Malaikat Pelindung

Standard

Don Ritchie telah menyelamatkan banyak orang yang ingin mengakhiri hidup mereka di lokasi bunuh diri paling terkenal di Australia.

Dalam momen-momen gelap ketika jiwa-jiwa tersesat itu berdiri di tebing, menimbang apakah mereka sebaiknya meloncat atau tidak, bunyi desir angin dan ombak dipecahkan oleh suara yang lembut. “Maukah Anda minum secangkir teh?” Orang asing itu bertanya. Ketika mereka menoleh ke arah dia, senyumnya kerap menjadi penyelamat bagi mereka. Hampir selama 50 tahun, Don Ritchie tinggal di seberang lokasi bunuh diri paling terkenal di Australia, tebing berbatu yang dinamai The Gap (jurang), terletak di pintu masuk Pelabuhan Sydney. Dan selama itu, pria yang dikenal luas sebagai malaikat penjaga tersebut telah menyelamatkan banyak orang dari tepi jurang.

Beberapa orang menganggap hal itu suram, tetapi Don memandangnya sebagai berkah. Mantan agen asuransi jiwa itu berkata, betapa indah menyelamatkan banyak nyawa. Betapa indah menjual hidup kepada mereka. “Anda tak bisa hanya duduk di sana dan menonton mereka,” ujar Don, kini berusia 84, sambil duduk di kursi kulit berwarna hijau kesayangannya, tempat dia mengawasi tebing di luar. “Anda harus mencoba menyelamatkan mereka. Sederhana saja.”

Sejak 1800-an, orang-orang putus asa telah pergi ke The Gap untuk mengakhiri hidup. Hanya ada pagar setinggi satu meter lebih yang memisahkan mereka dari tepi. Menurut pejabat setempat, setidaknya ada satu orang setiap minggu yang mencoba bunuh diri di sana, dan Dewan Woollahra telah mengajukan pendanaan federal untuk membangun pagar yang lebih tinggi dan meningkatkan keamanan di kawasan itu. Sementara itu, Don terus mengawasi secara sukarela. Baru-baru ini, dewan menjuluki Don dan Moya, istrinya selama 58 tahun, sebagai Warga Pilihan 2010.

Dia telah menyelamatkan 160 orang, menurut perhitungan resmi, tetapi angka itu hanya perkiraan. Don tidak pernah menghitung. Dia hanya tahu kalau dia mengawasi tepian itu dari kejauhan, lalu berupaya sesuai kemampuannya. Dianne Gaddin percaya bahwa Don berada di samping putri Dianne sebelum dia melompat pada 2005. Meskipun Don sekarang tidak ingat, Dianne merasa nyaman membayangkan bahwa Tracy merasakan kehangatan Don pada momen akhir hidupnya itu. “Dia seorang malaikat,” kata Dianne. “Sebagian besar orang mungkin terlalu takut untuk melakukan apa pun dan cepat-cepat berpaling lalu kabur. Tetapi Don punya keberanian, karisma, kepedulian dan daya magnet untuk meraih orang-orang yang telah patah arang.”

Ada sesuatu dalam diri Don yang memancarkan perasaan tenang. Suara seraknya menenangkan dan mata biru pucatnya lembut. Meskipun tubuhnya tinggi—lebih dari 1,8 meter (kurang tiga sentimeter dari biasanya, katanya sambil menyeringai), dia sama sekali tak tampak bongsor. Setiap pagi, dia bangkit dari tempat tidur, melangkah ke jendela kamar rumahnya yang sederhana dan bertingkat dua, lalu meninjau kondisi tebing. Bila dia menemukan ada yang berdiri sendirian terlalu dekat dari tebing, dia buru-buru pergi ke sisi pria atau wanita itu.

Beberapa orang yang dia ajak berbicara ternyata sedang berjuang melawan penyakit; yang lain menderita gangguan mental. Kadang-kadang, mereka yang melompat meninggalkan kenang-kenangan di tepian—catatan, dompet, sepatu. Don pernah terburu-buru menolong seorang pria yang memakai tongkat penopang. Begitu dia tiba, hanya tongkaynya yang tertinggal.

Ketika masih lebih muda, dia biasanya memanjat pagar untuk menahan orang sementara Moya menelepon polisi. Dia akan membantu tim penyelamat mengangkat jenazah mereka yang tak bisa diselamatkan. Setelah itu dia akan mengundang para penyelamat ke rumahnya untuk minum. Semua itu hampir saja membahayakan nyawanya sendiri. Sebuah foto mengerikan yang diambil beberapa dekade lalu oleh fotografer berita lokal memperlihatkan Don bergelut dengan seorang wanita, hanya beberapa sentimeter dari tepi. Wanita itu tampak berupaya menjatuhkan dirinya dari samping—Don adalah satu-satunya yang menghalangi dia dari jurang. Kalau saja wanita itu berhasil, Don pasti sudah jatuh ke jurang juga.

Akhir-akhir ini, Don menjaga jarak aman. Dewan memasang kamera pengaman sejak tahun lalu, dan penemuan ponsel membuat seseorang sudah menelepon minta bantuan sebelum Don menyeberang jalan. Tetapi dia tetap bersedia menyediakan telinga, meskipun dia tak pernah mencoba menasihati, menyarankan, atau memaksa. Dia hanya memberi mereka senyuman hangat, bertanya apakah mereka ingin mengobrol, dan mengundang mereka ke rumahnya untuk minum teh. Kadang-kadang, mereka menuruti dia.

“Aku menawari mereka alternatif,” kata Don. “Aku selalu bersikap bersahabat. Aku tersenyum.” Tentu saja, sebuah senyuman tidak bisa menyelamatkan semua orang. Motivasi di balik bunuh diri terlalu beragam. Namun yang mengejutkan, kebaikan sederhana bisa sangat efektif. Ahli kesehatan mental menceritakan tentang sebuah catatan yang ditinggalkan oleh seorang pria yang melompat dari Jembatan Golden Gate, San Fransisco. “Jika satu orang saja tersenyum kepadaku dalam perjalanan menuju jembatan, aku tak akan melompat,” tulis pria itu.

Dengan menawarkan simpati, Don membantu mereka yang ingin bunuh diri untuk berpikir di luar kemalangan mereka saat ini, tutur psikiater Gordon Parker, direktur eksekutif Institute Black Dog, pusat penelitian gangguan mood yang telah mendukung upaya dewan untuk meningkatkan keamanan di The Gap. “Mereka biasanya tidak ingin mati, mereka lebih menginginkan rasa sakit mereka hilang,” kata Gordon. “Jadi siapa pun yang menawarkan kebaikan atau harapan memiliki kapasitas untuk membantu banyak orang.” Kevin Hines berharap ada seseorang seperti Don ketika dia melompat dari Jembatan Golden Gate pada 2000. Selama 40 menit, Kevin yang waktu itu berusia 19 menyusuri jembatan, menangis dan berharap ada orang yang bertanya ada apa. Seorang turis akhirnya menghampiri dia—tetapi hanya untuk meminta Kevin memotret dia. Beberapa saat kemudian, dia melompat.

Kevin, yang menderita gangguan bipolar (manik depresif), cedera berat, tetapi akhirnya berhasil pulih. Sekarang dia berkata, jika ada satu orang saja yang memperlihatkan kepedulian pada penderitaan Kevin, dia mungkin tak akan pernah melompat. “Senyuman dapat berdampak besar—perhatian bisa berdampak lebih besar lagi. Don menawarkan mereka teh dan mau mendengarkan, itulah yang diinginkan oleh mereka,” kata Kevin. “Orang seperti dialah yang diinginkan oleh mereka yang ingin bunuh diri.” Pada 2006, pemerintah menghargai upaya Don dengan menganugerahi medali Order of Australia untuk penyelamatan yang dia lakukan. Medali itu digantung di dinding ruang tamunya, di atas lukisan sinar matahari yang dimasukkan seseorang di kotak suratnya. Di dalamnya ada pesan yang menyebut Don sebagai “malaikat yang berjalan di antara kami.”

Dia tersipu-sipu. “Itu membuatmu—oh, entahlah,” katanya sambil memalingkan wajah. “Aku merasa senang.” Tetapi dia berbicara secara tegas dan penuh kasih sayang tentang seorang wanita yang dia selamatkan, yang kembali untuk berterima kasih. Don melihat dia duduk sendirian, tasnya sudah berada di balik pagar. Don mengundang dia ke rumah untuk menemui Moya dan menikmati teh. Pasangan itu mendengarkan masalahnya dan berbagi sarapan dengan dia. Akhirnya, suasana hati wanita itu membaik, lalu dia pulang. Dua bulan kemudian, dia kembali dengan sebotol sampanye. Sekitar setahun sekali, dia berkunjung atau mengirim surat, meyakinkan mereka kalau dia bahagia dan baik-baik saja.

Meskipun begitu, ada pula beberapa yang tidak bisa diselamatkan Don. Seorang remaja mengabaikan bujukannya dan tiba-tiba melompat. Angin meniup topi remaja itu ke tangan Don yang sudah terlulur menggapai dia. Ibunya membawakan bunga untuk Don dan berterima kasih atas upayanya. Si ibu berkata, bila Anda tak bisa membujuk dia, tak ada siapa pun yang bisa. Walaupun telah menyaksikan banyak hal, Don tak merasa dihantui oleh mereka yang telah tiada. Dia tak bisa mengingat aksi bunuh diri pertama yang dia lihat, dan tak satu pun yang mengganggu mimpinya. Menurutnya, dia telah melakukan yang terbaik untuk setiap orang, dan bila dia kehilangan satu orang, dia menerima bahwa tak ada lagi yang bisa dia lakukan.

Baik Don maupun Moya tak pernah merasa terbebani oleh lokasi rumah mereka yang berdekatan dengan tebing. “Menurutku, bukankah justru bagus kami tinggal di sini dan bisa membantu orang-orang?” Tutur Moya, sementara Don mengangguk setuju. Hidup mereka selama ini baik, kata pasangan itu. Mereka membesarkan tiga putri yang cantik, dan kini memiliki tiga cucu untuk disayangi. Mereka telah berkeliling dunia. Sampai setahun lalu, kehidupan sosial Don cukup padat, dia makan siang bersama teman-temannya secara teratur. Tetapi perjuangan melawan kanker dan usia yang semakin lanjut telah memperlambat langkahnya. Kini dia menghabiskan hari-harinya di rumah bersama Moya, terbenam dalam buku-buku yang bagus.

Sesekali, dia mengangkat wajah dari bukunya untuk mengamati cakrawala, siapa tahu ada yang membutuhkan dia. Dia akan tetap melakukan hal itu selama dia masih di sini katanya. Dan bila dia sudah tidak di sini? Dia tertawa kecil, “Aku membayangkan ada orang lain yang akan datang dan melakukan juga apa yang selama ini kulakukan.” Dia memandang melalui pintu kaca ke arah tebing di luar. Dan wajahnya bercahaya oleh senyuman.

Jangan hanya diam berdiri, berbuatlah sesuatu -Lee Iacocca

Dikutip dari artikel “Malaikat Pelindung” dari “Reader’s Digest Indonesia”
Ditulis oleh Kristen Gelineau
Halaman 100-107

Be a Hero for Others!
Happy Heroes Day, November 10, 2011..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s