Bagaimana Cinta Kembali Lagi

Standard

Aku berikrar pada diri sendiri saat berkendara menuju tempat liburan di pondok tepi pantai. Selama dua minggu aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang penuh cinta. Benar-benar penuh cinta. Tidak akan ada kata-kata “kalau”, “dan”, atau “tetapi”.

Gagasan ini muncul setelah aku mendengar seorang komentator di radio mobilku. Dia mengutip kalimat dari Injil mengenai para suami yang memperhatikan istrinya. Kemudian, dia berkata, “Cinta adalah perwujudan niat. Kita dapat memilih untuk mencintai.” Bagiku, harus kuakui bahwa aku adalah seorang suami yang egois—cinta kami telah dipudarkan oleh sikapku yang tidak peka. Sikap ini sering terungkap begitu saja mengenai hal-hal kecil: mengomeli Evelyn karena kelambanannya; bersikeras untuk menonton saluran TV yang ingin kutonton; membuang koran lama padahal aku tahu Evelyn masih ingin membacanya. Tetapi, dalam dua minggu ini semuanya akan berubah.

Dan ternyata memang berubah. Sejak aku mencium Evelyn di pintu dan berkata, “Sweter kuning baru itu cantik sekali kaupakai.” “Oh, Tom, ternyata kamu tahu juga ini sweter baru,” ujarnya dengan heran dan tersanjung. Mungkin juga agak bingung. Setelah perjalanan panjang, aku ingin duduk dan membaca. Evelyn mengajak jalan-jalan di pantai. Aku hendak menolak, tetapi kemudian berpikir, “Sudah sepanjang minggu Evelyn sendirian di sini dengan anak-anak, dan sekarang dia ingin berduaan denganku.” Kami berjalan-jalan di pantai, sementara anak-anak bermain layang-layang.

Begitulah seterusnya. Dua minggu tidak menghubungi perusahaan investasi di Wall Street (jalan terkenal, lokasi gedung bursa saham New York), padahal aku direkturnya; kunjungan ke museum kerang, padahal biasanya aku benci museum (dan ternyata aku menikmatinya); menahan diri untuk tidak mengomel ketika Evelyn terlalu lama berdandan yang membuat kami terlambat untuk kencan makan malam. Santai dan menyenangkan, begitulah berlangsungnya seluruh liburan itu. Aku berikrar sekali lagi untuk tetap ingat memilih cinta.

Tetapi, ada satu hal yang salah dalam eksperimenku ini, dan sampai sekarang pun aku dan Evelyn masih sering tertawa kalau teringat akan hal itu. Pada malam terakhir di pondok, saat kami hendak tidur, Evelyn memandangku dengan mimik yang sangat sedih. “Ada apa?” Tanyaku. “Tom,” katanya, dengan suara pilu, “apakah kamu mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui?” “Apa maksudmu?” “Hmm… Pemeriksaan kesehatan yang kujalani beberapa minggu yang lalu… Dokter kita… Apakah dia bicara sesuatu tentang kesehatanku? Tom, kamu begitu baik padaku… Apakah aku akan mati tidak lama lagi?” Perkataan itu butuh beberapa saat untuk kucerna. Lalu, tawaku meledak. “Tidak sayangku,” ujarku, sambil merengkuhnya ke dalam pelukanku, “kamu tidak akan mati; akulah yang justru mulai hidup!”

Tom “memilih untuk mencintai” dengan cara mengesampingkan urusannya di Wall Street dan urusan pribadinya untuk mencurahkan seluruh perhatiannya kepada keluarganya, terutama untuk Evelyn. Hasilnya memberikan bukti yang semakin nyata bahwa dengan memusatkan perhatian kepada seseorang—terutama sekali orang-orang yang paling kita cintai—kita sering kali menuai pengaruh yang sangat berarti dan bertahan lama. Dalam kasus Evelyn, dia begitu heran karena mendapatkan perhatian penuh itu sampai-sampai mengira pastilah ada sesuatu yang buruk—bahkan mengira dia mungkin akan segera mati. Ternyata dia baik-baik saja, tetapi banyak orang di dunia ini yang sangat mendambakan sedikit perhatian. Cobalah, apakah Anda dapat menemukan mereka dan menyembuhkan mereka dari penyakit yang mereka derita.

Semua orang menginginkan perhatian secara individual. Karena meskipun kita semua merupakan bagian dari sekumpulan orang, kita masing-masing juga sesungguhnya adalah satu orang. Richard Moss, M.D. berkata, “Hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada orang lain adalah perhatian yang tulus.”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh Tom Anderson
Halaman 63-64

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s