Jangan Terkecoh!, Bagian Kedua

Standard

01. Allah memiliki kasih yang menakjubkan bagi anak-anak-Nya dan tentang ketetapan-Nya yang tidak pernah pudar bahwa bagaimana pun kondisi seseorang, apabila ia bersedia berbalik kepada-Nya, ia akan diampuni.. Seutuhnya.. Walau apa pun yang telah dilakukannya. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

02. Mampukah Allah memurnikan kembali rohani seseorang yang pernah melakukan hubungan seks pranikah? Mampu. Pasti mampu. Ia memurnikannya setiap hari.
Mampukah Allah menyingkirkan perasaan bersalah dan menolong Anda untuk mampu mengampuni diri sendiri? Mampu. Ia mampu dan melakukannya setiap hari. Dengan Allah, pengampunan diberikan serentak saat kita mengakui dan berbalik (menjauh, tambahan Penulis) dari dosa itu. Kadang-kadang, diperlukan waktu yang lebih lama untuk mengampuni diri sendiri, namun kita makin mampu melakukannya apabila kita mengambil langkah yang benar dan hidup kudus.

Mampukah Allah membantu Anda memulai segalanya dari awal—menetapkan satu tolok ukur yang disebut “tidak bercela dalam kehidupan seksual,” dengan bulan madu yang akan menjadi ajang memadu kasih dan melakukan hubungan intim? Mampu. Ia mampu dan melakukannya setiap hari.
Mampukah Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan yang telah Anda lakukan dari ingatan Anda? Mampu, apabila Anda hidup kudus. Ia mampu dan Ia bersedia. Hal ini membutuhkan waktu, namun saat-saat Ia mengendalikan hati dan pikiran Anda, ingatan akan masa lalu tidak menjadi momok lagi (isilah hidup Anda dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam Alkitab setiap hari, tambahan Penulis).

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).

03. Allah telah merancang “tubuh dan otak” Anda dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Ia tahu bahwa kehidupan seksual Anda merupakan bagian keberadaan Anda yang mempunyai keterkaitan secara rumit dengan mental, fisik, dan spiritual—sehingga ia memiliki potensi yang menakjubkan untuk melakukan hubungan intim dan menikmati kepuasan (contohnya, orang tua Penulis baru saja kembali dari berbulan madu di ulang tahun perkawinan yang ke-58). Tetapi juga berpotensi untuk menimbulkan malapetaka yang mematikan (misalnya aborsi dan penyakit AIDS). Jadi, Ia mengaruniakan banyak sekali cetak biru rancangan-Nya agar Anda berhasil membuat kehidupan seksual Anda berarti. Renungkan sejenak apa yang ditekankan dalam surat cinta-Nya (firman-Nya di dalam Alkitab, tambahan Penulis) yang ditujukan secara pribadi kepada Anda.

04. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4). Perhatikan bahwa Allah dengan jelas menyebutnya “tempat tidur”—bukan motel, acara bincang-bincang seusai pesta organisasi mahasiswa yang formal, kencan di malam minggu, atau bahkan pesta pertunangan. Tempat tidur demikian istimewanya sehingga tidak boleh digunakan selain oleh pasangan yang “diikat oleh tali pernikahan yang kudus seumur hidup.”

05. “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” (1 Korintus 6:18). Manakala Allah berfirman bahwa dosa seksual bukan hanya berdosa terhadap Dia tetapi juga berdosa terhadap tubuh kita, tidak ada peringatan lebih jelas lagi yang bisa diberikan-Nya.

Waktu Allah berfirman “jauhkan,” maksud-Nya “buang dari hidupmu,” seperti yang dikatakan Josh McDowell teman saya. Kalau film di bioskop makin sarat dengan adegan seks, tinggalkan gedung itu. Kalau seseorang yang baru kenal merangkul Anda dengan tidak wajar (agak sensual, misalnya), cepat tinggalkan dia. Kalau ciuman membuat Anda berkhayal lebih jauh, itu saatnya Anda pulang ke rumah. Kalau tersedia apartemen (atau rumah, tambahan Penulis) yang kosong, menyingkirlah dari situ, sejuta mil jauhnya. Kalau kekasih Anda terus-menerus mengajak Anda berbuat cabul, putuskan saja hubungan itu. Bila Anda renungkan ayat Alkitab di atas, cukup katakan secara singkat kepada diri Anda sendiri demikian: “Jauhkan itu, ayo, jauhkan.”

06. “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,” (1 Tesalonika 4:3). Untuk mengungkapkan isi hati-Nya, tidak ada kata-kata yang lebih mengena dari pada, “Hei anak-anak-Ku, ini yang harus kamu tahu dengan pasti. Percabulan—segala bentuk hubungan seks di luar pernikahan—adalah dosa. Jangan lakukan ini.” Jangan lakukan ini. Apakah itu di dalam pikiran, dengan ujung jari, atau hubungan seks itu sendiri, jangan terlibat dulu dengan aktivitas seks!

07. Wes King menyanyikan, “Jangan tergesa-gesa mengatakan aku cinta padamu.” DC Talk menyanyikan, “Aku tidak mau berhubungan seks sebelum mengucapkan janji (pernikahan).” Itulah sebabnya mengenai cinta, Allah berfirman melalui suatu perikop yang mungkin terindah dalam Alkitab.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Korintus 13:4-13).

Bersambung ke “Jangan Terkecoh!, Bagian Ketiga”

Disadur dari buku “Jangan Terkecoh! (Pure Excitement)”
Ditulis oleh: Joe White
Halaman 19-38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s