Remember Me This Way (Attribute for: Ochie Manik)

Standard

14 Januari 2011 saya memposting artikel berjudul “Remember Me This Way”. Benar-benar tidak terpikir kalau 10 bulan kemudian saya akan menulis artikel dengan judul yang sama. Kalau artikel di bulan Januari hanyalah sebuah perenungan, maka judul yang sama di bulan Oktober ini adalah sebuah true story.

Q: How would you like to be remembered?
A: You choose.

Pilihan bukan di tangan orang yang akan mengingat kita. Sebaliknya, bagaimana kita ingin diingat orang lain? Seperti apa kita ingin dikenang oleh orang-orang yang dekat dengan kita, sahabat-sahabat kita, atau orang yang pernah berinteraksi dengan kita? Pilihan ada di tangan kita.. Pilihan ada di tangan Anda.

When God Doesn’t Make Sense

Terlahir 31 Maret 1997 dengan nama Yosephine Priskila Taruli Manik, dan memiliki panggilan sayang Ochie, sebagai putri pertama dari 2 bersaudara. Membaca nama keluarga Manik di belakang namanya, mungkin teman-teman berpikir apakah memiliki hubungan keluarga dengan saya. Ya. Benar sekali, Ochie adalah keponakan kandung saya. Putri sulung dari abang saya. Semua mengenalnya sebagai anak yang cantik, baik hati, sopan, suka tersenyum, suka menolong teman dan sangat suka belajar. Saya ingat semasa balita, orang-orang senang mencubit pipinya karena sangat cantik dan menggemaskan.

Desember 2010, saya mendapat kabar kalau Ochie demam tinggi, dan ketika dibawa ke RS, hasil pemeriksaan menyatakan mengidap penyakit Leukimia. Kanker darah. Seperti petir di siang bolong. Begitu tiba-tiba. Ochie menjalani perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit khusus kanker di Subang, Malaysia. Dan dipastikan, ya.. Memang Ochie menderita penyakit Leukemia. Perkiraan dokter waktu itu hanya butuh beberapa bulan saja untuk menangani penyakit tersebut. Bulan demi bulan dilalui, ternyata penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. tidak seperti perkiraaan dokter semula. Leukemia yang diderita Ochie sangat agresif sekali.

Meskipun begitu, anak yang suka tersenyum ini, benar-benar menunjukkan perjuangannya melawan penyakit yang sangat ganas ini. Berkali-kali menjalani kemoterapi, hingga semua rambut rontok, dan berbagai tindakan medis lainnya, yang sangat menyakiti tubuh anak belasan tahun ini, tidak mampu melumpuhkan semangat hidupnya. Ada 1 jenis obat yang bila diminum akan membuat Ochie kesakitan dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak pernah ia menolak atau enggan untuk mengkonsumsi obat tersebut. Semangat hidupnya tergambar jelas dalam salah satu status di Twitternya, Ochie menulis:

“I Have Cancer, I Hate Cancer,  and I’m Killing Cancer”

Semua keluarga yang menyaksikan perjuangannya setuju bahwa Ochie tidak mau diintimidasi oleh penyakitnya. Tidak sekalipun kelihatan anak kecil ini mengeluh. Setiap orang yang membesuknya selalu melihat senyuman menghiasi wajah Ochie.
Padahal semua orang tahu bagaimana rasa sakit yang dideritanya. Banyak pasien lain yang mengalami derita seperti Ochie, mulai patah semangat, murung, dan tidak mau makan. Ochie sebaliknya, selalu tersenyum. Apapun yang disediakan dia makan dengan lahap (kita bisa terkecoh, dan menyangka makanan yang dimakannya sangat lezat).

Nggak heran, badannya bukan semakin kurus, malah lebih gemuk dan segar daripada sebelum didiagnosa Leukemia. Suatu ketika, melihat Ochie yang makan dengan sangat lahap, mamanya ingin mencicipi makanannya tersebut, dan akhirnya menyadari ternyata makanan itu sangat plain, tidak seperti yang dibayangkan. Sang mama menangis dalam hati menyadari betapa putrinya ini sangat berjuang melawan Leukemia.

“Mama, Rumah Baruku Sudah Selesai..”

Setelah 10 bulan berjuang, akhirnya Ochie menghembuskan nafas terakhir, 4 Oktober 2011 di tengah keluarga yang mengasihinya. Ia sempat berpesan kepada adiknya Catherine supaya menjaga kesehatannya, Ochie sempat memeluk erat papanya, dan ia juga mengucapkan terima kasih kepada mama yang tidak pernah lelah menemani dan merawatnya selama sakit. Banyak orang yang mengenalnya menangis dan bertanya “Why God?”

Selama 10 bulan semua keluarga tahu bagaimana Ochie dan seluruh keluarga berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan. Papanya meninggalkan pekerjaannya selama 10 bulan untuk bisa mendampingi Ochie, sang mama juga selalu ada di sampingnya, merawat Ochie sambil tekun berdoa memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhan anak terkasih. Setiap pagi dan malam di RS mereka membaca firman Tuhan, memuji, menyembah dan berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan. Keluarga ini masuk dalam keintiman yang sangat dalam kepada Tuhan, yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Mulai dari dokter, suster, bahkan janitor di RS negeri tetangga ini pun mengasihi anak kecil yang tabah, dan suka tersenyum ini. Ochie menjadi pasien favorit di RS. Ada keluarga pasien lain yang sama-sama menderita Leukemia, berwarganegara Malaysia, juga sangat mengasihi Ochie. Sering membeli keperluan-keperluan Ochie, membawakan makanan untuk Ochie. Semua orang yang mengenalnya di sana mengasihinya.

Muncul pertanyaan, kalau manusia saja sangat mengasihi Ochie, masakan Tuhan tidak menunjukkan belas kasih-Nya dengan menyembuhkan Ochie? Mengapa Tuhan? Bukankah Ochie anak yang baik? Bukankah ia meminta dengan sangat supaya Engkau menyembuhkannya? Oh Tuhan, bagaimana mungkin anak yang Kau beri otak yang pintar (angka-angka yang menghiasi raportnya rata-rata angka 9) tidak Engkau beri kesempatan berkarya bagi Tuhan lebih lagi?

Oh Tuhan.. Air mata membanjiri hati keluarga, dan teman-teman yang mengasihi Ochie. Saya sebagai tantenya juga sangat berduka. Semalam sebelum kepergiannya, saya menangis berdoa di hadapan Tuhan, dengan berpegang kepada 1 ayat firman Tuhan saya berdoa “Tuhan, jangan ambil Ochie di pertengahan umurnya. Ijinkan dia menggenapi seluruh rencana-Mu dalam hidupnya”

Di tengah-tengah galaunya pikiran yang dipenuhi pertanyaan “Kenapa ?”, satu kesaksian yang membuat hati saya bisa berkata “God makes sense” (sekalipun belum mengerti) adalah ketika kemudian mendengar bahwa 2 hari sebelum pulang ke rumah Bapa, Ochie berkata kepada mamanya,  

“Mama, rumah baruku sudah selesai..”

Yesus sudah menyediakan rumah baru untuk Ochie, sehingga Ochie harus pulang. Pertandingannya sudah selesai. Ochie sudah sampai garis FINISH.

“Remember Me This Way”

(a true story of Yosephine Priskila Taruli “OCHIE” Manik)

Selama berada di rumah duka, saya melihat banyak sekali orang-orang yang mengasihi Ochie. Berbagai kalangan berusaha menunjukkan simpati. Teman-teman sekolah yang sudah 10 bulan tidak ditemuinya, menyempatkan diri datang ke rumah duka mengucapkan perpisahan terakhir kali. Bahkan menulis lagu perpisahan dan menyanyikannya untuk Ochie. Mereka juga minta ijin kepada pihak sekolah agar diberi kesempatan mengantarkan Ochie ke tempat peristirahatan terakhir. Tidak hanya berseragam putih-biru selayaknya siswa SMP, bahkan banyak yang berseragam putih-abu-abu, siswa SMA. Panas terik cuaca saat itu tidak mengurungkan niat mereka untuk ikut sampai ke tempat Ochie akan dikebumikan.

Guru yang pernah mengajarnya ketika masih TK juga datang ke rumah duka. Kalau bukan karena Ochie anak yang menyenangkan, tidak mungkin guru yang mengajarnya 10 tahun yang lalu masih ingat kepadanya. Orangtua teman-temannya juga menyempatkan diri untuk menyampaikan kesaksian mereka tentang Ochie. Melihat banyaknya teman dan saudara yang mengasihinya, kita mungkin cenderung akan mengingat Ochie sebagai anak yang baik, supel, pintar bergaul, sehingga dikasihi semua. Apakah seperti itu Ochie ingin diingat? Sebagai seseorang yang baik dan menyenangkan?

She Left Her Footprints: Her Diary

Sampai saya melihat sebuah diary, yang selama Ochie sakit dipenuhi dengan tulisan-tulisan tangannya. Sebelum membuka halaman demi halaman yang ada di dalam diary itu, apa yang ada dalam benak Anda? Pastilah isi dari diary itu kira-kira seperti ini:

Dear Diary.. Hari ini aku merasakan sakit yang luar biasa, aku sudah nggak kuat lagi..
Dear Diary.. Kenapa ya Tuhan mengijinkan aku mengalami sakit ini?
Dear Diary.. Kok aku nggak sembuh-sembuh? Tuhan kenapa nggak tolong Ochie? Apa Tuhan ngga sayang sama Ochie?

Ternyata, yang saya temukan dalam halaman demi halaman, adalah tulisan tangan yang sangat rapi. Semua diberi garis tepi. Dan semua tulisan itu adalah alamat ayat Alkitab berikut isinya, yang selama 10 bulan Ochie berjuang telah memberi kekuatan, pengharapan, dan pengucapan syukur. Kapan Ochie menuliskan ayat-ayat di dalam Diary ini? Apakah ketika ia sedang dalam kondisi agak fit? Yang sangat jarang terjadi? Papanya bersaksi, bukan hanya ketika kondisinya baik, bahkan ketika merasa sakit pun Ochie tetap menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan imannya.

Di antara ayat-ayat tersebut ada yang diberi kotak merah:

Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mazmur 104:33).

Saat membalik lembar demi lembar diary ini, saya bisa merasakan pergumulannya, pengharapannya, bisa merasakan kasihnya, bisa merasakan kebergantungan Ochie kepada Tuhan. Karena Ochie tetap menulis bahkan ketika ia sedang di tengah rasa sakit yang hebat, saya bisa merasakan sukacitanya sekalipun doanya belum dijawab. Saya bisa merasakan pengucapan syukurnya, sekalipun Ochie tidak melihat adanya fakta untuk mengucap syukur.

Rasa penasaran saya membuat saya terus membuka halaman demi halaman sampai tulisan tangannya yang terakhir. Saya menghitung. Semuanya ada 101 halaman yang berisi tulisan tangannya. Total ada 599 ayat dari Alkitab yang ditulisnya ulang di diary ini.

What Would You Do When God Doesn’t Make Sense?

Kebanyakan orang akan komplain. Mengeluh. Bersungut-sungut. Atau marah kepada Tuhan. Itu yang dilakukan jutaan bangsa Israel ketika berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian.

Footprints Mereka adalah Complaining

Banyak kejadian di mana kelihatannya tindakan Tuhan tidak “makes sense”. Kenapa harus berputar kembali dan terpojok di tepi Laut Teberau menghadapi serbuan tentara Mesir? Kenapa hanya ada manna? Kenapa harus menghadapi kehausan dan kekurangan air di padang gurun? Kenapa Musa yang diangkat menjadi pemimpin?

Saya menemukan kata ‘COMPLAIN’ di perjalanan bangsa Israel tersebut lebih banyak dari pada kata ‘PRAISE’ atau ucapan syukur. Apa yang dialami Ochie, bagi kami keluarganya, bagi teman-teman yang mengasihinya, sepertinya nggak masuk akal.
Tapi kalau teman-teman membaca diary Ochie, teman-teman akan melihat sosok seorang anak yang berusaha tetap mengucap syukur sekalipun nggak mengerti kenapa semuanya Tuhan ijinkan terjadi.

599 ayat Alkitab yang ditulisnya menggambarkan isi hati Ochie yang mungkin tidak pernah diungkapkannya kepada orang lain. Tapi diungkapkannya di hadapan Tuhan, Penciptanya.

Stop Complaining, Start Praising

Beberapa hari setelah Ochie dikebumikan, papanya menemukan di ipod Ochie, chatting Ochie dengan seorang temannya di “Direct Message” Twitter. Percakapan dengan adik kelas yang menderita kanker otak dan sama seperti Ochie harus menjalani kemoterapi dan mengalami rasa sakit yang mungkin hampir mirip dengan Ochie. Sang adik kelas mengeluhkan tentang rasa sakit tersebut, merasa putus asa atas siksaan yang tak kunjung reda. Apa yang Ochie tuliskan di situ?

Ochie menghibur adik kelasnya, mengatakan: “Jangan percaya perkataan vonis dokter.. Tuhan Yesus lebih berkuasa. Tuhan Yesus itu baik..” Dan ketika papa Ochie melihat tanggal postingan chatting-chatting tersebut, air mata menetes. Itu adalah tanggal-tanggal di mana puterinya sedang merasa kesakitan, itu adalah hari-hari dimana Ochie belum melihat tangan Tuhan menolong. Tapi Ochie menghibur temannya seolah-olah dia sudah mengalami jawaban, Ochie menguatkan sahabatnya seolah-olah dia sendiri sudah mengalami kesembuhan.

Ketika dokter di Singapore berkata “bone marrow” Ochie sudah rusak, Ochie menyatakan imannya di status Twitternya:  

“Kata dokter “bone marrow”ku rusak, tapi kata Tuhan Yesus tidak.”

Bahkan ketika ujung dari perjuangannya, akhir dari imannya bukanlah kesembuhan, Ochie tidak complain, tapi mengucap syukur dalam segala keadaan. Dia percayakan hidupnya kepada Pencipta-Nya. Apa yang akan kita lakukan saat apa yang Tuhan ijinkan nggak masuk akal?

Stop Complaining. Start Praising.
God Has Reasons We Cannot See.

Karena Tuhan berjanji bagi semua umat-Nya, Dia tidak pernah merancangkan kecelakaan even yang kita lihat sepertinya kecelakaan. Melainkan rancangan damai sejahtera yang membawa kita kepada hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).

Keep Rejoicing. Keep Praying. Keep Thanking.

Ochie hanya 14 tahun hadir di dunia ini. Kehadirannya yang singkat mengajarkan saya banyak hal. Untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu baik, apapun kenyataan di hadapan. Apa yang saya baca dari diary tersebut membuat saya mengerti seperti apa Ochie ingin dikenang. Bukan semata sebagai anak dan kakak yang penurut dan baik, bukan hanya sebagai teman yang setia, bukan hanya sebagai murid yang pintar dan rajin, tetapi lebih dari pada itu semua,

Remember Me This Way.

As a little girl who always rejoicing, 
always pray without ceasing, 
and always give thanks to God in everything    

(Ochie Manik)

P.S. Tulisan ini didedikasikan untuk: 
Andrika G.Manik, Ellys Silalahi, dan Catherine Manik.

Air mata belum lagi kering, tapi berbahagialah karena kalian adalah orang tua yang diberkati memiliki puteri seperti Ochie, dan adik yang harus bangga memiliki kakak yang teguh imannya seperti kak Ochie. Apa yang diperbuat Ochie dalam waktu yang singkat, telah memberkati banyak orang untuk tidak menyerah dan tetap menaruh percaya dan harap kepada Tuhan Yesus yang baik. Sambil tetap mengucap syukur kepada-Nya dalam segala keadaan.

All blessings,
Julita Manik

[Sumber: Read this, make you keep praising God!! http://julitamanik.blogspot.com/2011/10/remember-me-this-way-ochie-manik.html?m=1%5D

2 responses »

  1. Sebagaimana disampaikan oleh Rasul Paulus dalam surat pertamanya kepada umat di Tesalonika (4:13-18), agar kita mengetahui tentang orang-orang yang sudah meninggal, supaya kita jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena kalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama Yesus.

    Saya percaya bahwa Yosephine Priskila Taruli Manik (Ochie) telah meninggal dalam Yesus dan meninggalkan “jejak kehidupan” yang kemudian menjadi berkat bagi banyak orang.

    Kita semua juga percaya bahwa setiap orang yang meninggal dalam Kristus Yesus akan lebih dahulu bangkit.

    Semoga kita semua yang sudah membaca kisa Ochie, dan masih mendapatkan kesempatan untuk hidup, bisa terus bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan, karena selalu bersyukur atas hal kecil yang kita terima setiap saat dalam perjalanan hidup kita, merupakan salah satu cara untuk menerima berkat dan mukjizat yang lebih besar, Seringkali, mukjizat dan berkat besar terjadi lewat hal-hal kecil dan sederhana

    • Aminnn bro.. Saya setuju banget sama pendapat bro, “Karena kalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama Yesus. Kita semua juga percaya bahwa setiap orang yang meninggal dalam Kristus Yesus akan lebih dahulu bangkit.”

      Dan ini juga yang menjadi kerinduan saya selama masih dipercayakan kehidupan, agar juga meninggalkan “jejak kehidupan” yang memuliakan nama Tuhan serta menyebarkan: “Masih ada harapan di dalam Tuhan, jangan pernah menyerah untuk terus berjuang memberi yang terbaik selama kita masih dipercayakan kehidupan oleh Tuhan.”

      Thanks my bro untuk komentarnya yang luar biasa membangun. Semoga setiap postingan di blog ini terus menginspirasi, menguatkan, dan memotivasi kita semua untuk terus berbuat kebaikan bagi sesama kita..

      Tuhan Yesus memberkati..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s