Mengambil Inisiatif Sendiri

Standard

Mao Sui adalah pribadi yang berani, mampu membaca kesempatan, dan bisa menampilkan yang terbaik dari dirinya sendiri sehingga ia sukses dan dicatat dalam sejarah Tiongkok. Kisahnya yang terjadi pada peridoe Negara-Negara Berperang (475-221 SM) sudah dirangkum dalam Chinese Idiom berjudul “Mao Sui zi jian”.

Pada tahun 258 SM, negara Qin berhasil mengalahkan pasukan negara Zhao dan mengepung ibukotanya Han Dan. Dalam posisi terjepit dan situasi yang sangat kritis Pangeran Ping Yuan memutuskan untuk segera meminta bantuan kepada Raja Chu. Untuk menjalankan misinya, pangeran berencana membawa 20 pengikut yang mempunyai kemampuan strategi dan seni bela diri untuk mendampinginya ke negara Chu. Setelah semua pengikutnya diminta berkumpul dalam istana, Pangeran Ping Yuan mulai memilih calon-calon yang menurutnya mampu melakukan misi tersebut. Namun, setelah memilih 19 orang, ia kesulitan memilih satu lagi karena dari sekian orang yang ada terkesan tidak cakap dan wajah-wajah mereka kurang familiar di mata pangeran.

Saat pangeran kebingungan tiba-tiba muncul suara yang keras memecahkan keheningan, “Saya siap mengemban misi tersebut dan siap dimasukkan ke dalam tim.” Pangeran lalu mencari arah datangnya suara yang meyakinkan tersebut. Ternyata itu suara Mao Sui yang mengajukan diri. Walaupun Mao Sui sudah mengabdi selama lebih kurang tiga tahun, namun selama ini ia tidak mempunyai kesempatan, jarang diperhatikan dan diperhitungkan sehingga kariernya juga tidak pernah menanjak sejak dari awal. Karenanya pangeran tidak mempunyai kesan yang mendalam terhadap pribadi Mao Sui. Namun melihat keberanian, semangat, keyakinan, dan kepercayaan diri Mao Sui, keraguan pangeran pun pupus dan memasukkannya ke dalam tim.

Setelah mendapat pengarahan yang jelas, berangkatlah tim ini bersama Pangeran Ping Yuan menghadap Raja Chu. Ketika sampai di kerajaan Chu, mereka disambut dengan hormat. Lalu, Raja Chu mempersilakan Pangeran Ping Yuan menceritakan maksud dan tujuannya. Setelah itu, mereka mengobrol cukup lama. Tetapi Raja Chu selalu mengarahkan ke topik lain yang lebih santai. Ia tidak sedikit pun menyinggung masalah Zhao dan terkesan tidak prihatin dengan kondisi Zhao saat ini. Sedangkan Ping Yuan tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melayani pembicaraan raja untuk menyenangkannya.

Para pengikut Ping Yuan yang duduk di bawah panggung juga tidak ada yang mengambil inisiatif. Setelah sekian jam bercakap-cakap, ternyata Raja Chu tidak juga menunjukkan perhatiannya dengan kondisi yang terjadi di negara Zhao. Hal ini membuat Mao Sui gusar, lalu dengan berani ia naik ke atas panggung dan berkata dengan suara keras, “Baginda raja yang terhormat, kondisi negara kami saat ini sangat kritis. Mohon baginda bisa segera membantu.”

Melihat Mao Sui dengan beraninya naik ke atas panggung, lalu raja bertanya dengan nada marah, “Siapa Anda?” Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Ping Yuan, “Ia adalah salah satu pengikut saya. Saya minta maaf atas tingkahnya yang kurang sopan. Tetapi ia adalah orang yang paling perhatian dengan kondisi yang menimpa negara kami dan ingin segera membebaskan rakyat Zhao dari kekejaman tentara Qin.”

Melihat Raja Chu sudah mulai tenang, Ping Yuan melanjutkan. “Mungkin perhatian, dan kepeduliannya dengan rakyat yang sedang menderita membuat emosinya tidak terkontrol.” Raja mulai mencerna kata-kata tersebut. Kemudian Ping Yuan memanfaatkan momentum ini dengan baik. “Sekali lagi maafkan atas kelancangan Mao Sui dan mohon Baginda bisa mengerti dan mau segera memberikan bantuan kepada rakyat kami.” Akhirnya, Raja Chu memahami kejadian tadi dan segera mengirimkan bantuan untuk negara Zhao. Sekembalinya ke negara Zhao, Mao Sui dianggap sebagai pahlawan dan mendapat penghargaan atas keberaniannya.

Pembaca yang budiman,

Pada saat Pangeran Ping Yuan meminta semua pengikutnya berkumpul di istana untuk memilih 20 orang sebagai pendampingnya, sebenarnya kesempatan terbuka untuk semua orang. Akan tetapi yang akan memilih adalah pangeran sendiri dan ia mempunyai kekuasaan penuh untuk menentukan pilihannya, maka orang-orang tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa harap-harap cemas. Sebaliknya saat pangeran bingung menentukan pilihan terakhir, di sinilah kesempatan terbuka untuk orang yang mempunyai kemampuan, percaya diri, dan berani tampil ke depan.

Mao Sui berhasil mengidentifikasi peluang tersebut. Lalu segera mengambil keputusan cepat untuk mengajukan dirinya. Ia berani melangkah ke depan, mengangkat tangannya ke atas tanda ia mampu untuk menjalankan misi tersebut. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, mampu menampilkan yang terbaik dari dirinya, ia dipilih oleh Pangeran Ping Yuan. Dan terbukti Mao Sui berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Pembaca yang budiman, marilah kita belajar dari Mao Sui, jangan menunggu bola datang ke arah Anda. Sebaliknya, mari lebih proaktif untuk menjemput bola. Jadilah orang dengan inisiatif sendiri, berani tampil ke depan setiap kali ada kesempatan. Tunjukkan yang terbaik yang Anda miliki, mudah-mudahan Anda terpilih masuk ke dalam tim yang akan membawa Anda menuju puncak kesuksesan. Salam sukses untuk Anda.

Disadur dari “Majalah Motivasi LuarBiasa”
Judul asli “Mao Sui Mengambil Inisiatif Sendiri untuk Tampil ke Depan”
Ditulis oleh Leman Yap (beliau adalah penulis buku-buku Chinese Wisdom, Chinese Life Philosophies, Chinese Leadership Wisdom dan Strategy)
Halaman 60-61

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s