Unlimited Love (Special Thanks for Ps. Audy)

Standard

Suatu malam hujan turun dengan lebat diringi angin kencang dan petir yang menyambar–nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. “Istri saya sakit,” terdengar suara meminta pertolongan. “Dia sangat membutuhkan pertolongan dokter dengan segera.” Si dokter menjawab, “Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Karena mobil saya sedang masuk bengkel.” Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi marah. “Apa?!” katanya dengan marah. “Saya masih harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?”

Coba Anda renungkan sejenal cerita inspiratif di atas. Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Tetapi sayangnya kita sering kali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apa pun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, dan bukan untuk siapa-siapa. Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk, sebelum meminta imbalan jasa. Inilah konsep “memberi sebelum meminta,” yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal “memberi sebelum meminta” adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengar apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai memberikan perhatian, dan lingkungan yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan kepedulian pada orang lain terlebih dahulu.

Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan takut miskin dan takut hidup dalam kekurangan. Inilah orang-orang yang “miskin” dalam arti sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia , energi itu tak akan hilang. Ia pasti kembali kepada Anda. Persoalannya adalah banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung dari orang yang ditolongnya. Dengan melakukan hal itu, Anda justru membuat hal tersebut menjadi tak bernilai. Anda mempraktikkan manajemen “Anda udang di balik batu.” Anda tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian Anda. Jadi alih-alih menciptakan kepercayaan, pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan.

Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi tanpa mengharapkan imbalan. Untuk itu tak cukup memberi harta saja, Anda juga harus belajar untuk memberi diri, dari hati Anda yang paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalan. Anda hanya perlu percaya bahwa apa pun yang Anda berikan suatu saat pasti kembali kepada Anda. Kita dapat membedakan sifat orang menjadi dua tipe. Jenis orang yang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apa pun untuk orang lain.

Jenis orang yang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberi perhatian dan bantuan kepada orang lain, akan banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Dengan demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.

Bagaimana kalau Anda membaktikan diri untuk menolong anak-anak terlantar dan orang-orang miskin ? Ini pun sebenarnya adalah tindakan “mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.” Anda mungkin tidak setuju dan mengatakan, “Bukankah saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya kan bekerja secara sukarela?” Memang benar, Anda tidak mendapat apa-apa secara materi, tapi apakah Anda sama sekali tidak mendapat apa-apa? Jangan salah, Anda tetap akan mendapat sesuatu, yakni kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapat hal ini.

Jadi apa pun yang kita lakukan di dunia, ternyata semuanya adalah untuk kepentingan kita sendiri juga. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri. Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain berbahagia, menang, dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan kita dalam jangka panjang. Inilah hukum “Menang-Menang (Win-Win Solution)” yang berlaku di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Tuhan memberkati.

Disarikan dari milis SITYB
Ditulis oleh Ps. Audy
Dengan editan seperlunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s