Kata untuk Anggun, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Kata untuk Anggun,
Bagian Kedua (Selesai)

Suhu di ruang makan menukik tajam sampai hampir membeku. Ritz, yang tubuhnya dibalut jas panjang, memerintahkan agar meja makan siang ditata di ruang duduk–kamar yang bertirai merah dan terlihat lebih hangat. Ke dalam empat wadah tembaga raksasa, yang biasanya digunakan untuk pot pohon palem, dituangkannya alkohol dan dinyalakannya. Batu bata dimasukkan ke dalam oven. Ketika para tamu itu tiba, ruang duduk sudah terasa hangat dan di bawah kaki setiap orang diletakkan bata panas yang dibungkus dengan kain flanel. Makanannya adalah mahakarya cuaca-dingin, dimulai dengan sup bening panas beraroma lada dan diakhiri dengan crepes suzette yang menyala-nyala.

Keajaiban kecil yang dihasilkan oleh pemikiran kilat ini menjadi buah bibir pada setiap acara kumpul-kumpul kalangan perhotelan. Akhirnya, berita itu terdengar oleh pemilik hotel besar di Lucerne yang terus merugi. Dia meminta Ritz untuk menjadi general manager. Dalam waktu dua tahun, orang desa berusia dua puluh tujuh tahun itu berhasil memulihkan kondisi keuangan hotel itu sehingga mulai meraup keuntungan.

Bagi Ritz tidak ada hal kecil yang terlalu remeh, tidak ada perusahaan yang terlalu besar jika dia harus menyenangkan tamu. “Orang senang dilayani,” begitu Ritz pernah berkata, “tapi tanpa terlihat.” Aturan yang dirumuskannya adalah empat perintah pengelolaan hotel terbaik dewasa ini: Melihat semuanya tanpa memperhatikan; mendengar semuanya tanpa mendengarkan; menaruh perhatian tanpa merendahkan diri; mengantisipasi tanpa bersikap angkuh.

Jika ada tamu yang mengeluh karena tagihan yang terlalu tinggi, dia tersenyum dengan ramah, membawa pergi kwitansi itu dan lupa membawanya kembali. Jika tamu tidak suka hidangan atau wine, maka hidangan dan wine itu disingkirkan dari mejanya. Ritz memiliki daya ingat yang luar biasa. Dia ingat tamu mana yang suka rokok Turki merek tertentu, siapa yang suka chutney (acar India)–dan di saat mereka tiba, rokok dan chutney kegemaran mereka sudah tersedia. Dia juga sangat telaten melayani para tamu setianya. Tamu yang berperawakan tinggi mendapati tempat tidur ekstra panjang di kamarnya. Ny. Smith, yang tidak tahan bunga, tidak pernah merasa kesal karena tidak pernah ada bunga di kamarnya, tetapi Ny. Jones, yang sangat menyukai gardenia, selalu mendapatkan satu pot bunga kesayangannya itu pada baki sarapannya.

Pada tahun 1892, Ritz pergi ke London untuk mengambil-alih Hotel Savoy yang sedang sekarat. Masyarakat menanggapinya dan hotel itu berhasil diselamatkan dalam waktu yang sangat singkat, yang mencengangkan semua orang. Dengan menjelajahi satu demi satu kamarnya, Ritz membereskan kembali tempat tidur untuk memastikan bahwa sudah rapi; suatu kali, ketika memeriksa ruang makan, dia mencium bau sabun pada sebuah gelas dan menyuruh orang untuk mencuci kembali ratusan gelas.

Suatu hari, dia sedang menata kembali dekorasi di kamar pengantin, dan lampu kandil kuningan yang menggantung dari langit-langit membuatnya risi. Ketika dia mencari cara lain untuk menerangi kamar itu agar tidak terlalu mencolok, tembok hias yang menjorok ke dalam memunculkan sebuah gagasan. Dia memasang lampu di dalam dinding itu–maka pencahayaan tak langsung pun mulai dikenal. Ketika mengelola sebuah pesta untuk Alfred Beit, raja berlian dari Afrika Selatan, Ritz membanjiri ballroom Savoy–mengubahnya menjadi sebuah Venesia mini. Para tamu dilayani sambil mereka duduk santai di dalam sebuah gondola.

Zaman keemasan Ritz di Savoy berakhir dengan pertengkaran antara dirinya dengan para direktur. Dia kembali ke kota Paris yang dicintainya dan mewujudkan impian yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun: Dia mendirikan, di Place VendUme, hotel Ritz yang paling mewah. Untuk menghalau para pemalas, dia merencanakan sebuah lobi kecil. Untuk menggairahkan orang mengobrol sambil minum teh atau kopi, dia merancang sebuah kebun. Karena menginginkan kebersihan, dia mengecat dinding, bukan menutupinya dengan kertas dinding karena cat bisa dicuci. Untuk rancangan perabotannya, dia mengunjungi Versailles dan Fountainbleau. Untuk skema warna, dia meminjamnya dari lukisan Van Dyck. Terobosan barunya berupa kamar-kamar yang dilengkapi kamar mandi sendiri. Pada hari pembukaannya, orang berduyun-duyun datang melalui koridor seperti memasuki museum, terutama untuk melihat kamar mandinya.

Keberhasilan Ritz Paris tidak pernah diragukan. Pada sebuah buku menu makan malam yang disimpan oleh seorang karyawan Ritz yang sudah tua, tertera tanda tangan empat orang raja, tujuh orang pangeran, dan beberapa orang terpandang. Pada semua bidang, Ritz menumpahkan perhatian yang luar biasa, peka terhadap setiap suasana hati dan harga. Di sini Ritz menetapkan pakaian seragam pelayan tradisional: Dasi putih untuk pelayan pria, dasi hitam untuk kepala pelayan. Dia juga mendandani pengantar tamu dengan kancing kuningan.

Pada peralihan abad, Ritz mendirikan dan membuka Carlton Hotel di London, dan beberapa tahun kemudian, dibangun hotel di Piccadilly, yang menyandang namanya. Hotel di Piccadilly ini adalah bangunan pertama di Inggris yang menggunakan konstruksi rangka baja, yang diterapkan oleh Ritz karena dia sangat menyukai Menara Eiffel. Sekelompok penyandang dana bergabung dengan Ritz untuk menciptakan Ritz Hotel Development Corporation, yang membangun sebagian besar hotel Ritz yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Pada saat dia berbaring menjelang ajalnya, pada Oktober 1918, Ritz bergumam, mengira istrinya ada di sampingnya, “Jagalah putri kita.” Mereka punya dua orang putra, tapi tidak punya anak perempuan. Bagi suami-istri itu, yang disebut “putri” adalah Hotel Ritz di Paris.

Bahkan sekarang pun, bertahun-tahun setelah kematiannya, hotel dan layanan yang melekat pada nama Cesar Ritz menyandang standar kualitas. Kualitas adalah pola pikirnya setiap hari. Hidangan demi hidangan, hotel demi hotel, Ritz bersedia membayar tinggi untuk menghasilkan kualitas tinggi, dan orang bersedia membaya mahal untuk menikmatinya. Tetapi, seperti kisah sukses lainnya dalam kumpulan kisah ini, reputasinya tidak diraih dalam waktu semalam. Justru diraih sedikit demi sedikit di kala Ritz menangani pencahayaan, musik, penataan, suhu, kebersihan, dan aroma–sehingga menciptakan suasana yang menarik para tamu yang berkelas. Sampai sekarang, orang di seluruh dunia terus mengharapkan kualitas tinggi saat mendengar nama Ritz.

Kualitas memengaruhi cara kita berbicara, berpakaian, bekerja, menghibur, dan makan. Kualitas berdampak pada cara kita berjalan, mengajar, mendengarkan, berolah-raga, belajar, dan bermain. Kualitas adalah salah satu dari sejumlah prinsip yang saling menganyam membentuk permadani kehidupan, yang secara langsung ataupun tidak langsung menyentuh setiap sifat kita dan setiap hal yang kita lakukan. Dan, tidak, kualitas tidak memerlukan banyak biaya, tetapi memang membutuhkan perhatian yang saksama terhadap hal-hal kecil. Apakah Anda mudah puas dengan kualitas pas-pasan, atau apakah nama dan reputasi Anda menyiratkan kualitas?

Selesai.

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh George Kent
Halaman 289-293

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s