Kapas yang Terbang

Standard

Ada seorang pengusaha yang sukses, yang memiliki kekayaan melimpah, keluarga harmonis dan sahabat-sahabat yang setia. Sebagai seorang pengusaha, beliau diharuskan untuk berkeliling berbagai tempat untuk kemajuan perusahaannya. Namun pada suatu saat, pengusaha ini ter-kontaminasi dengan budaya berjudi. Kekayaan yang dikumpulkan dengan jerih lelah di dalam sepanjang hidupnya pun menjadi habis akibat kebiasaannya suka bermain judi.

Berusaha untuk menutupi kesalahannya, sang pengusaha mengatakan bahwa alasan dirinya bangkrut karena ditipu oleh sahabatnya sendiri. Kisah bergulir dari mulut ke mulut, hingga seluruh daerah mengetahui akan berita tersebut. Semua orang bersimpati terhadap sang pengusaha dan menyalahkan sang sahabat. Setelah sang sahabat mengetahui tentang berita tersebut, dia menjadi sangat sedih dan jatuh sakit. Semua orang tetap memandang sinis dan menjauhi sahabat dari pengusaha tersebut. Semua orang menganggap bahwa sakit yang diderita adalah akibat dari kesalahan sahabat itu sendiri.

Tak lama kemudian, pengusaha tersebut kemudian mendapat kabar bahwa sang sahabat sakit keras dan dia segera mengunjungi sahabatnya. Melihat keadaan sahabatnya, sang pengusaha sangat menyesal karena dia tidak menyadari bahwa dampak kabar bohong yang telah diciptakan untuk melindungi dirinya sendiri ternyata sangat melukai hati sahabatnya. Merasa bersalah dan sadar akan kesalahannya, sang pengusaha malu dan meminta maaf. Sang pengusaha bertanya, “Sahabatku yang baik, apakah yang dapat kulakukan untuk menebus kesalahanku padamu?”

Sang sahabat berkata, “Ambillah bantal dan naiklah ke atap rumah. Buka kain bantal dan keluarkan kapasnya. Tebarkan kapas-kapas tersebut secara perlahan, hingga kapas itu habis!” Sang pengusaha segera melakukan hal tersebut dan setelah selesai dia bertanya, “Aku sudah melakukannya, adakah permintaanmu yang lain?” Sang sahabat kemudian berkata, “Ada. Kumpulkanlah kembali kapas-kapas yang telah kau tebarkan di atap rumah tadi.”

Sang pengusaha berkata, “Maafkan sahabatku, aku tak dapat mengumpulkannya kembali karena kapas-kapas itu telah terbang terbawa angin.” Sang sahabat berkata, “Demikian juga dengan berita bohong yang telah engkau sebarkan, engkau tidak dapat menariknya kembali bukan?” Sang pengusaha terdiam, merasa disadarkan akan kesalahannya, lalu memeluk sahabatnya dan berkata, “Terimakasih sahabatku, meski aku telah berbuat jahat kepadamu engkau masih berbaik hati untuk mengajarkan kepadaku pelajaran tentang kehidupan yang baik. Aku berjanji akan memperbaiki kelakuanku dan keadaan ini semampu diriku.”

Nilai Moral: Memang sulit untuk mengakui kesalahan yang sudah kita perbuat, tetapi lebih baik kita hidup secara bertanggung-jawab atas kehidupan yang sudah kita lakukan. Berita bohong yang kita sebarkan dapat membuat reputasi dan nama orang lain tercemar. Jika sudah tercemar apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita bisa menarik kembali berita bohong tersebut dan membersihkan kembali nama baik yang sudah tercemar itu? Oleh sebab itu alangkah baiknya jika kita mampu menceritakan sisi kebaikan/sisi positif seseorang lebih banyak dibandingkan sisi negatifnya. Berhikmatlah dalam setiap perkataan dan ucapan kita.

Disadur dari buku “18th Wisdom & Success”
Ditulis oleh Andrie Wongso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s