Bijaksana dalam Mendengar

Standard

“Adanya dua telinga diciptakan adalah untuk memastikan bahwa Anda mendengar kebaikan lebih banyak.“ Anonim

Pada hari Rabu, ketika jam masih belum menunjukkan pukul delapan pagi, tampak dari sudut pantry sebuah kantor terdengar percakapan sebagai berikut,

“Pak, apakah bapak sudah mendengar cerita tentang si Rifka?” “Belum,” kata pria setengah baya yang tengah asyik menyeduh kopi. Sebut saja Pak Bagus namanya. “Nah, ada yang menarik untuk diceritakan nih pak.” ”Sebentar, sebentar.” Lelaki itu segera memotong cerita tersebut. Tampaknya dia paham betul ke mana arah cerita dari rekan kerjanya ini. “Sebelum kamu lebih lanjut bercerita, saya mau bertanya terlebih dahulu soal tiga hal ini. Tolong kamu jawab dengan jujur ya..”

Si lawan bicara tersenyum. Lalu mengambil cangkir juga hendak menyeduh teh. “Pertanyaan pertama, apakah kamu yakin bahwa cerita itu benar adanya?” “Wah, kalau perihal itu saya kurang seberapa tahu kebenarannya, pak. Saya kurang dapat memastikannya. Berita ini saya dapat ceritanya dari orang lain,“ jawabnya dengan santai. “Artinya, cerita itu belum tentu benar ya? Hm..” katanya.

“Sekarang saya lanjut bertanya kembali. Apakah cerita tentang si Rifka itu berbicara soal kebaikannya?” “Lho? Justru sebaliknya saya pikir,” jawabnya. Wajahnya tampak sumringah. ”Artinya justru tentang keburukannya yang ingin kamu sampaikan?” ”Ya, iyalah,” katanya dengan cepat. ”Nah, artinya yang diceritakan malah keburukan orang lain, bukan kebaikannya,” kata Pak Bagus sambil tersenyum.

”Sekarang pertanyaan yang terakhir,” Pak Bagus sambil menyeruput sejenak kopi buatannya sendiri, ”Apakah cerita dari si Rifka ini memiliki manfaat, minimal bagi kamu atau saya tentunya?” ”Hm.. Rasanya tidak ada manfaatnya, pak..” kata pria itu yang mulai bisa menebak ketidak-tertarikan Pak Bagus. ”Nah, kalau yang berita yang ingin kamu ceritakan itu belum tentu benar, bukan soal kebaikan, dan bahkan tidak memiliki manfaat, mengapa saya harus mendengar soal itu? Maaf ya saudaraku, saya harus segera menghadiri pertemuan.” Ujar Pak Bagus sambil berlalu.

Dua jempol sepatutnya kita tujukan pada Pak Bagus. Dia begitu tegas terhadap informasi yang teramat menggoda. Padahal Rifka adalah “kembang kantor” yang amat cantik dan hidupnya penuh dengan cerita yang mengejutkan. Namun sekali lagi, karena merasa tidak ada manfaatnya perihal cerita yang dibagikan oleh rekan sekerjanya, Pak Bagus lebih memilih untuk menutup telinganya. Keberanian dan ketegasan dari Pak Bagus inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap kita. Berani untuk memilah mana informasi yang baik, berguna, dan memiliki manfaat, di kala serbuan kabar yang masuk setiap hari merupakan sebuah godaan yang tidak mudah untuk dielakkan.

Coba perhatikan. Saat kita bangun pagi, televisi sudah menyiarkan kabar tentang kehidupan pribadi selebritis yang tengah dirudung masalah. Semestinya kita sudah dapat memutuskan bahwa semua info atau lebih tepatnya gosip itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita. Kehidupan pribadi seseorang yang diceritakan, apalah artinya? Sesampai di kantor, kita bertemu dengan orang yang punya sifat persis Pak Bagus. Meniru Pak Bagus adalah langkah yang paling tepat. Singkirkan hal-hal yang kurang berguna. Tentukan prioritas hidup kita. Milikilah keputusan untuk bijaksana dalam mendengar. Hal itu akan membuat kita menjadi lebih bijak seperti Pak Bagus dalam menerima informasi yang benar, baik, dan berguna bagi kehidupan kita. Informasi di luar itu, hanyalah akan membuang waktu kita semata.

Disadur dari tulisan: Sonny Wibisono, penulis buku “Message of Monday”, PT Elex Media Komputindo, 2009
Dengan editan seperlunya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s