Kematian yang Kosong

Standard

Tempat yang terkaya di muka bumi tidak terdapat dalam penambangan berlian di Afrika Selatan atau tempat penyimpanan emas Inca di Ekuador. Tempat itu tidak terdapat di dalam ladang minyak Saudi Arabia atau penggalian uranium di Balkan. Juga tidak terdapat dalam kekayaan mineral Laut Mati. Tidak, sebidang tanah yang paling berharga di planet ini sungguh berada di dalam lingkungan Anda sendiri. Bahkan mungkin Anda melintasinya pagi ini. Itu adalah pemakaman.

Benar sekali! Pemakaman adalah tempat terkaya di atas semua ciptaan. Di balik nisan tergeletak lagu yang tidak dikumandangkan dan puisi yang tidak tertulis, yang tidak terhitung jumlahnya. Sebidang tanah berumput berlimpah dengan gagasan cemerlang yang dapat mengubah seluruh komunitas, memulihkan yang terhilang dan membangkitkan pengharapan bagi yang lelah. Tanah pemakaman kita menyebarkan aroma kesuksesan yang tidak tercapai dan impian yang tidak disadari.

Kadang kala saya berjalan melintasi pemakaman dan memperkirakan berapa banyak janji yang belum digenapi dan impian yang belum disentuh tergeletak terbengkalai di bawah kaki saya. Saya merenungkan betapa banyak kehidupan telah gagal mencapai rencana Tuhan. Jutaan pria dan wanita telah meninggal dengan membawa aspirasi mereka yang masih terkekang, impian mereka sekarang terperangkap selamanya di bawah lapisan tanah yang berumput.

Apakah yang terpendam di dalam Anda sekarang ini? Anda mempunyai gagasan dan impian tentang apa yang dapat Anda perbuat bagi Tuhan–kita sekalian memilikinya. Pemakaman itu membelenggu mahakarya yang tidak pernah digoreskan dan karya sastra terkemuka yang tidak pernah dituliskan. Terlalu banyak orang yang meninggal kaya dengan impian yang mencengkeram kuat hati mereka yang tenang dan potensi mereka terperangkap di dalam diri mereka.

Alasan kita masih hidup adalah kita membawa sesuatu di dalam kita, yang dibutuhkan oleh generasi ini. Itulah sebabnya kita belum meninggalkan dunia ini. Moto hidup saya adalah: “Kematian yang kosong!” Saya bertujuan tidak memberikan apa-apa pada liang kubur selain tulang-belulang yang tidak berarti dari hidup yang sudah terkuras habis. Saya ingin tulisan di nisan saya berbunyi “Kosong!” Tidak ada yang tersisa. Tidak ada lagi yang menarik.

Tuhan telah mengisi kita masing-masing dengan suatu harta yang sangat dibutuhkan oleh generasi ini. Harta kekayaan itu terbungkus dalam diri Anda–dan pertanyaannya adalah, Apakah liang kubur akan mewarisi kekayaan Anda? Apakah Anda merugikan generasi ini dan generasi mendatang dengan menyerahkan harta pemberian Tuhan di dalam Anda pada liang kubur?

Disarikan dari buku “Pembebas Impian”
Ditulis oleh Wayne Cordeiro

Pesan Moral: Inti dari cerita di atas adalah agar selama kita hidup di dunia ini, kita dapat menorehkan “warisan sejarah” yang memberkati di antara sesama. Sewaktu hidup di dunia, kita bukanlah orang yang hidup dengan sia-sia, kosong, dan untuk diri sendiri saja, namun kehidupan kita dapat membawa dampak yang lebih baik dan positif bagi orang-orang yang berada di sekitar kita. Marilah kita giat bekerja dan terus berkarya bagi kemuliaan-Nya. Amin. Tuhan memberkati..

(Pernah dimuat dalam Buletin Phos Oktober 2011)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s