Bergantung

Standard

Lima kali kata “goncang” ditulis dalam Ibrani 12:26-29. Ini berarti bahwa Allah benar-benar serius dengan apa yang dikatakan-Nya, bahwa kegoncangan akan benar-benar terjadi. Kegoncangan itu benar-benar hebat, sehingga dirasakan oleh siapa saja di mana saja, termasuk orang kristiani. Namun, orang percaya yang mengenal dengan benar Tuhan Allahnya, akan tetap tenang. Jadi, kunci pertama menghadapi krisis adalah mengenal Tuhan dengan benar (ayat 26). Kunci kedua adalah mengucap syukur senantiasa (ayat 28). Bagaimana kita bisa mengucap syukur dalam segala keadaan?

Pertama, tidak menyalahkan orang lain. Seringkali, ketika seseorang menghadapi masalah, ada dua kata tanya yang ia ajukan, yaitu “why’ (mengapa) dan “how” (bagaimana). Ternyata survey menyebutkan bahwa banyak orang cenderung bertanya ‘mengapa’ daripada ‘bagaimana’. Menurut penelitian, kata ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ muncul karena motivasi yang berbeda. Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan hati kita untuk memutuskan satu tindakan spesifik terhadap satu kasus tertentu. Seringkali motivasi hati kita tidak murni ketika menghadapi masalah. Oleh karena itu Tuhan mengijinkan krisis terjadi supaya motivasi kita dimurnikan kembali.

Munculnya motivasi yang salah sangat bergantung pada nilai-nilai yang kita pegang. Firman Tuhan mengatakan, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur..” (Ayat 28a). Seseorang bisa mengucap syukur jika ia beriman sudah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, yaitu keselamatan oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Kecenderungan motivasi orang yang bertanya ‘mengapa’ adalah untuk menyalahkan orang lain. Sedangkan, kecenderungan orang yang bertanya ‘bagaimana’ adalah bukan menyalahkan siapa-siapa, tetapi menunjukkan kebesaran hati untuk tetap percaya kepada Tuhan, dan mencari jalan keluar terbaik untuk mencapai keberhasilan.

Michael Phelps, seorang perenang asal AS memecahkan rekor sebagai pemenang medali emas terbanyak di Olimpiade Beijing. Total ia memenangkan 11 emas, 2 kali lebih banyak dari Carl Lewis dan Mark Spitz. Sekalipun demikian, Michael pernah mengalami kekalahan yang menyakitkan, terjadi tepat 3 bulan sebelum Olimpiade Beijing dimulai. Segera setelah kekalahannya itu, ia menemui pelatihnya. Ia tidak bertanya mengapa kalah, tetapi bagaimana supaya ia tidak kalah lagi. Ia tidak menyalahkan siapapun dan terus memperbaiki kecepatannya sehingga memenangi banyak medali emas. Kalau kita memiliki sikap hati yang positif terhadap krisis, pasti akan mendatangkan perbaikan.

Hal kedua yang harus kita lakukan agar bisa mengucap syukur dalam segala keadaan adalah menjaga hubungan intim dengan Tuhan. Kota Laodikia dibangun oleh Raja Antiokhus sebagai hadiah untuk istrinya, Laodike. Dalam perkembangannya, kota ini semakin maju dan menjadi pusat dalam banyak hal, antara lain pusat perbankan, pusat mode, pusat kemajuan ilmu kedokteran. Namun di tengah kehebatannya itu, Tuhan justru menegur (Wahyu 3:17-20). Ada satu yang kurang di hadapan Tuhan, kota Laodikia kehilangan keintiman dengan Tuhan. Keintiman dengan Tuhan mutlak dibutuhkan supaya kita memiliki kekuatan untuk menghadapi krisis.

Terri Blackstock adalah seorang penulis sukses, mapan dan tidak pernah berulah. Seorang kristiani yang taat. Namun, dalam segala kegemilangannya, ia menyadari bahwa ia telah jauh dari Tuhan. Ia kehilangan keintiman dengan Tuhan. Karenanya ia memutuskan untuk berhenti menulis. Setelah memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, ia menulis buku “Soul Restoration” disertai sebuah pengakuan, “Orang hanya melihat apa yang tampak di luar, yang terlihat baik-baik saja. Padahal masalah yang sesungguhnya ada di dalam.”

Tuhan memberkati bukan supaya kita jauh dari Tuhan, tetapi supaya kita semakin dekat dengan-Nya. Bagi Tuhan yang terpenting bukanlah harta, tetapi hubungan dan kedekatan diri kita dengan-Nya. Oleh karena itu, Allah sangat kehilangan ketika kita jatuh dalam dosa. Bahkan untuk memulihkan hubungan yang rusak itu, Allah rela mengorbankan Yesus, Putra-Nya. Keberhasilan dan harta tidak bisa mengisi kekosongan hidup kita dan tidak bisa menghilangkan kekuatiran kita, hanya Allah saja. Oleh karena itu, jangan meremehkan kedekatan dengan Allah.

Terri sadar bahwa selama ini ia memiliki sikap hati yang salah, dia lebih dituntun kepada tujuan keberhasilannya daripada untuk dekat dengan Bapanya yang di Sorga. Dan ketika ia kembali kepada Bapa, bukunya “Soul Restoration” menjadi yang paling laris dari semua buku karyanya. Kita bisa mengucap syukur senantiasa jika memilih untuk bertanya ‘bagaimana’ dalam menghadapi masalah dan menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan. Maka krisis terberat sekalipun tidak akan menghapus keyakinan bahwa Allah beserta kita, dan tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tuhan Yesus memberkati.

Disarikan dari khotbah Pdt. Andreas Nawawi
Pernah dimuat di Warta Gereja Mawar Sharon
(pada tanggal 14 Desember 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s