yang ada di dalamnya. Dia tertarik pada nyala “api biru” (dari hadirat Tuhan yang nyata, juga kemuliaan ‘shekinah’/hadirat Tuhan yang kelihatan) yang berkobar di antara sayap kerubim di atas tabut itu.

Itulah yang diinginkannya, karena hal itu menegaskan bahwa Tuhan hadir. Dan ke mana pun kemuliaan atau pernyataan hadirat Tuhan berada, maka akan ada kemenangan, kuasa, dan berkat. Keintiman dengan Tuhan akan membawa “berkat”, tetapi mengejar “berkat” tidak selalu membawa pada keintiman.

Daud adalah satu-satunya pria yang digambarkan dalam Alkitab, “..Aku telah mendapat Daud bin Isai, ‘seorang yang berkenan di hati-Ku’ dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah para rasul 13:22b). Ada dua arti dari frase tersebut, “berkenan di hati-Ku”. Interpretasi standarnya adalah bahwa Daud adalah seorang yang “serupa” hati Tuhan atau “yang hatinya serupa” dengan hati Tuhan. Daud adalah seorang pria yang secara terus-menerus “mencari” hati Tuhan. Ia adalah seorang pemburu Tuhan, seorang pengejar hadirat Tuhan yang nyata. Kesungguhannya untuk membawa tabut perjanjian ke Yerusalem adalah sebuah bukti nyata tentang gairahnya akan Hadirat Tuhan. Interpretasi kedua ini didukung oleh deskripsi Daud yang tiada taranya tentang perjalanan rohaninya yang intim bersama Tuhan dalam Kitab Mazmur.

Tabernakel Musa dan kabah Salomo memiliki ciri utama tiga area ini: halaman luar, Tempat Kudus, dan Tempat Mahakudus. Sebuah selubung yang sangat besar (semacam korden tebal pada zaman kita) terbentang melintas di tabernakel untuk memisahkan Tempat Kudus dan Tempat Mahakudus di mana tabut perjanjian diletakkan. Tabut tersebut adalah kotak kayu berlapis emas yang mula-mula dibuat oleh Musa menurut perintah yang diterimanya dari Tuhan. Di atas tutupnya ada figur kerubim yang terbuat dari emas (dua figur malaikat) yang saling berhadapan satu sama lain dengan sayap yang terbentang. Ruang di antara mereka disebut “tutup pendamaian”, dan di sinilah hadir nyala “api biru” dari hadirat Tuhan yang nyata. Tabut perjanjian, tempat kemurahan (mercy seat=kursi kemurahan), dan nyala “api biru” hadirat Tuhan selalu disembunyikan di balik tirai selubung yang tebal.

Bersambung ke “Rumah Kesukaan Tuhan, Bagian Kedua (Selesai)”

Disadur dari buku Rumah Kesukaan Tuhan
Ditulis oleh: Tommy Tenney
Halaman 04-09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s