Bakat Tidaklah Dilahirkan

Standard

Kisah Polgar bersaudara, walau sangat inspiratif, masih menyisakan banyak keraguan tentang kekuatan kerja keras dan latihan terencana untuk mencapai keahlian kelas dunia. Mungkin hal itu berlaku di dunia catur, tetapi bagaimana dengan bidang-bidang lain? Bagaimana dengan cabang olahraga yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan fisik? Bukankah fisik ditentukan dari faktor-faktor genetik?

Earl Woods adalah bekas pemain bisbol dan anggota Baret Hijau. Sama seperti Laszlo Polgar, dia percaya bahwa latihan dini adalah sumber keunggulan kelas dunia. Menurut keyakinannya, latihan sejak dini sangat penting agar semua teknik yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli kelas dunia sudah terprogram di bawah sadar sehingga eksekusinya terlihat alami. Berbekal kepercayaan dan ambisinya tersebut, dia memutuskan menguji tesisnya terhadap anaknya sendiri, Tiger Woods.

Tiger adalah anak Earl dari istri keduanya, Kutilda. Ketika Tiger lahir, anak-anak Earl dari perkawinan sebelumnya sudah besar. Earl sendiri sudah pensiun dari dunia ketentaraan dan bekerja untuk perusahaan MacDonnell Douglas. Dua tahun sebelumnya, Earl berkenalan dengan olahraga golf dan segera tertarik. Dengan latihan yang sangat keras, Earl berhasil mencapai handicap satu digit. Earl juga suka mengajar, seperti pengakuannya dalam buku “Training a Tiger.” Singkat cerita, Earl memiliki semua yang dibutuhkan untuk membentuk seorang pegolf kelas dunia dari kecil: Kedisiplinan yang diperoleh dari pelatihan militernya, kesukaannya terhadap golf dan kegiatan mengajar, dan keyakinannya (dan juga pengalaman pribadinya) bahwa keahlian bisa diperoleh lewat latihan keras.

Maka dimulainya eksperimen tersebut sejak Tiger masih bau popok. Sebelum Tiger bisa berjalan atau berbicara, Tiger sudah dipersiapkan sebagai pemain golf. Setiap hari, Tiger didudukkan di kursinya dan menonton Earl memasukkan golf ke jala. Di hari Natal, persis lima hari sebelum ulang tahun pertamanya, Tiger mendapatkan hadiah tongkat golf pertama dari ayahnya. Usia satu setengah tahun, dia dibawa ke lapangan golf dan memulai latihannya. Sebelum bisa berhitung, Tiger Woods sudah bisa membedakan par 5 dan par 4.

Pada usia dua tahun delapan bulan, Woods sudah terbiasa dengan permainan bunker. Tidak lama kemudian dia berlatih di driving range dan putting green secara intensif beberapa jam setiap hari. Melihat kemajuan Tiger, Earl memutuskan menyewa pelatih profesional untuk mempercepat kemampuan Tiger saat dia berusia empat tahun. Dengan semua latihan tersebut, tidak heran Tiger akhirnya berhasil memenangkan turnamen pertamanya pada usia tiga belas tahun. Dunia kini tentu sudah mengenal nama Tiger Woods, termasuk mereka yang tidak suka bermain golf.

Earl tidak pernah percaya Tiger dilahirkan dengan bakat alami sebagai pemain golf. Kealamian Tiger dalam mengayun tongkat golf sering dianggap sebagai hadiah dari alam, tetapi sekarang kita tahu hal itu jauh dari benar. Ketika ditanyai rahasia keberhasilan Tiger, ayah dan anak tersebut selalu memberikan jawaban yang sama: Kerja keras. Kekuatan kerja keras Tiger Woods juga dialami Sam Snead, yang pernah dianggap sebagai pemain golf alami terbaik di masanya. Dalam wawancaranya dengan Golf Digest, dia mengatakan, “Orang-orang selalu mengatakan saya memiliki ayunan yang alami. Mereka berpikir saya bukanlah pekerja keras. Tetapi ketika saya masih muda, saya bermain dan berlatih setiap hari, dan berlatih lagi di malam hari dengan bantuan cahaya dari lampu mobil. Tangan saya berdarah. Tidak ada seorang pun yang bekerja lebih keras dari saya.”

———————————-
[Tambahan Penulis, setelah bertanya pada Bp. Yohanes Lauw, perihal istilah dalam dunia golf..]

Handicap: Satuan hitungan/keahlian bermain golf, maksimal 28 untuk pemula. Semakin kecil, semakin hebat, contoh saya terakhir bermain handicap 12. Tiger Woods bermain di handicap (-5) alias minus 5.

Bunker: Danau pasir yang dibuat untuk halangan. Tempat itu patut dihindari oleh para pemain golf karena sulit untuk mengeluarkan bola yang sudah masuk ke dalam bunker. Di tempat ini otomatis skor bertambah karena semakin banyak pukulan yang terbuang.

Driving Range: Tempat latihan untuk memukul bola golf.

Putting Green: Area tempat untuk memasukkan bola ke dalam hole/lubang (biasanya ada bendera). Didesain dengan rumput berbeda dari rumput-rumput yang ada di lapangan. Rumput khusus supaya bola dapat melaju.
———————————-

Kisah yang nyaris sama terjadi pada kakak beradik petenis Venus dan Serena Williams.

Richard sedang menonton televisi sambil memindah-mindahkan salurannya di rumah. Tiba-tiba di salah satu saluran, ia melihat cek sebesar USD 40.000 diberikan kepada seorang pemenang pertandingan tenis. Dengan membayangkan cek itulah ia beserta istrinya, Oracene, memutuskan masa depan kedua putri mereka: Venus yang lahir tanggal 17 Juni 1980 dan Serena pada tanggal 26 September 1981. Kedua putri mereka harus menjadi juara tenis. Tidak boleh kurang dari itu.

Richard tidak main-main. Untuk belajar cara melatih tenis, dia menonton video para petenis dunia, membaca buku-buku tentang tenis di perpustakaan, dan bertukar pikiran dengan para pelatih dan psikiatris. Dia mengajak istrinya berlatih tenis agar mereka bisa berlatih dengan Venus dan Serena. Namun berbeda dengan Earl Woods yang cukup mampu mencukupi kebutuhan putranya, mereka bukanlah keluarga berada. Setelah Serena lahir, mereka harus pindah ke Compton, sebuah wilayah kumuh yang berbahaya. Sesekali mereka harus menyaksikan insiden penembakan. Richard membuka usaha penyewaan jasa keamanan kecil-kecilan dan Oracene menjadi seorang perawat.

Di tengah kondisi tersebut, Venus memulai latihan tenisnya di usia empat tahun, enam bulan, dan satu hari; dan Serena di usia tiga tahun. Tidak mampu menyewa lapangan yang bagus, mereka berlatih di lapangan yang kumuh dan penuh lubang. Richard akan berdiri di sisi lapangan lain dan melemparkan lebih dari lima ratus bola tenis ke putri-putri kesayangannya. Setelah itu, dia akan mengulangi lagi dan lagi sampai mereka kelelahan. Saat musim liburan sekolah, mereka akan berlatih dari pukul delapan pagi hingga pukul tiga sore. Mereka memukul dan memukul terus, terkadang dengan menggunakan tongkat bisbol.

Untungnya, kedua putri tersebut tampak menikmati latihan itu. Mereka disiplin pergi ke lapangan setiap pagi, walau tanpa disuruh, bahkan terkadang sebelum orangtua mereka bangun. Richard, walau bukan pemain tenis profesional, sangat kreatif dalam memberi latihan. Dia selalu memikirkan teknik-teknik atau ide baru. Ketika mereka beranjak remaja, Richard mengajak Rick Macci, yang sebelumnya melatih petenis wanita terkenal seperti Mary Pierce dan Jennifer Capriati. Macci segera terpesona dengan ketrampilan kedua bersaudara tersebut. Diundanglah mereka belajar di akademinya di Florida.

Setelah itu, kedua putri ini mencetak sejarah demi sejarah di dunia tenis. Kita semua mengenal nama mereka dan sering menganggap bakat bawaanlah yang membawa mereka sejauh itu. Tetapi sekarang kita sudah tahu kebenarannya. Mereka semua sukses karena satu alasan utama: Kerja keras.

–It Pin Arifin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s