Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara,
Bagian Kedua (Selesai)

Sementara si anak tengah di usia lima tahun berhasil menjuarai Kejuaran Nasional Hungaria KU-11, dan medali emas Kejuaran Dunia Wanita KU-14 enam tahun kemudian. Dia juga ikut berjasa memenangkan medali emas Olimpiade Catur Wanita untuk Hungaria, bahu-membahu dengan saudaranya, dengan mengalahkan regu Uni Soviet yang dianggap sebagai regu favorit. Pencapaian terbesarnya adalah di sebuah kejuaraan di Roma, saat dia secara berturut-turut berhasil membantai delapan grandmaster pria, sebuah prestasi yang bahkan sulit dilakukan oleh Garry Kasparov, pecatur tertangguh dunia saat itu.

Dan bagaimana dengan si bungsu? Tak mau kalah, si bungsu meraih juara dunia catur KU-12 untuk pria dan wanita (pertama kali seorang wanita berhasil melakukannya). Pada usia lima belas tahun empat bulan, si bungsu berhasil menjadi grandmaster catur termuda dalam sejarah, bahkan mengalahkan usia legenda catur seperti Bobby Fischer dan Garry Kasparov ketika meraih gelar serupa. Dia menempati peringkat pertama catur wanita dunia selama lebih dari sepuluh tahun dan sepanjang kariernya berhasil mengalahkan para juara dunia pria seperti Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan Viswanathan Anand. Sampai sekarang, dialah pecatur wanita terkuat dalam sejarah umat manusia.

Bagi Anda yang mengikuti perkembangan dunia catur, Anda tentu sudah mengenal mereka. Ya, merekalah Polgar bersaudara. Susan (sulung), Sofia (tengah), dan Judit (bungsu). Mimpi dan kerja keras Laszlo menjadi kenyataan. Dia berhasil membuktikan dengan sukses bahwa juara kelas dunia bisa dihasilkan melalui latihan terencana, dan bukan karena bakat.

Keberhasilan ketiga bersaudara Polgar, yang sering dijuluki Polgaria tersebut, tentunya mampu membuktikan banyak hal. Sama menariknya, di sisi lain, ketidakberhasilan mereka juga bercerita tentang sesuatu. Dari ketiganya, prestasi anak tengah termasuk yang paling biasa (dialah satu-satunya saudara yang tidak berhasil meraih gelar grandmaster), sementara si bungsu paling cemerlang. Penjelasan untuk perbedaan tersebut sungguh sederhana: Sofia memang tidak serajin dua saudaranya walau para analis yang mengikuti perkembangan ketiga ratu catur tersebut setuju Sofia sebenarnya yang paling berbakat. Sebaliknya, seperti penuturan Susan, Judit bukanlah yang paling berbakat dan memulai paling lambat, tetapi dia adalah pekerja paling keras. Selain itu, ada satu penjelasan lain yang tak kalah pentingnya: Ketika melatih Judit, Laszlo yang sudah melatih ribuan jam juga sudah berhasil menjadi pelatih catur kelas dunia. Teknik-teknik latihannya sudah lebih sempurna sehingga Judit mendapatkan materi latihan yang lebih berkualitas.

Judit sendiri, meski pernah berhasil masuk 8 besar dunia berdasarkan ranking pecatur pria, tidak berhasil menjadi juara dunia pria. Hal itu tidak perlu diherankan karena para pemain catur pria, terutama dari negara-negara bekas Uni Soviet, juga sudah belajar dari kecil, dengan para pelatih kelas dunia (dan beberapa di antaranya bekas juara dunia), dengan dukungan penuh dari pemerintah. Dengan kata lain, kualitas latihan mereka lebih baik daripada yang bisa diberikan seorang Laszlo Polgar. Sebagai wanita, Polgar bersaudara juga sulit menghindar dari hakikat mereka. Setelah mereka menikah dan melahirkan anak, konsentrasi mereka mulai terpecah. Susan dan Sofia malah sudah absen dari dunia catur semenjak berkeluarga. Hanya Judit yang masih terus bermain, walau sempat cuti karena hamil.

Apakah semua mimpi Laszlo sudah tercapai? Tampaknya demikian. Tetapi sebenarnya dia masih menyimpan seonggok bara dalam dirinya. Sekitar dua puluh tahun lalu, seorang miliuner Belanda, Joop van Oosterom, menghadap Laszlo dengan sebuah tantangan: Bagaimana bila Laszlo mengulangi kembali eksperimennya, namun kali ini dengan mengambil tiga anak laki-laki dari dunia berkembang, membesarkan mereka sebagaimana mereka membesarkan ketiga ratu catur tersebut, dan menciptakan tiga raja catur baru. Bila dia berhasil, dunia akan semakin yakin.

Laszlo tergelitik. Sayangnya Klara yang biasanya diam, menentang keras. Klara berpendapat hidup tidak hanya melulu tentang catur dan dia mungkin benar. Namun bara itu tak sepenuhnya padam. Sesekali, Laszlo masih tergoda atas tawaran tersebut.

Selesai.

Dikutip dari buku “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jarinya”
Ditulis oleh It Pin Arifin
Halaman 51-53

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s