Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras, Bagian Pertama

Standard

Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras,
Bagian Pertama

Kita sudah melihat bagaimana kerja keras menjelaskan keberhasilan beberapa genius yang kita kenal, mulai dari bidang catur, golf, dan tenis. Namun ada satu bidang yang membuat genius sering dikorelasikan dengan IQ–yang tinggi rendahnya sering dikaitkan dengan gen. Bidang tersebut adalah ilmu fisika. Dua raksasa terbesar yang kita kenal di bidang fisika adalah Sir Isaac Newton dan Albert Einstein. Semua orang pasti sepakat mereka berdua adalah genius tulen. Karena mereka genius, mereka tentu tidak perlu bekerja keras, atau setidaknya tidak perlu bekerja sekeras yang lain. Benarkah semudah itu?

Ketika wabah sedang melanda kota Cambridge, Inggris pada tahun 1666, Isaac Newton memutuskan mengungsi sementara di luar kota. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan di taman, dia melihat sebuah apel jatuh. Apel tersebut jatuh begitu saja, seolah-olah diraih dari bawah oleh sebuah tangan yang tak terlihat. Versi lain dari cerita ini, yang lebih dramatis, apel tersebut jatuh ke atas kepala Newton ketika dia sedang tertidur di bawah sebatang pohon. Mana yang benar kita tidak tahu. Yang pasti, cerita tersebut dianggap menginspirasi Newton menemukan hukum gravitasi.

Cerita yang sungguh menarik dan pernah didengar semua orang itu turut membentuk kepercayaan kita bahwa penemuan hukum gravitasi oleh Newton adalah buah kegeniusannya yang muncul mendadak. Sesaat sebelum apel tersebut jatuh, hukum gravitasi belum ada. Apel jatuh; hukum gravitasi mulai menemukan bentuknya di benak Newton yang genius. Tidak perlu kerja keras bertahun-tahun untuk merumuskannya.

Sayangnya, cerita apel jatuh tersebut kemungkinan adalah cerita fiktif. Untuk merumuskan hukumnya yang terkenal itu, Newton harus menghabiskan waktu bertahun-tahun memenuhi seluruh catatannya dengan coretan tangan dan mengukur gerakan pendulum dengan teliti. Teori gravitasi tidaklah lahir begitu saja dalam momen singkat. Seperti pengakuan Newton sendiri, dia membutuhkan waktu sekitar dua puluh tahun sebelum berani merumuskan hukumnya dalam buku “Principia” yang diterbitkan pada tahun 1687.

Kita mengenal Newton sebagai sosok genius, tetapi di masa mudanya, teman-temannya lebih mengenalnya sebagai sosok yang luar biasa gigih. Newton menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berpikir dan berpikir. Tidak seorang pun berpikir sekeras Newton di zamannya. Bahkan bila dia tidak “dipaksa” melakukan percobaan untuk membuktikan teori-teorinya, teman-temannya khawatir dia akan meninggal karena belajar dan berpikir tanpa henti, dan lupa menjaga tubuhnya. Kegigihan Newton bisa dilihat ketika dia bertekad menguasai buku matematika karangan Rene Descartes, “Geometry”. Newton berkali-kali mengalami kesulitan memahami buku tersebut dan sering berhenti membaca setelah beberapa halaman berikutnya sampai menemukan kesulitan lagi. Demikian seterusnya hingga seluruh isi buku dikuasainya. Siapa bilang Newton tidak perlu belajar lebih giat dari kita?

Kita jelas harus mengakui Newton adalah seorang genius dan hampir semua orang sepakat menempatkannya sebagai ilmuwan paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Seperti yang ditulis oleh teman karibnya, Alexander Pope, di batu nisan Newton: Tuhan menciptakan Newton, dan terkuaklah hukum-hukum alam. Kita memang layak mengagumi karya-karya Newton. Namun semoga sekarang kita bisa mengaguminya karena buah kerja keras dan kegigihannya yang tak kunjung henti.

Ilmuwan yang berhak menerima tongkat estafet dari Newton tentu saja hanya satu orang, Albert Einstein. Dan sama seperti kisah Newton yang penuh romantisme, kisah Einstein tidak jauh berbeda. Einstein sering digambarkan tumbuh dalam lingkungan yang kurang bersahabat dan mengalami keterlambatan perkembangan mental ketika masih kecil karena belum bisa berbicara lancar sampai usia empat tahun. Einstein juga pernah ditolak masuk ke perguruan tinggi dan harus mencoba masuk lagi setahun kemudian. Tetapi entah mengapa, tiba-tiba dia berubah menjadi seorang genius ketika bekerja di kantor hak paten di Zurich.

Bersambung ke “Karya-karya Besar adalah Buah dari Kerja Keras, Bagian Kedua (Selesai)”

Disadur dari buku “Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya”
Ditulis oleh It Pin Arifin
Halaman 58-60

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s