Tiga Buah Kisah

Standard

Berikut di bawah ini ada tiga buah kisah yang Penulis dapatkan dari berbagai sumber, yang mengajar agar kita tidak “memandang muka” kepada sesama, tetap rendah hati dan tidak sombong, serta mengingatkan bahwa apa pun yang kita hadapi saat ini semuanya akan segera berlalu.

» Tidak Memandang Muka

Adalah sebuah percakapan tentang betapa pentingnya kita mendengarkan cerita dari orang lain terlebih dahulu sampai selesai, sebelum kita menilai atau pun memutuskan sesuatu perihal kehidupan orang tersebut. Sebuah pelajaran agar kita tidak “memandang muka” atas sesama kita..

Laki-laki: “Bolehkah saya menikahi kamu?”
Perempuan: “Apa kamu mempunyai rumah?”
Laki-laki: “Tidak”
Perempuan: “Apa kamu mempunyai mobil BMW?”
Laki-laki: “Tidak”
Perempuan: “Berapa gaji kamu sebulan?”
Laki-laki: “Tidak ada gaji, tapi..”
Perempuan: “Tidak ada tapi, tapi.. Bagaimana mungkin saya mau menikah dengan kamu, kalau kamu tidak memiliki apa-apa?”

Di dalam perjalanan pulang, laki-laki itu berkata dalam hatinya: “Saya memang tidak mempunyai rumah, tapi saya punya sebuah vila dan tiga real estate. Untuk apa saya harus membeli sebuah rumah? Di garasi vila saya, tersimpan dua mobil Ferrari dan Porsche. Jadi untuk apa pula saya harus repot-repot membeli BMW? Lalu, bagaimana mungkin saya digaji, kalau saya sendiri adalah pemilik perusahaan?”

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19). Seorang yang hidupnya sederhana, penampilan sederhana, dan perkataannya menunjukkan kata-kata yang merendah, bisa jadi keberadaannya sangat “berisi”. Milikilah hidup sederhana dan tidak menunjukkan sifat “show off”. Selain itu kita juga dapat belajar untuk mendengar terlebih dahulu, daripada didengar. Memahami terlebih dahulu, daripada minta dipahami. Sekarang pasti sudah naik Ferrari dan Porsche..

» Tetaplah Rendah Hati

Pada suatu hari, ada seorang pria yang berkunjung ke rumah seorang guru yang terkenal bijaksana. Sesampainya di sana, ia tertegun keheranan. Dia melihat sang guru sedang sibuk bekerja, mengangkat air dengan ember-ember besar, serta menyikat lantai rumahnya dengan sekuat tenaga. “Guru, apa yang sedang Anda lakukan?” Sang guru menjawab,

“Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Dan, saya pun memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Tampaknya mereka puas sekali! Namun, setelah rombongan itu pulang, tiba-tiba saja saya merasa menjadi orang yang amat hebat. Kesombongan saya mulai muncul. Maka saya melakukan hal ini untuk menghilangkan perasaan sombong itu.”

Merasa “Sombong” adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua. Benih-benihnya kerap kali muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih ber-wawasan dibanding orang lain. Dan di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi dan kurang kita sadari karena sering kali hanya berbentuk “benih-benih halus” di dalam batin kita. Maka dari itu firman Tuhan mengingatkan kita agar, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).

Marilah setiap hari kita selalu memeriksa kondisi hati kita. Karena hal-hal baik yang terjadi pada diri kita saat ini, sangat mungkin terjadi karena perbuatan baik yang kita lakukan pada masa lampau. Apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. Dan masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Ada baiknya juga mengingat bahwa kita sebagai manusia punya harkat dan martabat yang sama, juga memiliki nilai yang sama di mata Tuhan. Kesombongan hanya akan membawa kita pada “kejatuhan dan kehancuran”. Sama seperti yang tertulis dalam firman Tuhan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18).

» Dan Ini pun Akan Berlalu

Raja Salomo adalah seorang raja yang terkenal dengan kebijaksanaannya, melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. Seluruh bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya (1 Raja-raja 10:23-24). Pada suatu hari, sang Raja meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua untuk menuliskan kata-kata di dalam cincin yang Raja kenakan. Raja berpesan, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu, supaya hal itu pun dapat menjadi pelajaran bagi hidup saya.”

Berbulan-bulan si tukang emas yang tua itu membuat cincinnya, lalu tibalah pada bagian yang lebih sulitnya yaitu menuliskan apa yang terpenting dalam hidup ini, di cincin emas yang kecil itu. Akhirnya setelah berdoa dan berpuasa, si tukang emas itu pun menyerahkan cincinnya pada sang Raja. Dan dengan tersenyum lebar, sang Raja membaca tulisan kecil di cincin itu. Bunyinya,

“THIS TOO, WILL PASS”
(“DAN INI PUN AKAN BERLALU”).

Pada awalnya sang Raja tidak terlalu paham dengan apa yang tertulis di dalam cincin tersebut. Tapi pada suatu ketika, tatkala sang Raja menghadapi persoalan kerajaan yang teramat pelik, ia membaca tulisan di dalam cincin tersebut, dan ia pun menjadi lebih tenang, “Dan ini pun akan berlalu.” Dan tatkala sang Raja sedang bersenang-senang menikmari hari-harinya, ia pun juga membaca tulisan di cincin itu, lantas ia segera menjadi rendah hati kembali.

Betul! Ketika Anda lagi punya masalah besar atau pun sedang dalam kondisi hati terlalu gembira, ingatlah kalimat itu, “Dan ini pun akan berlalu.” Kalimat ini, kalau direnungkan dengan bijaksana akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup. Tidak ada satu pun yang abadi. Jadi, ketika Anda memiliki masalah, tidaklah perlu sampai terlalu larut dan tenggelam dalam kesedihan. Tetapi, tatkala Anda lagi mengalami kebahagiaan, nikmatilah selagi Anda dapat menikmatinya.

Ingatlah. Apa pun yang kita hadapi saat ini, akan tiba saatnya bahwa semuanya akan segera berlalu..

Disarikan dari berbagai sumber..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s