Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara, Bagian Pertama

Standard

Berikut adalah contoh dari orang-orang yang sukses dengan nama besar di dalam bidangnya masing-masing, di mana mereka meraihnya dengan bekerja keras dan bertekun berlatih setiap hari untuk dapat menguasai apa yang mereka kerjakan sesuai dengan bidangnya. Ada tiga bagian yang Penulis akan mencoba bagikan kepada para Pembaca sekalian, yakni, “Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara”, “Bakat Tidaklah Dilahirkan”, dan “Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras”.

Untuk bagian pertama, akan dibagikan “Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara” yang akan disajikan menjadi dua bagian. Selamat menikmati..

Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara
Bagian Pertama

Sekitar empat puluh tahun lalu di sebuah negeri bernama Hungaria, hiduplah Laszlo, seorang psikolog muda yang penuh dengan mimpi. Laszlo menghabiskan sebagian masa mudanya dengan menyelidiki biografi ratusan intelektual kelas dunia. Ia tiba pada kesimpulan bahwa kebesaran mereka adalah buah kerja keras dan bukan bakat bawaan, dan kerja keras tersebut dimulai sedini mungkin. Berbekal pengetahuan baru yang diperolehnya, dia berusaha menjual idenya, termasuk ke pemerintah dan sekolah-sekolah di Hungaria. Bila idenya diterapkan sebagian saja dalam sistem pendidikan di Hungaria, negara tersbut akan menghasilkan banyak bakat-bakat besar, demikian garis besar argumennya. Untuk menjual idenya di kalangan lebih luas, dia juga menulis buku “Bring Up Genius!

Namun mengajak orang lain berubah bukanlah hal mudah. Laszlo adalah seorang pemimpi dan dia tahu arti kata “ketekunan”. Bila tidak ada yang bersedia mencoba idenya, dia akan melakukan eksperimen sendiri dengan anak-anaknya. Tetapi masalahnya cuma satu. Dia masih bujangan dan untuk melakukan eksperimen tersebut, dia jelas-jelas membutuhkan seorang istri. Laszlo tidak jelek dan dia pasti bisa mendapatkan banyak calon istri bila dia mau. Namun, yang dia perlukan bukanlah sembarang istri. Dia butuh seseorang yang punya impian yang sama dengannya.

Pencariannya pun dimulai melalui surat-menyurat. Kala itu, korespendensi antarsesama penduduk negara komunis Eropa Timur adalah hal yang lazim untuk memperluas wawasan. Dengan gairah yang menyala-nyala ditulisnya surat tersebut. Secara terperinci dia mengutarakan teorinya dengan harapan setidaknya ada satu dua wanita yang tertarik. Jelas tidak semua wanita tergetar dengan gairah yang bisa dianggap salah tempat tersebut. Beberapa malah langsung berhenti membalas suratnya. Tetapi untung saja ada Klara, seorang guru bahasa asing di Ukraina (waktu itu bagian dari Uni Soviet). Membaca surat-surat Laszlo yang penuh dengan semangat, hati Klara tergelitik. Tak lama kemudian, bertemulah mereka. Di hadapan Klara, berdiri seorang pria yang gagah dan penuh semangat yang segera meluluhkan hati Klara. Sebuah kisah cinta abadi bermula; abadi karena apa yang akan dicapai oleh Laszlo dan Klara akan membuka mata dunia.

Pada tanggal 19 April 1967, Laszlo menikahi Klara. Dua tahun kemudian, 19 April 1969, lahirlah putri pertama mereka. Kedua suami istri tersebut mulai berpikir bidang apa yang hendak mereka ajarkan pada sang anak. Tujuan mereka hanya satu: Menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa melatih seorang anak menjadi ahli kelas dunia. Agar eksperimen tersebut tidak diragukan hasilnya, mereka mencari hasil yang benar-benar spektakuler, objektif, dan sulit digugat. Akhirnya mereka menemukan bidang yang sesuai: Catur!

Catur tak bisa dipungkiri lagi adalah bidang olahraga yang hasilnya bisa diukur secara objektif. Tidak sama dengan olahraga kelompok seperti bola voli atau bola basket, pencapaian pada catur dinilai berdasarkan prestasi perorangan. Catur mengenal sistem pemeringkatan berdasarkan hitungan matematis yang disebut ELO rating, sebuah sistem pemeringkatan sangat objektif yang jarang dimiliki olahraga lain. Catur adalah dunia yang selama ini didominasi oleh kaum pria. Bila ada seorang wanita yang mampu menembus dominasi tersebut, semua orang pasti akan memberikan perhatian. Tekanan ekonomi di bawah rezim komunis dan gaji kecil Laszlo sebagai seorang guru juga menjadi salah satu alasan mereka memilih catur yang tidak membutuhkan biaya besar. Dan yang tak kalah penting, kedua suami istri tersebut bukanlah pemain catur profesional. Meskipun menyukai catur, kemampuan catur Laszlo biasa-biasa saja. Klara malah tidak bisa bermain catur sama sekali. Dengan semua latar belakang tersebut, bila anak perempuan mereka sukses di bidang catur, orang-orang tidak bisa menganggapnya sebagai bawaan dari orangtua.

Maka, selama beberapa tahun berikutnya suami istri tersebut rajin mengumpulkan buku-buku catur dan belajar dari sana untuk kemudian mengajarkannya ke anak perempuan mereka. Demi menunjukkan keseriusan mereka, si anak hanya disekolahkan di rumah dengan target ia bisa lulus ujian nasional dengan nilai secukupnya. Mayoritas waktu si kecil dihabiskan untuk belajar catur, catur, dan catur. Sebelum usianya yang keempat, si anak sudah terbiasa berlatih catur dengan disiplin beberapa jam setiap harinya.

Pada usianya yang kelima, sang anak diikutkan dalam kompetisi catur lokal. Saking kecilnya, dia tidak bisa melihat permukaan meja catur ketika duduk bertanding. Lawan-lawannya rata-rata berumur dua kali lebih tua. Tetapi itu tidak membuatnya berkecil hati. Sebuah pertunjukan spektakuler memukau para penonton dan pengamat. Sang anak bukan saja memenangkan kompetisi sepuluh babak tersebut, tetapi berhasil mengumpulkan nilai sempurna: 10 dari 10 kali pertandingan. Seorang berbakat telah lahir, bukan dari keturunan, tetapi dari hasil latihan!

Tanggal 2 November 1974, anak perempuan kedua pasangan Laszlo dan Klara lahir; menyusul si bungsu, juga seorang anak perempuan, pada tanggal 23 Juli 1976. Eksperimen diteruskan ke kedua anak tersebut. Saat mereka sudah bisa merangkak, sebagai ganti boneka, mereka mendapat mainan bidak catur. Setiap hari mereka sekeluarga berkumpul bersama sambil menyaksikan si sulung berlatih. Begitu mereka sudah siap, si anak tengah dan anak bungsu diajak berlatih bermain catur dengan intensitas yang sama seperti si sulung.

Apa yang terjadi dengan ketiga gadis tersebut? Kita mulai dari si sulung terlebih dahulu: Pada usia 12 tahun, dia menjadi juara dunia wanita untuk KU-16 tahun. Dua tahun kemudian, dia menjadi pemain catur wanita nomor satu dunia. Di tahun 1991, dia memegang gelar grandmaster catur. Dia lalu berhasil menjadi juara dunia wanita selama empat tahun, dan lima kali mengantarkan negaranya meraih medali emas Olimpiade Catur Wanita. Dia juga berhasil menjadi satu-satunya orang dalam sejarah (baik pria mau pun wanita) yang meraih tiga jenis juara dunia sekaligus (catur kilat, catur cepat, dan catur klasik). Sayangnya pada tahun 1986 dia dilarang bermain di Kejuaraan Dunia Catur Pria, walaupun dia sudah berhasil lolos babak penyisihan.

Bersambung ke “Kisah tentang Tiga Ratu Kecil, Laszlo dan Klara, Bagian Kedua (Selesai)”

Dikutip dari buku “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jarinya”
Ditulis oleh It Pin Arifin
Halaman 47-51

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s