Koin Penyok

Standard

Pada suatu hari, ada seorang lelaki yang berjalan tak menentu arah dengan putus asa. Kondisi finansial yang dialami oleh keluarganya sedang mengalami berbagai masalah. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dikerjakan. Saat menyusuri jalanan yang sepi, kakinya terantuk pada suatu benda. Dia membungkuk untuk melihat, dan setelah itu menggerutu dengan kecewa. “Uh! Ternyata hanyalah sebuah koin kuno yang sudah penyok! Aku kira telah menemukan barang yang sangat berharga.” Meski demikian, dia membawa koin penyok tersebut ke salah satu bank terdekat.

“Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno saja pak,” kata kasir dari bank tersebut memberikan saran. Lalu lelaki itu segera membawa koin penyok-nya ke seorang kolektor. Beruntung sekali, koin yang kelihatan tak berarti itu dihargai 30 dollar. Lelaki itu begitu gembira hatinya. Setelah selesai dari rumah kolektor tersebut, lelaki itu melewati sebuah toko perkakas dan dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat sebuah rak bagi istrinya, dan memanggul kayu tersebut, serta beranjak pulang.

Di tengah perjalanan pulang, dia melewati bengkel dari seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bermutu, menawarkan sebuah lemari seharga 100 dollar demi menukar kayu yang dipanggul lelaki itu. Setelah setuju, lelaki tersebut menyewa sebuah gerobak untuk membawa pulang lemari tersebut. Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah rumah yang ditempati oleh pasangan muda yang baru saja menikah. Si wanita melihat lemari yang indah itu dan kemudian menawarnya dengan harga 200 dollar. Semula lelaki itu merasa ragu. Lalu si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki tersebut setuju, dan segera mengembalikan gerobak ke pemiliknya.

Sesampainya di depan pintu desa, lelaki tersebut ingin memastikan berapa jumlah uang yang ada padanya. Dia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar yang dia pegang. Tiba-tiba muncul seorang perampok, merampas uang itu, lalu segera kabur. Istrinya yang kebetulan melihat, segera berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yang telah terjadi? Engkau baik-baik saja? Apa yang telah dicuri oleh perampok tadi?” Lelaki itu hanya mengangkat bahunya serta berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.”

Demikianlah melalui kisah ini kita dapat belajar bahwa Tuhan telah mengatur dengan adil setiap hak-hak kita. Dia tahu apa yang terbaik dalam hidup ini. Bila kita menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun; saat diijinkan mengalami kehilangan, mengapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Tetaplah untuk belajar bersyukur. Segala sesuatu yang ada pada kita hanyalah titipan yang telah dipercayakan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Ayub, “..TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21).

Mengelola apa yang sudah dipercayakan Tuhan dalam hidup dengan baik dan bijaksana, memandang setiap perkara yang diijinkan-Nya terjadi dari sisi positif, bahwa “… Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Tuhan memberkati.

Disadur dari berbagai sumber..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s