Kata untuk Anggun, Bagian Pertama

Standard

Kata untuk Anggun,
Bagian Pertama

Jika kita mengenakan ritz, atau menjelaskan sesuatu sebagai mirip ritz, sebenarnya kita sedang memberikan pujian kepada seorang petani Swiss yang pendidikannya hanya sampai mampu berhitung. Namanya menyiratkan kemewahan. Kisah Cesar Ritz adalah kisah seorang genius yang bekerja keras untuk mengubah pengalaman menginap di hotel menjadi suatu seni. Kita bisa menemukan kesan yang ditinggalkannya di semua benua dewasa ini, manakala sebuah hotel menekankan keanggunan, kenyamanan, dan selera tinggi yang sarat daya cipta.

Ritz hidup pada masa pergantian abad, di kala kaum wanita mulai menuntut kesetaraan gender. Dia mendukung mereka, membantu mereka keluar dari biara bergaya Victoria. Ketika Ritz tiba di London pada akhir tahun sembilan puluhan, misalnya, wanita dari keluarga baik-baik tidak akan berani terlihat makan malam di depan umum. Ritz membujuk beberapa orang wanita terpandang–seperti Duchess of Devonshire dan Lady Dudley–untuk datang bersantap malam di hotelnya. Para wanita lain pun kemudian meneladani kedua wanita tersebut, dan tidak lama kemudian acara santap malam di Savoy Carlton menjadi keharusan dalam pergaulan.

Ritz memperkenalkan pencahayaan lembut untuk memuluskan penampilan kulit wanita dan membuat gaun malam mereka tampak sangat indah. Dia menata ruang makannya sedemikian rupa sehingga kaum wanita, yang harus menaiki tangga yang pendek, dapat “masuk ke ruangan dengan anggun.” Dia bersepakat dengan juru masaknya yang terkenal, Auguste Escoffier, untuk menciptakan belasan hidangan yang menarik, khususnya bagi kaum wanita. Dan dia menyajikan musik pengiring santap malam–untuk yang pertama kalinya di London. Sebagai seorang perfeksionis sejati, dia memilih orkestra Johan Strauss bermain untuk para tamunya.

Cesar Ritz lahir di desa Niederwald di pegunungan Swiss, dan pada usia enam belas tahun bekerja di sebuah ruang makan hotel di kota terdekat, Brieg. Beberapa bulan kemudian, dia dikeluarkan. “Dalam bisnis perhotelan,” demikian komentar atasannya, “kita membutuhkan bakat-bakat alam. Kamu sama sekali tidak memilikinya.

Ritz mendapatkan pekerjaan lain sebagai pelayan restoran–dan lagi-lagi dipecat. Dia berangkat ke Paris, dan di negeri itu dia mendapatkan–dan kehilangan lagi–dua pekerjaan. Kariernya baru mulai menanjak pada pekerjaannya yang kelima, di sebuah restoran kecil yang asri dekat Madeleine. Di situ kariernya menanjak, mulai dari pesuruh, menjadi pelayan, dan akhirnya menjadi manajer. Usianya baru sembilan belas tahun ketika majikannya mengajaknya bermitra. Bagi pemuda lain, tawaran ini mungkin dianggap peluang istimewa. Tetapi, sekarang Ritz sudah tahu apa yang diinginkannya: Dunia yang menyandang nama hebat, jamuan makan dan minum.

Dengan menggulung celemeknya, dia berjalan menuju restoran nomor satu di masa itu, Voisin’s, dan bekerja sebagai pembantu pelayan, sekali lagi merangkak dari bawah. Dia memperhatikan dan belajar–cara menangani bebek dan mengukir daging panggang; cara menuangkan Burgundy; cara menyajikan makanan sehingga memikat mata dan juga indra pengecap.

Pada tahun 1871, Ritz meninggalkan Paris dan selama tiga tahun bekerja di sebuah restoran resor terkemuka di Jerman dan Swiss. Pada saat itu dia menjabat sebagai manajer di restoran di Rigi-Kulm, sebuah hotel di Alpine yang terkenal karena pemandangannya yang indah dan hidangannya yang lezat. Pada suatu hari, alat pemanas ruangan rusak. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan tiba sebuah pesan–empat puluh hartawan Amerika sedang dalam perjalanan menuju restoran itu untuk makan siang.

Bersambung ke “Kata untuk Anggun, Bagian Kedua (Selesai)”

Dikutip dari buku “Everyday Greatness 63 Kisah + 500 Kata-kata Bijak Terbaik untuk Menemukan Makna Hidup”
Ditulis oleh George Kent
Halaman 287-288

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s