Hei Nak, Aku Juga Mencintaimu

Standard

Anak-anakmu akan tumbuh menjadi seperti dirimu; karena itu jadikan dirimu seperti apa yang kau cita-citakan bagi mereka -David Bly

Kalau mau, aku bisa memberi selusin alasan. Aku lelah setelah seharian bekerja. Aku tidak siap. Atau aku lapar. Padahal yang benar adalah, waktu aku masuk ke ruang keluarga dan putraku yang berumur dua belas tahun memandangku sambil berkata, “Aku cinta Ayah,” aku tak tahu harus menjawab apa. Selama beberapa detik yang terasa lama, aku hanya dapat berdiri terpaku memandangnya, menunggu-nunggu tapi tak tahu apa yang ditunggu. “Dia pasti butuh bantuanku untuk mengerjakan PR-nya.” Itu yang pertama terlintas. Atau dia akan meminta uang sakunya lebih awal.

Akhirnya aku berkata, “Apa maumu?” Dia tertawa sambil berlari keluar ruangan. Tetapi aku berteriak, “Hai, apa-apaan ini?” Tanyaku sambil menuntut jawab. “Tidak, tidak,” balasnya sambil menyeringai “Guru kesehatan menyuruh kami mengatakan ‘aku cinta’ pada Ayah dan Ibu dan melihat bagaimana reaksinya. Ini semacam eksperimen.” Esok harinya aku menelepon gurunya untuk meminta informasi lebih banyak tentang eksperimen itu. Kecuali itu, jujur saja, aku ingin tahu bagaimana reaksi orangtua lainnya.

“Sebagian besar para ayah bereaksi sama dengan reaksi Anda,” kata guru anakku. “Waktu memberikan tugas eksperimen ini, saya tanya anak-anak bagaimana kira-kira reaksi orangtua mereka. Mereka semua tertawa. Malah ada yang bilang orangtuanya pasti akan kena serangan jantung waktu mendengar kata-kata itu.” Aku menduga beberapa orangtua pasti tidak suka gagasan ini. Bukankah tugas guru kesehatan adalah mengajar makanan yang bergizi atau cara menggosok gigi yang benar? Apa hubungannya mengucapkan “Aku cinta Ayah” dengan ilmu kesehatan? Bukankah itu ungkapan yang sangat pribadi antara orangtua dan anak-anaknya?

“Intinya adalah,” guru itu menjelaskan, “Merasa dicintai merupakan faktor penting dalam kesehatan. Merasa dicintai merupakan kebutuhan setiap manusia. Sayangnya, kita tidak terbiasa mengekspresikan perasaan-perasaan seperti itu.” Guru itu, seorang pria setengah baya, mengerti betapa sulitnya bagi sebagian dari kami untuk mengatakan hal-hal yang baik bagi kami. Katanya, ayahnya selalu mengungkapkan cintanya dengan kata-kata, tetapi dia sendiri tak pernah mengatakan cinta kepada ayahnya–tidak juga ketika ayahnya menjelang meninggal.

Banyak yang seperti itu di antara kita. Pria dan wanita yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh cinta, tetapi tidak pernah mengatakan “Aku mencintaimu” kepada anak-anak mereka. Hal itu menjadi alasan umum yang mendasari tingkah laku kita. Tetapi sebagai alasan, itu tidak kuat. Generasi kita mencurahkan banyak perhatian agar bisa mengungkapkan bermacam-macam perasaan, agar bisa menyatakan emosi-emosi kita dengan kata-kata. Kita tahu bahwa anak-anak membutuhkan lebih banyak dari kita, bukan hanya makanan di meja atau pakaian di lemari. Ciuman seorang ayah terasa sama manisnya di pipi anak laki-laki maupun anak perempuan.

Seharusnya kita tahu apa yang harus dilakukan ketika anak laki-laki kita yang berumur dua belas tahun memandang kita dan berkata, “Aku cinta Ayah.” Malam itu ketika anakku minta dicium sebelum tidur–ciuman yang rasanya semakin hari semakin singkat–aku memeluknya sedetik lebih lama. Dan sesaat sebelum dia melepaskan diri, aku berkata dengan tulus dan mantap, “Hei, aku juga mencintaimu.” Aku tidak tahu apakah dengan mengucapkannya kami berdua menjadi lebih sehat, tetapi yang jelas perasaanku menjadi lebih nyaman. Lain kali jika salah satu anakku berkata, “Aku cinta Ayah,” aku tidak perlu menunggu satu hari untuk memikirkan dan memberi tanggapan yang tepat.

–D.L. Stewart

[ Pernah dimuat di Warta GMS Pusat 18 Desember 2011 ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s