Pemain Pengganti

Standard

“Angie, Ayah tahu kamu suka menyanyi,” begitu kata ayahnya, seorang pekerja pabrik mobil, kepada Angela Brown, “tapi, kamu harus punya karier cadangan untuk penopang.” Brown menuruti nasihat ayahnya. Dia meraih gelar dalam bidang sekretariat sebelum mendaftar ke Oakwood College di Huntsville, Alabama. Cita-citanya menjadi penyanyi gereja. Tetapi kemudian, dia terpikat oleh opera. Jadi, setelah wisuda, dia menuju ke Indiana University untuk berguru pada penyanyi sopran legendaris Virginia Zeani.

Suatu ketika, saat Brown dilanda keraguan pada diri sendiri, Zeani menantangnya: “Kalau kamu ingin menjadi pengganti Aretha Franklin, berkiprahlah sekarang juga, kamu tidak butuh pelajaran lagi,” begitu Brown mengingat kata-katanya. “Tapi, kalau kau ingin menjadi penyanyi sopran Verdian terbaik yang belum pernah disaksikan dunia, kamu harus tekun berlatih.” Dan dia pun tekun berlatih. Tiga kali dia bertanding mengikuti audisi di Metropolitan Opera National Council. Tiga kali juga dia gagal masuk ke babak final di New York. Lalu, pada 1997, pada usia tiga puluh tiga tahun, batas usia untuk mengikuti audisi penyanyi sopran, dia mencobanya sekali lagi. Dia mendaftar pada detik-detik terakhir dan bahkan tidak sempat latihan, dan berkata begini: “Paling-paling mereka menolakku, dan hal itu tidak lagi menyakitkan hatiku.” Dia punya kekuatan yang diperlukannya seandainya gagal.

Ternyata dia menang. Tetapi, berhasil menjejakkan kaki di New York barulah langkah pertama. Penyanyi tidak bisa langsung menjadi bintang. Dia memerlukan waktu tiga tahun lagi untuk menjadi pemain pengganti Met. Tetapi, menunggu di sayap sudah dianggapnya cukup bagus. Akhirnya, tiba juga gilirannya. Ketika penyanyi utama jatuh sakit, Brown mendapatkan peluang untuk menyanyi sebagai penyanyi utama dalam “Aida”. Dan New York Times memberitakan pertunjukan perdananya itu sebagai sebuah kemenangan besar.

Angela Brown, penyanyi sopran, yang sudah mempersiapkan diri selama dua puluh tahun, menjadi sensasi “dalam semalam” pada usia empat puluh tahun.

Guru di bidang kepemimpinan, mendiang Peter Drucker, pernah mengamati bahwa masalah dalam semua gagasan yang inovatif adalah bahwa semuanya dengan cepat menyusut menjadi sekadar kerja keras belaka. Sayangnya, kurangnya kemampuan untuk bekerja keraslah yang menyebabkan banyak orang yang menyerah jauh sebelum mencapai garis finis, bahkan juga ketika sedang mengejar sasaran yang penting bagi mereka. Di lain waktu, ketakutan akan gagal atau ketergantungan yang tidak sehat pada dukungan pihak luarlah yang menyebabkan orang menyerah dan tidak punya pengharapan.

Tetapi, kegigihan bukanlah sesuatu yang dikerjakan orang pada suatu hari, lalu tidak dilakukan pada hari berikutnya. Ini adalah ciri yang terlihat setiap hari yang didukung oleh tindakan yang dilakukan setiap hari, yang membuat kegigihan menjadi bagian yang penting dari Kehebatan Sehari-Hari.

–Joseph K. Vetter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s