Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras, Bagian Kedua (Selesai)

Standard

Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras,
Bagian Kedua (Selesai)

Tentu saja sebagian cerita tersebut memang berdasar. Einstein memang sering terlihat gagap berbicara ketika masih kecil, tetapi hal itu bukan karena keterlambatan perkembangan mentalnya. Sebaliknya, Einstein kecil kelihatannya memiliki kecenderungan untuk berusaha berbicara dalam kalimat yang lengkap. Dari kecil dia juga sudah menunjukkan imajinasi luar biasa dan tertarik dengan cara kerja benda-benda.

Sementara fakta bahwa Einstein pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi memang benar, tetapi itu disebabkan karena Einstein dianggap belum cukup umur–kurang dua tahun dari persyaratan minimum. Ketika itu seorang profesor yang terkesan dengan kecerdasan Einstein mengundangnya untuk ikut dalam kuliahnya sambil menunggu dia cukup umur untuk diterima. Sementara cerita bahwa Einstein dilahirkan di lingkungan yang kurang mendukung juga tidak sepenuhnya benar. Memang benar keluarga Einstein adalah Yahudi yang hidup di Jerman, tetapi keluarga Einstein tidak pernah mendapatkan masalah berarti karena ras mereka. Mereka tinggal di apartemen yang cukup bagus di kota Ulm, bagian selatan Jerman, kemudian pindah ke Munich.

Keluarga Einstein yang harmonis dan berpendidikan tinggi sangat mendorong anak-anak mereka untuk belajar dan mengeksplorasi minat masing-masing. Einstein muda tidak pernah kekurangan buku-buku terbaik pada zamannya dan dia melahap semua bacaan yang disediakan untuknya. Pada umur 13 tahun Einstein sudah membaca buku “Critique of Pure Reason” karya Immanuel Kant. Dia juga mencintai musik dan kelak terkenal dengan permainan biolanya yang piawai.

Paman Einstein, Jacob adalah seorang insinyur berpengalaman. Pada tahun 1880, ayah Einstein dan Jacob membuka usaha patungan yang kemudian masuk ke bidang baru, teknik listrik. Selama puncak kejayaannya, perusahaan mereka mempekerjakan 200 karyawan. Einstein yang sering berkunjung ke pabrik tersebut tidak pernah ketinggalan perkembangan teknologi listrik terkini, apalagi ayah dan paman Einstein tidak segan-segan membelanjakan uang untuk membeli mesin-mesin hasil inovasi terbaru.

Jacob, dan paman Einstein yang lainnya, Caesar Koch, menyayangi Einstein dan membantu perkembangan mental Einstein muda dengan menjadi mentor dan membelikan anak yang penuh semangat belajar tersebut buku-buku matematika terbaru. Pada umur sepuluh tahun, Einstein berkenalan dengan Max Talmud yang kemudian banyak membantunya. Talmud adalah tamu keluarga dan masih berusia dua puluh satu tahun waktu itu. Kecerdasan dan keluasan pengetahuannya banyak membantu perkembangan mental Einstein, terutama di bidang matematika.

Ketika Einstein masuk ke perguruan tinggi, dia sudah menghabiskan belasan tahun mendalami matematika dengan minat tinggi dari orang-orang yang kompeten dan menaruh perhatian pada perkembangannya. Kegeniusan Einstein tidaklah muncul tiba-tiba sebagaimana banyak dipercaya orang selama ini. Dia mendapatkannya melalui ketekunan belajar selama belasan tahun, dan tak kalah pentingnya, dukungan dan bimbingan dari keluarga dan orang-orang yang mencintainya.

Kisah kedua genius besar tersebut, Newton dan Einstein, dengan jelas memperlihatkan betapa panjangnya persiapan yang harus mereka jalani sebelum mampu menghasilkan karya besar mereka. Mereka mungkin saja diberkati dengan kecerdasan di atas rata-rata, tetapi mereka tetap harus menekuni terlebih dahulu bidang mereka setidaknya selama belasan tahun. Kegeniusan mereka yang kita kenal selama ini tidak muncul begitu saja.

Tentu saja sekarang kita sudah melihat banyak contoh pentingnya kerja keras di semua bidang. Namun apakah kerja keras belaka cukup? Jelas tidak sesederhana itu. Siapa pun bisa menemukan contoh orang yang sudah bekerja keras belasan atau malah puluhan tahun dan yang didapatkan bukannya keahlian, melainkan penyakit dan kesengsaraan. Tidak semua kerja keras mampu membawa Anda ke tempat yang diinginkan. Kerja keras yang dibutuhkan adalah kerja keras dengan cara yang benar.

Selesai.

Disadur dari buku “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya”
Ditulis oleh It Pin Arifin
Halaman 60-63

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s