Di Atas Landasan

Standard

Dengan tangan kuat si pandai besi, dilindungi rok kerja, menaruh jepitannya ke dalam api, menjepit logam yang dipanaskan, dan meletakkannya di atas landasan. Matanya yang tajam memeriksa potongan yang menyala-nyala itu. Ia melihat bentuk perkakas itu sekarang dan membayangkan bentuknya yang ia inginkan—lebih tajam, lebih pipih, lebih lebar, lebih panjang. Tangan kirinya masih menggenggam potongan yang panas itu dengan jepitannya, sementara tangan kanan menghantam godamnya seberat satu kilo ke atas logam yang dapat dibentuk itu. Di atas landasan yang kokoh, besi yang membara itu dibentuk kembali. Si tukang tahu perkakas apa yang diinginkannya. Ia tahu ukurannya. Ia tahu bentuknya. Ia tahu kekuatannya.

Beng! Beng!

Godamnya menghantam. Bengkelnya mendengung dengan bunyi itu, udara menjadi penuh dengan asap, dan logam yang sudah lunak berespon. Tetapi respon itu tidak gampang. Datangnya tidak tanpa rasa tidak enak. Meleburkan yang lama dan membentuk kembali yang baru merupakan proses yang mengacaukan. Namun logam itu tetap di atas landasan dan tukang itu dapat menghilangkan yang lecet, memperbaiki retak-retak, mengisi kekosongan, dan menguras yang tidak sempurna. Dan setelah beberapa waktu, terjadilah perubahan: Yang dulu tumpul sekarang menjadi tajam, yang bengkok menjadi lurus, yang lemah menjadi kuat, dan yang tidak berguna menjadi berharga.

Lalu pandai besi berhenti. Ia berhenti menggebuk dan meletakkan godamnya. Dengan tangan kiri yang kuat ia mengangkat logam yang baru saja dibentuk sampai setinggi mata. Dalam kesunyian ia memeriksa perkakas yang masih keluar asap. Alat yang memijar itu dibalik-balik dan diperiksa kalau-kalau ada kekurangan atau retak. Tetapi ternyata tidak ada. Sekarang pandai besi itu sampai pada tingkat akhir tugasnya. Ia mencemplungkan alat yang masih membara ke dalam ember air di dekat situ. Dengan bunyi desis dan uap yang menyemprot keluar, benda logam itu segera mulai menjadi keras. Panas mengalah kepada serbuan air sejuk, dan mineral yang tadinya dapat dibentuk dan lunak, sekarang menjadi alat yang tidak dapat dibengkokkan dan sudah berguna.

Di atas landasan Allah. Mungkin Anda pernah mengalami masa itu. Dilebur. Tak berbentuk. Terbongkar. Ditempatkan di atas landasan untuk.. Dibentuk kembali? (Terlalu banyak sisi yang kasar?) Disiplin? (Ayah yang baik mendisiplin [anaknya]) Menguji? (Tetapi mengapa begitu berat?) Saya tahu. Saya juga mengalaminya. Memang keras. Ia merupakan kemerosotan rohani, bencana kelaparan. Api akan mati. Sekalipun nyalanya menjadi besar untuk sekejap, tetapi ia segera menghilang. Kita hanyut ke bawah. Masuk ke dalam lembah berkabut penuh pertanyaan, ke dalam mendung dataran rendah keputusasaan.

Motivasi memudar. Hasrat luntur. Tanggung jawab menekan berat. Kegairahan? Ia menyelinap keluar pintu. Antusiasme? Hah, bercanda barangkali? Munculnya dapat disebabkan oleh suatu kematian, hubungan terputus, menjadi bangkrut, hidup tanpa doa. Tombol dalam posisi mati dan ruangan gelap, “Semua kata-kata penuh kepedulian, untuk membantu dan memberi pengharapan, sudah diucapkan dengan baik hati. Tetapi rasanya masih sakit, dan saya bertanya-tanya..”

Waktu di landasan. Kita dihadapkan kepada Allah muka dengan muka karena insaf sekali bahwa tidak ada jalan lain. Yesus di taman. Petrus dengan air mata yang membekas di wajahnya. Daud dan Batseba. Elia dan “suara kecil, tenang.” Paulus, buta di Damaskus. Mudah-mudahan Anda tidak di atas landasan saat ini (kecuali Anda memerlukan berada di sana, dan kalau begitu, harapan saya mudah-mudahan Anda ada di sana). Kalau datang masa di landasan, seharusnya kita jangan berkelit; seharusnya kita mengalaminya. Meskipun terowongan itu gelap, dia menembus gunung. Waktu di landasan mengingatkan kita akan siapa kita sebenarnya dan siapa Allah. Kita seharusnya tidak meloloskan diri darinya. Dengan meloloskan diri, mungkin kita meloloskan diri dari Allah.

Tuhan melihat hidup kita dari permulaan sampai akhir. Mungkin Ia menuntun kita lewat angin ribut pada umur tiga puluh, supaya kita dapat bertahan dalam badai pada umur enam puluh tahun. Suatu alat hanya berguna apabila dia dalam kondisi yang tepat. Kapak yang tumpul atau obeng yang bengkok memerlukan perhatian, dan kita pun begitu. Pandai besi yang handal akan menjaga kondisi perkakas-perkakasnya. Sama juga dengan Tuhan. Seandainya Allah menempatkan Anda di atas landasan, bersyukurlah. Itu berarti Ia menganggap bahwa masih ada manfaatnya kalau Anda dibentuk kembali.

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibrani 12:5-8).

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1 Petrus 1:6-7).

“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:20-21).

Disadur dari “Di Atas Landasan”
Oleh Max Lucado
Halaman 73-79
Dengan editan seperlunya..
Pernah dimuat di Warta Gereja Mawar Sharon
(pada tanggal 13 November 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s