Sang Profesor dan Bapak Nelayan

Standard

Pada suatu hari, ada seorang Profesor yang hendak berpergian ke suatu tempat. Dan, untuk mencapai tempat tersebut, dia harus berlayar menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi lautan yang terbentang luas. Untuk mengisi waktu selama di perjalanan, sang Profesor bercakap-cakap dengan bapak nelayan yang mengemudikan perahu kecil itu. Berikut di bawah ini adalah percakapan yang terjadi di antara keduanya..

“Apakah kamu bisa berbahasa Inggris?”, tanya sang Profesor kepada bapak nelayan. “Maaf pak. Saya tidak bisa berbahasa Inggris,” jawab bapak nelayan tersebut dengan tersipu malu. “Wah! Rugi dong kamu. Padahal dengan menguasai bahasa Inggris, kita bisa mempelajari beberapa aneka ilmu, berkeliling dunia, merantau, dan bisa menjadikan kamu kaya raya. Jaman sekarang bahasa Inggris sangatlah diperlukan. Kalau kamu tidak bisa berbahasa Inggris, berarti kamu sudah kehilangan 50% dari hidupmu,” sahut sang Profesor dengan nada yang merendahkan bapak nelayan tersebut.

Sang Profesor pun bertanya kembali, “Kalau pelajaran Matematika kamu menguasainya tidak?”. Dengan tertunduk menahan malu, bapak nelayan tersebut menggeleng kepalanya. Mengetahui hal tersebut, sang Profesor menjadi semakin “besar kepala” dan merasa lebih hebat dari bapak nelayan.

Ketika perahu kecil tersebut mencapai tengah laut, cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap, ombak semakin besar, dan hujan lebat yang bercampur dengan angin kencang menerpa perahu kecil tersebut. Melihat kondisi ini sang Profesor menjadi sangat ketakutan, wajahnya pucat pasi, dan memegang erat tepian perahu. “Tenang saja, pak. Ombak ini tidak akan membinasakan kita, kok. Hal ini biasa terjadi kalau cuaca seperti ini”, jelas bapak nelayan berusaha menenangkan hati sang Profesor.

Karena melihat sang Profesor masih ketakutan, bapak nelayan tersebut berusaha untuk kembali menenangkannya. “Tidak usah takut pak. Jika seandainya ombak ini berhasil menghempaskan perahu, kita masih dapat berenang dari sini dan akan segera sampai pada pantai terdekat.” Mendengar itu semakin takutlah sang Profesor dan mendekap erat bapak nelayan. Dia berkata dengan gemetar ketakutan, “Justru karena saya tidak bisa berenang, maka saya takut jika perahu ini terbalik dan ombak menghempaskan saya di tengah laut!” Lalu bapak nelayan tersebut berkata, “Wah. Tadi bapak berkata kalau tidak bisa berbahasa Inggris dan Matematika, kita akan kehilangan 50% hidup ini. Tetapi, jika bapak tidak bisa berenang, bisa kehilangan 100% dari hidup ini pak.”

Saudara. Jika kita memiliki satu kelebihan, janganlah sampai kita mencela dan menghina kekurangan yang dimiliki oleh orang lain. Karena bisa saja kita memiliki banyak kelebihan di satu sisi, tetapi di sisi lain kita juga memiliki beberapa kekurangan. Dalam kehidupan ini, dibutuhkan juga sikap rendah hati untuk mau saling belajar dan saling “mengisi” satu sama lain, agar melalui kehidupan ini kita dapat belajar untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1 Korintus 1:27-29).

Disadur dari postingan BBM Bp. Yohanes Lauw..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s