Jika Impian Dapat Terbang, Bagian Pertama

Standard

Setiap orang memiliki sebuah impian. Impian itu mungkin terpendam tanpa dikenali atau belum disadari, tetapi setiap orang memiliki sebuah impian. Impian itu dapat hancur, tidak berkembang, atau terpendam di balik rongsokan kesalahan masa lalu, tetapi.. Setiap orang memiliki sebuah impian. Impian itu mungkin terbelenggu oleh karakter yang tidak sempurna atau dilumpuhkan oleh penghinaan orang lain. Namun demikian, setiap orang mempunyai sebuah impian. Setiap orang mempunyai.. Sebuah impian.

Kita Semua Telah Ditentukan

Impian ini merupakan sebuah harapan tentang menjadi serupa dengan rancangan Tuhan. Hal tersebut ditempatkan secara ilahi di dalam waktu pilihan-Nya. Seperti kunci kristal yang mengungkap jati diri Clark Kent sebenarnya sebagai Superman, demikian pula benih Allah yang tertanam di dalam masing-masing kita mengandung tugas kita, DNA, potensi dan penentuan yang ditetapkan. Di dalamnya tersembunyi cetak biru untuk menjadi serupa dengan rancangan Tuhan terhadap kita.

Impian-Nya ditempatkan dengan sengaja di dalam Anda ibarat sebiji benih. Di dalam kulit yang membungkus benih itu terkandung semua kemungkinan terpendam untuk menghasilkan kebun buah-buahan yang luas atau hutan lebat. Benih tersebut mempunyai kemampuan untuk memberi makan sebuah kota. Benih itu dapat memberikan kehangatan di dalam musim dingin atau menghasilkan rumah-rumah bagi keluarga baru. Tetapi kecuali potensi itu dikenali dan dibebaskan, benih tersebut tetap tidak produktif, tidak berdaya dan tidak berkekuatan.

Tetapi begitu ditemukan, benih menjadi perangkat penyisiran, pedoman yang tidak terlihat yang mengarahkan kita melewati lorong kehidupan yang berbahaya. Perangkat itu menghela kita ke tujuan yang telah ditentukan jauh sebelum kita lahir. Memang banyak hal yang akan terjadi untuk sementara waktu—tetapi perangkat penyisiran ini menjaga kita agar tetap berada dalam rancangan Tuhan dan menunjukkan tujuan kita.

Perangkat Pelacak Tuhan

Saya cukup sering mengunjungi Australia. Penduduk yang baik hati di daerah Down Under ibarat mata air yang ramah di antara pedalaman tanpa batas dan tanah tandus yang luas. Kisah yang sering terdengar mengenai buaya, ular, dan Tasmanian devils (sejenis beruang) tidak hentinya membangkitkan keingintahuan saya. Mungkin maksud yang tersirat di balik banyak kunjungan saya adalah upaya rahasia untuk menjinakkan pesona ini. Dari semua kota dalam benua yang sangat besar ini, ada satu kota yang menonjol sebagai kota yang paling beraneka ragam: Melbourne. Ini adalah kota yang sibuk dengan percampuran keturunan Asia, Filipina dan Eropa, yang juga banyak dibumbui oleh orang-orang Afrika, India dan Aborigin Australia.

Seusai salah satu tugas saya sebagai pembicara, saya dijamu makan siang oleh gembala tuan rumah. Saya berkesempatan mengendarai mobil BMW-nya yang baru, kendaraan mengkilap yang menimbulkan decak kagum. Satu perangkat tambahan secara khusus menarik perhatian saya. Itu adalah perangkat yang disebut GPS (global positioning system, sistem pelacak), yang terpasang secara mencolok di tengah dash board mobil. Seperti seorang asing dalam kecanggihan teknologi, saya terpesona. Mobil-mobil di Hawai jarang diperlengkapi dengan perangkat tambahan yang merepotkan seperti itu. (Sulit tersesat dalam sebuah pulau.)

Sang gembala memasukkan tujuannya, dan wow! Benda itu bahkan bersuara! (Sekarang, saya tidak menyadari bahwa sikap saya sebagai orang udik secara keseluruhan jelas terlihat, tetapi saya sangat terkesan!) Pedoman digital ini berbicara dengan suara wanita dan memberikan instruksi secara tepat sepanjang perjalanan.

“Beloklah pada lampu lalu lintas yang berikut.”

“Dia” berbicara dengan ramah melalui kabel suara elektronik—nada yang menyenangkan, sekalipun agak sedikit bergetar. Kemudian saya mengerti bahwa suara itu mendapatkan petunjuk dari satelit yang mengorbit rendah. Sistem navigasi melacak lokasi mobil itu sambil terus menerus menyisir tujuan yang dikehendaki. Lalu dia mengumpulkan data dan menyampaikan arah yang menyenangkan secara komputerisasi untuk menyelesaikan misi terakhir.

Setelah terbiasa dengan pengarahan yang tepat, sang gembala dan saya mulai beralih pada hubungan antarmanusia yang lebih bersemangat. Sementara kami terlibat dalam percakapan, dua intruksi terabaikan. Kami melewatkan beberapa belokan dan segera ditegur oleh rekan pilot yang tidak kelihatan: “Sekarang Anda bergerak menjauhi tujuan yang dikehendaki. Mohon berbalik arah!” Saat mendengar teguran itu, sambil bergurau sahabat saya berkata bahwa penolong digitalnya mulai menyerupai istrinya.

Walau demikian, kami bersedia melakukan serangkaian perbaikan penting (di dalam istilah kaum awam, “kami berputar”) dan dengan penuh rasa terima kasih kami berbalik kembali ke arah yang tepat. Seandainya GPS tidak menolong, maka kami masih menyusuri jalan melalui daerah pedalaman, menghindari binatang buas dan wallaby (sejenis kanguru kecil).

Tuhan Mahatahu telah menanamkan sistem pelacak serupa namun secara rohani, di dalam kita. Dia menaruh sebuah impian menjadi serupa dengan kehendak-Nya, sebuah impian yang bertindak sebagai perangkat penyisiran di dalam kita. Sistem Pelacak Tuhan memiliki kemampuan mengukur yang diperlengkapi dengan peningkatan getaran saat kita mendekati tujuan kita. Ketika kita tersesat, perangkat ini mengingatkan kita alamat yang hendak dituju dan mempertanyakan pilihan arah yang sedang dijalani. Bukan saja hal itu memberikan kepada kita sikap yang benar, tetapi pada saat sistem pelacak telah ditetapkan ke sasaran, pengejaran yang penuh semangat juga meninggalkan semua motivasi lain jauh di belakang.

Impian ini, perangkat penyisiran kita, dapat menaklukkan gangguan apa saja. Impian ini mengalahkan tipu muslihat yang paling licik sepanjang jalan kita. Impian membawa kejelasan pada hidup dan fokus bagi gambaran lain yang kabur. Tidak ada yang dapat menandingi kuasa perangkat penyisiran yang ditetapkan Tuhan yang tertanam di dalam hati kita masing-masing.

Bersambung ke “Jika Impian Dapat Terbang, Bagian Kedua (Selesai)”

Dikutip dari “Pembebas Impian”
Ditulis oleh Wayne Cordeiro
Halaman 24-27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s